Natal membawa perasaan aman dan integritas

“Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: ”Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Matius‬ ‭2‬:‭7‬-‭8‬‬

Kisah kelahiran Yesus bukan hanya menceritakan sukacita, penyembahan, dan penantian yang tergenapi. Di balik terangnya bintang dan sorak para gembala, ada satu figur yang gelisah—seorang raja yang duduk di atas takhta tetapi hidup dalam ketakutan. Herodes menerima berita kelahiran Sang Raja, namun alih-alih bersukacita, ia justru merasa posisinya terancam. Reaksi itu lahir dari hati yang rapuh—hati yang insecure, tidak aman.

Insecurity atau perasaan tidak aman adalah keadaan batin yang merasa tidak cukup. Tidak cukup berkuasa, tidak cukup berharga, tidak cukup diterima. Orang yang hidup dalam ketidakamanan seperti ini cenderung mudah cemburu, mudah tersinggung, penuh kecurigaan, dan selalu membutuhkan pembuktian dari orang lain. Mereka membandingkan diri, menuntut pengakuan, dan sering kali bertindak tidak sesuai dengan prinsip yang mereka sendiri yakini.

Herodes adalah gambaran ekstrem dari kondisi ini. Ketika ia mendengar bahwa “seorang Raja” telah lahir, ketakutan langsung menguasai dirinya. Ia tidak dapat menerima bahwa ada kekuasaan lain yang lebih besar daripada dirinya. Insecurity-nya mendorongnya mengorbankan integritas: ia memanggil orang-orang majus secara diam-diam, bertanya-tanya dengan licik, bahkan mengatakan bahwa ia juga ingin “menyembah”—padahal yang ia inginkan adalah menyingkirkan Anak itu.

Insecurity selalu membuka pintu kompromi terhadap integritas. Hati yang tidak aman akan menggunakan tipu muslihat ketika merasa terancam, bahkan oleh hal-hal yang seharusnya membawa damai. Herodes tidak pernah benar-benar memeriksa apakah ia sedang berperang melawan rencana Allah. Ia hanya mencoba mempertahankan dirinya dengan cara snooping around atau memata-matai.

Dalam banyak hal, kita juga dapat jatuh ke dalam jebakan yang sama. Ketika kita merasa kurang dalam penampilan, karier, pelayanan, atau pengakuan, kita bisa saja mulai kehilangan kejujuran, mulai memaksakan pendapat, mulai membandingkan diri dengan orang lain, atau bahkan meremehkan mereka demi menutupi kelemahan kita. Insecurity bukan soal kekurangan fakta, tetapi soal cara melihat diri sendiri.

Namun berbeda dengan Herodes, orang percaya memiliki dasar keamanan yang tidak tergoyahkan. Kita aman—secure—bukan karena prestasi atau posisi kita, tetapi karena kasih karunia Allah. Keselamatan dalam Kristus memberi kita identitas yang tetap, harga diri yang teguh, dan jaminan yang tidak akan berubah oleh situasi hidup.

Kesadaran ini membangun integritas. Ketika hati kita tenang, kita tidak perlu memanipulasi keadaan. Ketika kita sadar bahwa kita diterima oleh Allah, kita tidak perlu mencari pembuktian dari manusia. Ketika kita percaya bahwa hidup kita berada dalam tangan-Nya, kita tidak perlu mengamankan diri dengan cara yang tidak benar.

Integritas bertumbuh dari hati yang aman. Orang yang secure bisa jujur, bisa mengakui kelemahan tanpa malu, bisa bersukacita atas pencapaian orang lain, dan bisa melayani tanpa motif tersembunyi. Ia tidak perlu bersaing, tidak perlu menutupi, dan tidak perlu menyakiti. Hatinya utuh karena ia tahu dirinya dikasihi.

Setiap Natal kita kembali diingatkan: Raja yang sejati datang bukan untuk merebut takhta dunia, tetapi untuk membawa damai ke dalam hati manusia. Ia datang bukan untuk menyingkirkan orang lain, tetapi untuk memulihkan. Ia tidak mengamankan diri-Nya, melainkan memberikan diri-Nya. Di dalam Dia kita belajar bahwa keamanan sejati bukan berasal dari apa yang kita miliki, tetapi dari siapa yang memegang hidup kita.

Biarlah renungan ini menolong kita memeriksa diri:

  • Adakah insecurity yang diam-diam membuat kita tidak jujur?
  • Adakah rasa kurang yang membuat kita membandingkan diri atau mencurigai orang lain?

Mari kembali kepada Yesus, sumber identitas kita. Di dalam Dia kita aman, dan karena itu kita dapat berjalan dengan integritas.

Kiranya hati yang telah dijaga oleh kasih karunia sanggup membawa kita hidup benar—bukan karena kita kuat, tetapi karena kita sudah dimenangkan oleh Dia yang lahir untuk menebus kita.

Doa Penutup:

Tuhan Yesus, kami bersyukur karena Engkau datang ke dunia untuk memberi kami keamanan yang sejati. Engkau tidak membangun kerajaan-Mu dengan ketakutan, tetapi dengan kasih dan kebenaran. Tolonglah kami agar tidak hidup seperti Herodes yang dikuasai rasa tidak aman, tetapi ajar kami bersandar pada anugerah-Mu.

Lembutkan hati kami ketika kami mulai membandingkan diri, ketika kami merasa kurang, atau ketika kami tergoda mengorbankan integritas demi kepentingan pribadi. Ingatkan kami bahwa identitas kami ada di dalam Engkau—bukan pada prestasi, kemampuan, atau penilaian manusia.

Teguhkan langkah kami agar kami dapat hidup jujur, rendah hati, dan tulus. Bentuklah karakter kami supaya apa pun yang kami lakukan mencerminkan damai-Mu. Kiranya hidup kami diisi dengan keberanian untuk melakukan yang benar, karena kami tahu Engkau menyertai dan memegang hidup kami.

Dalam nama Yesus Kristus, Raja yang datang membawa damai, kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar