“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” 1 Yohanes 4:18

Kasih adalah satu kata yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Ada kalanya seseorang berkata, “Saya mengasihi dia,” tetapi kata-kata itu tidak pernah terasa aman di telinga orang yang mendengarnya. Bukan karena cinta itu tidak nyata, tetapi karena hubungan itu dipenuhi tekanan, tuntutan, dan bayangan ketakutan.
Ada orang yang setiap hari berjalan di rumahnya sendiri seperti seseorang yang menginjak lantai rapuh—takut membuat kesalahan kecil, takut suara pintu terlalu keras, takut salah menafsirkan ekspresi orang lain. Pada akhirnya, mereka lebih sibuk menenangkan kecemasan daripada merasakan sukacita dari sebuah hubungan.
Namun firman Tuhan berbicara sangat jelas: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan.” Kalimat ini bukan sekadar pepatah rohani yang indah, tetapi sebuah prinsip ilahi yang menembus sampai ke inti kehidupan manusia. Kasih yang sejati memiliki karakter yang begitu kuat, begitu murni, sehingga ia mampu mengusir ketakutan. Ia membongkar rasa cemas yang tersembunyi di lorong-lorong hati manusia. Ia melepaskan seseorang dari rasa terancam. Dan ia membentuk ruang dimana seseorang dapat menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihukum.
Kasih yang benar tidak pernah berdiri berdampingan dengan ketakutan. Jika ada rasa takut yang pekat, rasa bersalah yang berlebihan, atau tekanan yang menggunung, itu menandakan bahwa relasi tersebut tidak berjalan dalam cahaya kasih yang Allah maksudkan. Bukan berarti kasih manusia harus sempurna sejak awal—kita semua bertumbuh, kita semua sedang diproses. Tetapi arah dari kasih itu harus jelas: kasih itu menuntun pada kedamaian, bukan kecemasan; membawa ketenteraman, bukan ancaman.
Ketakutan dalam sebuah hubungan sering kali seperti asap yang tipis. Ia tidak selalu tampak, tetapi dapat dirasakan. Ia membuat seseorang berhati-hati berlebihan. Ia membentuk pola komunikasi yang penuh kewaspadaan. Ia melahirkan jarak yang sulit dijelaskan. Ketika seseorang menjaga diri terlalu ketat, itu mungkin karena ia tidak yakin apakah dirinya aman. Di sinilah firman Tuhan menantang kita untuk melihat lebih dalam: apakah kasih yang kita terima dan berikan benar-benar memerdekakan?
Ketika ketakutan hadir, itu menjadi pesan yang halus namun tegas bahwa ada sesuatu yang kurang benar. Mungkin ada pola kontrol yang tidak disadari. Mungkin ada kata-kata keras yang sering dilontarkan. Atau mungkin ada luka lama yang belum pulih. Ketakutan bukan hanya tanda kelemahan dalam diri seseorang; sering kali ketakutan adalah respon wajar terhadap lingkungan yang tidak aman secara emosional. Karena itu, firman Tuhan tidak mengabaikan ketakutan, tetapi menunjukkannya sebagai indikator yang jujur. Kita tidak dipanggil untuk pura-pura kuat atau menekan perasaan, tetapi untuk menilai kembali apakah relasi kita berakar dalam kasih yang sejati.
Allah tidak pernah menggunakan ketakutan untuk memaksa anak-anak-Nya taat. Ia tidak bermaksud membuat manusia sebagai robot. Ketaatan yang sejati tumbuh dari kasih, bukan dari ancaman. Demikian pula relasi antar-manusia seharusnya berjalan dalam pola yang sama. Kasih yang benar tidak menakut-nakuti atau mendominasi orang lain. Ia tidak mematahkan keberanian seseorang, tidak merendahkan martabatnya, tidak menuntut kesempurnaan yang mustahil. Kasih sejati belajar mendengar sebelum menuntut, memahami sebelum menilai, dan merangkul sebelum mengoreksi. Kasih yang benar adalah kasih yang memberi kesempatan dan kemampuan bagi orang lain. Di dalam suasana seperti itu, ketakutan pun melebur seperti kabut yang tersingkir oleh matahari pagi.
Lebih jauh lagi, kasih yang murni memiliki kuasa yang dahsyat untuk memadamkan api kemarahan dan pertengkaran. Banyak konflik bermula dari ketakutan: takut tidak dihargai, takut kehilangan posisi, takut dianggap lemah. Ketika ketakutan memegang kendali, seseorang mudah tersinggung, mudah tersulut, dan mudah curiga. Namun ketika kasih mengambil alih, reaksi yang tadinya keras berubah menjadi lebih lembut. Seseorang mulai memberi ruang untuk salah paham, karena ia tahu bahwa kasih lebih besar daripada kesalahan kecil. Suara yang tadinya meninggi mulai meluruh menjadi percakapan yang membangun.
Kasih juga menghapuskan pelecehan dalam segala bentuknya. Pelecehan—baik fisik, emosional, maupun verbal— selalu lahir dari keinginan untuk menguasai. Kasih sejati tidak pernah menguasai dengan cara demikian. Kasih mengarahkan seseorang untuk menjadi pelindung, bukan penindas. Ia tidak menekan; ia menopang. Ia tidak mempermalukan; ia memulihkan. Ketika kasih bekerja, pola-pola destruktif mulai tergusur oleh pola-pola yang sehat dan penuh hormat.
Dendam pun kehilangan tempatnya ketika kasih hadir. Dendam hanyalah bentuk ketakutan lain—ketakutan bahwa keadilan tidak akan ditegakkan, bahwa luka tidak akan diperhatikan. Tetapi kasih mengajarkan kita bahwa Allah melihat dan peduli. Ketika seseorang percaya bahwa ia dikasihi dan diperhatikan, ia tidak lagi merasa perlu membalas sakit hati dengan sakit hati. Kasih menyalakan pengampunan, bukan karena pengampunan itu mudah, tetapi karena kasih membuat hati seseorang lebih besar daripada lukanya.
Yang sering kita lupakan adalah bahwa kasih seperti ini bukan produk usaha manusia semata. Kasih seperti ini berasal dari Allah. “Karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita.” Kasih-Nya adalah sumber keberanian kita. Semakin seseorang mengenal kasih Allah, semakin ia disembuhkan dari ketakutan terdalamnya. Semakin ia dipenuhi oleh kasih yang sempurna, semakin ia mampu mengasihi orang lain dengan cara yang menenangkan, bukan menakutkan.
Kasih Allah menuntun kita untuk bertumbuh menjadi orang yang menjadi tempat aman bagi orang di sekitar kita, terutama dalam lingkungan gereja dan rumah tangga. Tempat aman bukan berarti selalu menyenangkan atau selalu berkata “ya” pada segala hal. Tempat aman berarti seseorang tahu bahwa ia akan diperlakukan dengan hormat, dihargai sebagai manusia, dan dikasihi tanpa syarat. Dalam atmosfer seperti itu, bahkan teguran pun terasa sebagai wujud perhatian, bukan ancaman.
Pagi ini, ayat di atas mengajak kita menengok ke dalam: apakah kasih yang kita bawa membuat orang lain semakin aman atau semakin tertekan? Apakah kehadiran kita menenangkan atau menimbulkan kecemasan? Apakah kata-kata kita membangun atau malah melukai? Kita tidak dipanggil untuk sempurna hari ini juga, tetapi kita dipanggil untuk terus bertumbuh dalam kasih yang menghilangkan ketakutan.
Biarlah kasih Kristus memenuhi hati kita hingga kita menjadi pembawa damai, penangkal ketegangan, pemadam api pertengkaran, dan sumber keberanian bagi orang-orang di sekitar kita. Sebab ketika kasih bekerja, ketakutan memudar dan kebencian menghilang. Ketika kasih memimpin, hubungan dipulihkan. Dan ketika kasih meresap dalam kehidupan kita, dunia yang kita sentuh pun akan merasakan kehangatan dari kasih yang sempurna itu—kasih yang berasal dari Allah sendiri.
Renungan nnya sangat Memberkati dan menyadarkan bahwa kami sebagai Hamba Tuhan masih banyak kekurangan dalam Mengasihi Tuhan dan orang2 didekat kami(Keluarga, Family, teman dekat)
SukaSuka