“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”Yakobus 1:19–20

Kita hidup di zaman ketika kata-kata berhamburan tanpa saringan. Media sosial, grup percakapan, dan ruang publik dipenuhi pendapat, kritik, dan reaksi spontan. Banyak orang merasa perlu berbicara cepat agar tidak “ketinggalan suara.” Namun Alkitab justru mengajarkan kebalikan dari naluri zaman ini: bukan asal omong.
Yakobus menulis kepada jemaat yang sedang menghadapi tekanan, konflik, dan ketegangan sosial. Dalam situasi seperti itu, lidah menjadi alat yang paling mudah melukai. Karena itu Yakobus tidak memulai dengan larangan keras, tetapi dengan urutan yang sangat bijaksana: cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah. Urutan ini bukan kebetulan. Mendengar lebih dahulu akan menolong kita berbicara dengan benar; berbicara dengan benar akan menolong kita mengendalikan amarah dan dosa.
Cepat mendengar berarti memberi ruang bagi orang lain—bukan hanya telinganya, tetapi juga hatinya. Mendengar di sini bukan sekadar menunggu giliran berbicara, melainkan sungguh-sungguh memahami. Banyak konflik tidak pernah membesar seandainya kita mau mendengar dengan rendah hati. Ketika kita mendengar, kita mengakui bahwa kita tidak selalu memiliki seluruh kebenaran. Sikap ini adalah bentuk kerendahan hati yang sangat berkenan di hadapan Allah.
Lambat berbicara tidak berarti bungkam atau pasif. Ini berarti berhati-hati. Kata-kata memiliki kuasa membangun sekaligus menghancurkan. Karena itu Paulus mengingatkan:
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun” (Efesus 4:29).
Perkataan “kotor” dalam ayat ini berarti perkataan yang jahat. Dengan demikian, itu bukan hanya “omong kotor”. Bukan hanya apakah yang saya katakan benar secara tata bahasa, tetapi juga apakah yang saya katakan membangun orang lain. Kebenaran yang disampaikan tanpa kasih sering kali berubah menjadi senjata, bukan kasih. Apa yang kita sampaikan bisa mematikan semangat atau membunuh spirit orang lain.
Lebih jauh lagi, Kolose 4:6 menasihatkan agar perkataan kita selalu “ramah, dibumbui dengan garam,” sehingga kita tahu bagaimana menjawab setiap orang, Garam jika dipakai dengan jumlah yang tepat memberi rasa, sehingga makanan tidak hambar. Ini menyiratkan ucapan yang bijaksana, enak didengar, dan tidak membosankan, tapi berisi kebenaran. Ketajaman kata tanpa hikmat bisa melukai, tetapi kelembutan tanpa kebenaran bisa menyesatkan. Hikmat Kristen terletak pada keseimbangan: jujur, tetapi penuh kasih; tegas, tetapi tetap ramah.
Yakobus kemudian mengaitkan lidah dengan amarah. “Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Ini adalah peringatan keras. Banyak orang merasa amarahnya dibenarkan karena merasa benar. Namun Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa amarah manusia—yang lahir dari ego, luka batin, atau keinginan menguasai—tidak pernah menghasilkan kebenaran Allah. Bahkan ketika isu yang dibela adalah benar, cara yang salah akan merusak kesaksian tentang kasih Tuhan.
Amsal 15:1 berkata, “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan buah kedewasaan rohani. Dibutuhkan kekuatan batin untuk menahan lidah, menunda reaksi, dan memilih kata yang tepat. Dunia memuji orang yang lantang dan keras, tetapi Tuhan menghargai orang yang mampu mengendalikan diri dan menghindari dosa.
Renungan ini mengajak kita bercermin di tahun yang baru: berapa banyak kata yang kita ucapkan dalam sehari yang sebenarnya tidak perlu? Berapa banyak yang diucapkan karena emosi, bukan karena kasih? Dalam keluarga, gereja, dan masyarakat, sering kali luka terdalam bukan berasal dari tindakan, tetapi dari kata-kata yang diucapkan tanpa pertimbangan.
“Bukan asal omong” berarti membawa setiap kata ke hadapan Tuhan sebelum keluar dari mulut kita. Ini adalah latihan rohani yang terus-menerus. Kita belajar berhenti sejenak, mendengar lebih lama, berdoa dalam hati, lalu berbicara dengan maksud membangun. “Asal omong” memang gampang, tetapi menghindarinya adalah sulit. Tetapi, jika kata-kata kita dipimpin oleh Roh Kudus, lidah yang dulu melukai dapat menjadi alat penyembuhan.
Kiranya kita dikenal bukan sebagai orang yang paling cepat berkomentar, tetapi sebagai orang yang perkataannya memberi hidup, menenangkan jiwa, dan memuliakan Tuhan.
Doa Penutup:
Tuhan yang penuh hikmat, ajarlah kami untuk cepat mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah.
Kuduskan lidah kami agar setiap kata yang keluar membangun, bukan melukai; membawa damai, bukan pertengkaran.
Berilah kami kerendahan hati untuk mendengar,dan keberanian untuk berbicara dengan kasih dan kebenaran.
Biarlah hidup kami menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.