“Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya dan ia ditenggelamkan ke dalam laut.” – Matius 18:6

Kita hidup di zaman yang sangat menjunjung tinggi kebebasan berekspresi. Banyak orang merasa bahwa selama yang diucapkan itu benar, maka cara penyampaiannya tidak lagi penting. Ungkapan seperti “Saya hanya jujur” atau “Saya berhak menyampaikan pendapat” sering dipakai untuk membenarkan kata-kata yang tajam, sinis, atau merendahkan.
Alkitab berulang kali menegaskan bahwa perkataan bukanlah hal sepele. Kata-kata memiliki kuasa untuk membangun, tetapi juga kuasa untuk merusak. Tidak sedikit relasi hancur, komunitas gereja terpecah, bahkan iman seseorang terguncang bukan karena kebohongan, melainkan karena cara kebenaran itu disampaikan.
Yesus sendiri memberi peringatan keras tentang hal ini dalam ayat di atas. Kata “menyesatkan” di sini juga dapat diterjemahkan sebagai “menjadi batu sandungan”. Bukan selalu berarti mengajarkan ajaran sesat, tetapi juga mencakup sikap, tindakan, dan perkataan yang membuat orang lain jatuh atau tersandung dalam perjalanan imannya.
Alkitab tidak pernah memisahkan kebebasan dari kasih. Rasul Paulus menulis:
“Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” (1 Korintus 10:23)
Perkataan yang benar secara isi, bisa menjadi salah secara rohani. Ketepatan teologis tidak otomatis berarti kesetiaan moral. Di sinilah muncul konsep batu sandungan: sesuatu yang sah, tetapi disampaikan tanpa hikmat, sehingga melukai atau menjatuhkan orang lain.
Alkitab dengan jujur mengakui bahwa perkataan kita bisa memicu dosa orang lain:
“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” (Amsal 15:1)
Nada, waktu, dan sikap hati sering lebih menentukan dampak perkataan daripada isi kalimatnya. Kritik yang benar tetapi disampaikan dengan nada merendahkan dapat memicu kemarahan. Teguran yang tepat tetapi diucapkan di depan umum dapat mempermalukan dan mengeraskan hati.
Alkitab, khususnya dalam Efesus 6:4 dan Kolose 3:21 juga memerintahkan para orang tua (khususnya bapa) untuk tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak mereka, tetapi mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan, yang berarti menghindari perlakuan kasar, tidak adil, atau memprovokasi yang menyebabkan anak sakit hati, benci, atau memberontak. Sebaliknya, membesarkan mereka dengan disiplin dan ajaran yang benar agar mereka bertumbuh dalam kasih dan takut akan Tuhan.
Dalam konteks ini, setiap orang yang berbicara dipanggil untuk hikmat moral:
- Apakah perkataanku membangun atau sekadar melampiaskan emosi?
- Apakah aku berbicara demi kebaikan orang lain atau demi pembenaran diri?
- Apakah ini waktu yang tepat, tempat yang tepat, dan cara yang tepat?
Pada pihak yang lain, Alkitab juga tidak membebaskan pendengar dari tanggung jawab moral. Bahwa seseorang tersinggung atau marah tidak otomatis berarti pembicara sepenuhnya salah.
Yakobus menasihati:
“Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” (Yakobus 1:19)
Rasa tersinggung, terluka, atau jengkel tidak memberi kita izin untuk bereaksi dengan kemarahan, kata-kata kasar, atau kebencian. Sama seperti godaan tidak membenarkan dosa, adanya provokasi orang lain tidak membenarkan kehilangan penguasaan diri.
Di sinilah tanggung jawab moral pendengar diuji:
- Apakah aku menjaga hatiku?
- Apakah aku membalas dengan kasih atau dengan ego?
- Apakah aku mau mendengar kebenaran meski disampaikan dengan cara yang kurang sempurna?
Adalah kenyataan bahwa dalam komunikasi antar umat Tuhan, terutama dalam keluarga dan gereja, sering kali ada dua kegagalan sekaligus. Yang berbicara gagal dalam kasih, Yang mendengar gagal dalam penguasaan diri. Alkitab memanggil keduanya kepada pertobatan, bukan untuk saling menyalahkan.
Rasul Paulus menasihati jemaat:
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun.” (Efesus 4:29)
Dan di saat yang sama:
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan… hendaklah dibuang dari antara kamu.” (Efesus 4:31)
Pagi ini kita belayar bahwa cara berbicara, baik secara lisan maupun tertulis, yang membuat orang lain tersandung bukan hanya soal kata-kata kasar, tetapi juga soal kebenaran yang disampaikan tanpa kasih, kritik tanpa empati, dan kebebasan tanpa tanggung jawab.
Kristus tidak pernah mengorbankan kebenaran demi kenyamanan, tetapi Ia juga tidak pernah mengorbankan kasih demi memenangkan perdebatan. Di salib, kebenaran dan kasih bertemu dengan sempurna. Kiranya kita bisa belajar berbicara seperti Kristus:
- tegas tanpa kejam,
- jujur tanpa melukai,
- benar tanpa menjadi batu sandungan.
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
— Filipi 4:8
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, ampuni kami bila perkataan kami sering lebih mencerminkan keinginan untuk menang daripada kerinduan untuk mengasihi. Ajarlah kami berbicara dengan hikmat, kepekaan, dan kerendahan hati, agar kata-kata kami tidak menjadi batu sandungan bagi sesama.
Beri kami juga hati yang lembut saat mendengar, agar kami tidak cepat tersinggung, tidak mudah marah, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bentuklah kami menjadi umat yang mencerminkan karakter Kristus, baik dalam berkata-kata maupun dalam merespons.
Kiranya setiap perkataan yang keluar dari mulut kami berkenan di hadapan-Mu dan membawa kehidupan bagi orang lain. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.