Komunikasi yang Mematikan dan yang Menghidupkan

“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”
— ‭‭Amsal‬ ‭18‬:‭21‬‬

Di zaman digital, komunikasi melalui media sosial menjadi suatu hal yang berbahaya. Kata-kata menyebar tanpa konteks di dunia maya, tanpa wajah, tanpa relasi. Orang merasa bebas melukai karena tidak melihat dampaknya secara langsung. Namun di hadapan Tuhan, setiap kata yang dilontarkan secara apa pin tetap diperhitungkan. Media hanyalah alat; hati manusialah sumbernya.

Komunikasi adalah salah satu anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada manusia. Melalui kata-kata, manusia dapat menghibur, mengajar, membangun, dan menguatkan. Namun, anugerah yang sama juga dapat berubah menjadi alat penghancur. Alkitab tidak pernah meremehkan kuasa komunikasi. Justru sebaliknya, Alkitab dengan jujur menyingkapkan betapa mematikan perkataan manusia ketika terlepas dari kasih dan kebenaran Allah.

Amsal 18:21 berkata, “Hidup dan mati dikuasai lidah.” Ayat ini bukan kiasan yang berlebihan. Banyak orang tidak mati secara fisik, tetapi jiwanya terluka parah—bahkan hancur—oleh kata-kata. Ucapan yang merendahkan, mempermalukan, menghakimi, atau mengancam dapat mematikan harapan, merusak iman, dan mematahkan semangat hidup seseorang.

Komunikasi yang mematikan tidak selalu muncul dalam bentuk perundungan (bullying) yang kasar yang terang-terangan. Ia bisa muncul dalam sindiran halus, kritik yang “dibungkus kebenaran,” atau nasihat yang disampaikan tanpa empati. Bahkan ayat Alkitab pun dapat menjadi alat pemukul jika dipakai tanpa kasih. Ketika kebenaran dilepaskan dari kasih, kebenaran itu tidak lagi menyembuhkan, melainkan melukai.

Yesus berkali-kali berhadapan dengan komunikasi yang mematikan. Ia menerima cemoohan, fitnah, dan penghakiman—bukan hanya dari masyarakat umum, tetapi juga dari pemuka agama. Mereka fasih berbicara tentang hukum Taurat, tetapi miskin kasih. Kata-kata mereka benar secara doktrin, namun mematikan secara rohani. Yesus menegur keras sikap ini karena tidak mencerminkan hati Allah.

Sebaliknya, komunikasi Yesus selalu menghidupkan. Ketika Ia berbicara kepada perempuan Samaria, Ia tidak memulai dengan dosa, tetapi dengan kebutuhan akan air hidup. Ketika Ia berhadapan dengan perempuan yang tertangkap berzina, Ia tidak menyangkal dosanya, tetapi Ia lebih dahulu memulihkan martabatnya. Ketika Ia memanggil Zakheus, Ia tidak menuduh, melainkan mengundang diri-Nya sendiri masuk ke rumah orang berdosa itu. Inilah kabar baik: kebenaran yang disampaikan dengan kasih, dan kasih yang tidak mengorbankan kebenaran.

Komunikasi yang menghidupkan seharusnya meniru kabar baik yang disampaikan oleh Yesus. Injil bukan sekadar informasi teologis; Injil adalah berita yang membangkitkan harapan. Yesus tidak datang membawa ancaman, melainkan undangan. Ia tidak memulai dengan penghakiman, melainkan dengan panggilan untuk bertobat dan hidup baru. Kata-kata-Nya membawa terang, bukan kegelapan; membawa kehidupan, bukan kematian.

Masalahnya, sebagai orang percaya, kita sering tanpa sadar mempraktikkan komunikasi yang mematikan dengan memegang pedang dan merasa sedang membela kebenaran. Kita cepat berbicara, lambat mendengar, dan mudah tersulut emosi. Kita lupa bahwa amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran Allah (Yakobus 1:20). Kita lupa bahwa tujuan komunikasi Kristen bukan memenangkan argumen, melainkan memenangkan hati.

Renungan ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya:

  • Apakah cara saya berbicara mencerminkan Injil Kristus?
  • Apakah kata-kata saya sudah memberi hidup atau justru mematikan semangat orang lain?
  • Apakah saya lebih dikenal sebagai pembawa kabar baik, atau sebagai pengkritik yang tajam?

Mengikuti Yesus berarti juga belajar berbicara seperti Yesus. Ini bukan perkara teknik komunikasi, melainkan pembaruan hati. Bukan sekadar lip service atau bermanis-manis. Ketika hati sudah dipenuhi oleh Roh Kudus, lidah akan mengalirkan kehidupan. Ketika kita sungguh memahami bahwa kita sendiri hidup hanya oleh anugerah Tuhan, kita tidak akan mematikan orang lain dengan kata-kata, karena kita sadar bahwa mereka adalah milik Tuhan.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi pembawa kabar baik—di rumah, di gereja, di masyarakat, dan di dunia digital. Dunia sudah terlalu penuh dengan komunikasi yang mematikan. Dunia merindukan suara yang menghidupkan.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau adalah Firman yang menjadi manusia, Firman yang membawa hidup dan terang bagi dunia.

Ampuni kami bila kata-kata kami sering melukai, menghakimi, dan mematikan harapan sesama.

Perbaruilah hati kami oleh kasih karunia-Mu, agar ucapan kami mencerminkan Injil yang menghidupkan.

Ajarlah kami berbicara dengan kebenaran dan kelembutan, menyampaikan kasih tanpa mengorbankan kebenaran.

Jadikan kami alat-Mu untuk membangun, bukan merobohkan; menguatkan, bukan melemahkan.

Kiranya melalui setiap kata yang kami ucapkan, nama-Mu dimuliakan dan hidup dinyatakan.

Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar