Hindari Perdebatan yang Bodoh

“Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar — ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭23-24‬‬

Pernahkah Anda menonton perdebatan antar calon pemimpin negara di TV? Banyak orang mengira bahwa berdebat adalah tanda kecerdasan dan keberanian. Siapa yang paling lantang, paling tajam, dan paling mampu mematahkan argumen lawan sering dianggap sebagai pemenang. Itu adalah pandangan manusia.

Alkitab mengajarkan hikmat yang berbeda. Rasul Paulus dengan tegas menasihati Timotius agar berhati-hati dalam berdebat, untuk menghindari argumen yang bodoh. Nasihat ini tidak lahir dari sikap anti-intelektual atau ketakutan terhadap diskusi, melainkan dari pemahaman rohani tentang dampak perdebatan yang tidak sehat dalam gereja-Nya.

Dalam dua ayat sebelumnya, Paulus memberi Timotius perintah tentang apa yang harus “dihindari” dan “dikejar.” Di sini, Paulus sekali lagi mengingatkan Timotius untuk menghindari pertengkaran dangkal dan tidak berarti yang telah diperingatkannya dalam ayat 16.

“Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.”
— ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭16‬‬

Percakapan yang tidak berharga ini menyebabkan argumen-argumen yang muncul mengarah pada lebih banyak pertengkaran. Itu hanya membuat saudara-saudara seiman saling bertentangan tanpa alasan yang baik.

Perdebatan tentang masalah yang tidak penting bisa dengan cepat berubah menjadi permusuhan, meracuni tubuh Kristus seperti halnya gangren menyerang tubuh fisik manusia.

Mengingat betapa seriusnya akibat perdebatan yang tidak sehat, dalam ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭24‬‬ Paulus mengingatkan Timotius bahwa kelembutan dan kesabaran adalah obatnya.

Sebenarnya, dalam 1 Timotius, Paulus sudah menyerukan para pemimpin di gereja untuk berdoa tanpa bertengkar (1 Timotius 2:8), mengajarkan bahwa para penatua tidak boleh bertengkar (1 Timotius 3:3), dan mengajarkan bahwa tanda guru palsu adalah seringnya mereka bertengkar mengenai kata-kata:

“ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga,” — ‭‭1 Timotius‬ ‭6‬:‭4‬‬

Selain itu, Paulus telah memanggil Timotius untuk menjadi “pelayan Kristus Yesus yang baik” (1 Timotius 4:6). Paulus sendiri menggambarkan dirinya sebagai “hamba Allah” (Titus 1:1). Kata yang diterjemahkan sebagai “hamba” atau “pelayan” di sini adalah doulos, yang secara harfiah berarti budak. Timotius harus memandang dirinya sebagai hamba Tuhan, dan tidak bertengkar dalam bekerja. Tuhan, Sang Majikan, tidak menghendaki kekacauan dalam kerajaan-Nya.

Soal-soal (argumen) yang bodoh dalam ‭‭2 Timotius‬ ‭2‬:‭23 bukan berarti pertanyaan yang sederhana atau orang yang kurang pengetahuan. Tetapi itu adalah perdebatan yang tidak membangun, tidak menghasilkan pertobatan, dan tidak membawa orang lebih dekat kepada kebenaran.

Paulus menegaskan bahwa membicarakan hal-hal seperti ini hanya menimbulkan pertengkaran. Tidak ada buah rohani di dalamnya—yang ada hanya rasa panas, emosi, dan luka hati—yang makin lama makin parah.

Dalam Titus 3:9, Paulus kembali mengulang peringatan yang sama: hindarilah perdebatan yang tidak berguna dan sia-sia. Pengulangan ini menunjukkan betapa seriusnya masalah ini dalam kehidupan orang Kristen. Gereja dan keluarga bisa hancur dari dalam karena pertengkaran yang terus menerus yang dipelihara dengan ego besar.

Mengapa argumen bodoh begitu berbahaya?

Pertama, karena argumen seperti ini meningkatkan konflik, bukan pemahaman. Tujuan diam-diamnya sering kali bukan mencari kebenaran, melainkan pemuasan ego: memenangkan perdebatan. Ketika itu terjadi, relasi menjadi korban. Suara orang lain tidak lagi perlu didengar, hanya perlu dilawan. Hati setiap orang menjadi keras, bukan terbuka. Kasih menjadi padam, dan kebencian makin tumbuh.

Kedua, argumen bodoh mengalihkan fokus dari panggilan yang lebih penting. Waktu, energi, dan perhatian yang seharusnya dipakai untuk mengasihi, melayani, dan bertumbuh dalam kesalehan, justru habis dalam perdebatan yang tidak produktif. Kita bisa benar secara intelektual, tetapi gagal total secara rohani. Dalam kelarga Kristen dan gereja yang mengalami hal ini akan timbul kekacauan yang membuat orang lain enggan untuk menjadi orang percaya.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius, tidak hanya menyatakan apa yang harus dihindari, tetapi juga menunjukkan apa yang harus dilakukan sebagai gantinya. Dalam ayat-ayat setelahnya, ia menasihati agar hamba Tuhan bersikap ramah, sabar, cakap mengajar, dan dengan lemah lembut menuntun mereka yang menentang kebenaran. Artinya, kebenaran tetap penting, tetapi cara menyampaikannya sama pentingnya.

Yesus sendiri menjadi teladan utama. Ia tidak menjawab setiap jebakan yang dilontarkan kepada-Nya. Kadang Ia diam, kadang Ia bertanya balik, dan kadang Ia menjawab dengan perumpamaan. Yesus tidak pernah terjebak dalam argumen bodoh, karena tujuan-Nya bukan memenangkan perdebatan, melainkan menyelamatkan manusia.

Di zaman sekarang, godaan untuk terlibat dalam argumen bodoh semakin besar. Media sosial memberi panggung bagi siapa saja untuk mengeluarkan pendapat tanpa konteks dan tanpa relasi. Banyak perdebatan antar tokoh Kristen berlangsung tanpa niat untuk saling mendengar dan saling belajar. Kata-kata menjadi senjata, bukan sarana untuk membangun kerajaan Tuhan. Di sinilah nasihat Paulus menjadi sangat relevan.

Menghindari argumen bodoh bukan berarti lari dari kebenaran. Ini berarti memilih pertempuran yang benar dengan cara yang benar: melaksanakan hukum kasih. Karena tujuan tidak menghalalkan cara, keputusan harus diambil dengan kesadaran untuk mengutamakan damai sejahtera, pertumbuhan rohani, dan kesaksian hidup.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan, apakah kita boleh berdebat, tetapi apakah perdebatan ini memuliakan Tuhan dan membangun sesama orang beriman. Hikmat sejati tidak selalu terdengar keras. Sering kali, hikmat berbicara melalui keheningan, kesabaran, dan penguasaan diri, demi kemuliaan Tuhan.

“Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan.” — ‭‭Amsal‬ ‭12‬:‭18

Doa Penutup

Tuhan yang penuh hikmat, Engkau mengenal hati kami yang mudah terseret oleh ego, emosi, dan keinginan untuk merasa benar. Ampuni kami bila kami sering terlibat dalam argumen yang tidak membangun dan melukai hubungan.

Ajarlah kami untuk membedakan kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Berikan kami kerendahan hati untuk menghindari perdebatan yang sia-sia, dan hikmat untuk menyatakan kebenaran dengan kasih dan kelembutan dalam keluarga dan gereja.

Tuntunlah lidah dan hati kami, agar hidup kami memancarkan damai sejahtera-Mu. Kiranya melalui sikap dan perkataan kami, nama-Mu dimuliakan.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar