“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:2

Banyak orang yang setelah menjadi orang percaya kemudian mengalami perubahan karakter dan cara hidup. Sebagai contoh, Paulus (Saulus dari Tarsus) adalah seorang Farisi yang dididik di bawah bimbingan Gamaliel, seorang guru Farisi terkemuka. Sebagai Farisi, ia menganggap ajaran Kristen sesat dan karena itu ia memimpin penganiayaan terhadap umat Kristen, termasuk Stefanus yang dirajam sampai mati. Pengalamannya di jalan Damsyik mengubahnya secara radikal, membuatnya menjadi Paulus, yang mengabarkan kasih karunia Kristus dan kebenaran yang berasal dari iman.
Pada pihak lain, banyak orang yang tidak mengalami pengalaman yang berarti setelah bertobat. Bahkan, setelah bertahun-tahun menjadi orabg Kristen, segala apa yang dikerjakan mereka, cara hidup mereka dan tingkah laku mereka tidak banyak berubah. Mereka mungkin tidak sadar bahwa seharusnya setiap orang Kristen sehatusnya mengalami perubahan karena melalui belas kasihan Allah mereka sudah disembuhkan dari sakit rohani mereka. Yesus pernah berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Markus 2:17). Apakah orang-orang itu belum benar-benar disembuhkan?
Setiap orang yang percaya sudah menerima pengampunan, dan itu adalah kesembuhan Ilahi. Tetapi, tidak semua orang sadar akan implikasi dan tanggung jawab mereka sesudah sembuh. Ini seperti orang yang sudah sembuh dari sakit perut, tetapi tidak pernah mengubah apa yang dimakannya.
Roma 12:1-2 menjawab pertanyaan, “Bagaimana seharusnya kita menanggapi belas kasihan Allah yang besar kepada kita?” Jawabannya adalah menjadi korban yang hidup dan bernapas, menggunakan hidup kita untuk melayani Allah sebagai tindakan penyembahan yang berkelanjutan. Itulah yang masuk akal. Ini bukanlah cara untuk mendapatkan keselamatan, tetapi respons alami yang seharusnya kita miliki setelah diselamatkan.
Untuk melakukan ini, kita perlu melepaskan diri dari pola mementingkan diri sendiri yang ada di dunia dan mengubah pikiran kita agar dapat memahami apa yang Allah inginkan. Kemudian kita akan tahu apa hidup itu dan bagaimana harus hidup.
Surat Paulus kepada jemaat di Roma mencapai satu titik balik yang penting pada pasal 12. Setelah sebelas pasal penuh dengan penjelasan tentang dosa manusia, anugerah Allah, pembenaran oleh iman, dan karya keselamatan yang sepenuhnya berasal dari belas kasihan Tuhan, Paulus kini beralih dari doktrin keselamatan ke respons manusia. Ia tidak memulai dengan tuntutan moral, melainkan dengan dasar yang kokoh: “demi kemurahan Allah.”
Seluruh panggilan hidup Kristen berakar pada apa yang telah Allah lakukan terlebih dahulu, bukan pada apa yang manusia mampu capai.
Dalam Roma 12, Paulus menggambarkan penyembahan kepada Allah kita sebagai menjadi korban yang hidup bagi Allah kita, melepaskan pencarian apa yang kita inginkan dari hidup dan belajar untuk mengetahui dan melayani apa yang Allah inginkan. Itu dimulai dengan menggunakan karunia rohani kita untuk melayani satu sama lain di gereja. Daftar perintah Paulus menggambarkan gaya hidup yang mengesampingkan diri sendiri.
Salah satu dari tujuan hidup kita sebagai orang Kristen adalah untuk saling mengasihi dan mengangkat satu sama lain.
Paulus mendesak orang percaya untuk menanggapi anugerah Allah dengan mempersembahkan seluruh hidup—tubuh, pikiran, kehendak, dan arah hidup—sebagai korban yang hidup. Ini bukan pengorbanan yang mati dan berakhir di altar, melainkan pengorbanan yang terus bernapas, berjalan, bekerja, dan berelasi setiap hari.
Hidup Kristen bukan sekadar perubahan perilaku sesekali, melainkan penyerahan diri yang utuh dan berkelanjutan.
Langkah pertama dari penyerahan itu bersifat negatif sekaligus radikal: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini.” Dunia yang dimaksud Paulus adalah sistem nilai yang terbentuk dari manusia yang hidup tanpa Allah. Inilah pola hidup “default” manusia berdosa—cara hidup manusia yang asli dalam berpikir, menilai, dan menginginkan sesuatu tanpa mempertimbangkan kehendak Sang Pencipta.
Rasul Yohanes merangkum pola hidup duniawi ini sebagai “keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.” Dengan naluri alamiah, kita semua tertarik pada kenikmatan, kepemilikan, dan pengakuan. Kita mengejar kenyamanan, prestasi, status, dan rasa unggul atas orang lain—sering kali bukan karena itu sungguh dibutuhkan, melainkan karena itulah ukuran keberhasilan yang dunia ajarkan. Tanpa disadari, kita mulai menilai hidup berdasarkan apa yang kita miliki, seberapa dihormati kita, dan seberapa besar kendali yang kita rasakan.
Namun Paulus tidak berhenti pada larangan untuk menjadi orang duniawi. Ia melanjutkan dengan panggilan yang jauh lebih dalam: “berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Perubahan yang Tuhan kehendaki bukan sekadar kosmetik rohani, bukan hanya perilaku yang diperhalus atau kebiasaan yang dipoles. Perubahan sejati dimulai dari pusat kendali hidup manusia: cara berpikir. Pikiran yang diperbarui bukan pikiran yang lebih religius, melainkan pikiran yang terus menerus ditundukkan kepada kebenaran Allah.
Pembaharuan budi berarti belajar melihat realitas dengan kacamata Allah. Nilai-nilai lama ditantang, asumsi lama diuji, dan tujuan hidup lama dipertanyakan. Dunia bertanya, “Apa yang membuatku bahagia?” Injil bertanya, “Apa yang memuliakan Tuhan?” Dunia bertanya, “Apa keuntunganku?” Injil bertanya, “Apa kehendak Allah?” Inilah perubahan arah yang halus namun menentukan.
Tujuan dari pembaharuan ini bukan kebingungan rohani, melainkan kepekaan rohani. Paulus berkata bahwa dengan pikiran yang diperbarui, kita dapat membedakan kehendak Allah—apa yang baik, berkenan, dan sempurna.
Kehendak Tuhan bukanlah teka-teki mistis yang hanya bisa dipecahkan oleh segelintir orang rohani. Ia dikenali melalui hidup yang melalui Roh Kudus diselaraskan dengan kebenaran-Nya, melalui hati yang rela dibentuk, dan melalui pikiran yang terus diperbarui oleh firman-Nya.
Tuhan tidak selalu memanggil kita keluar dari “dunia” secara fisik. Ia mungkin tetap mempercayakan kesenangan, harta, atau posisi tertentu. Namun Ia mengubah cara kita memandang semuanya itu. Seperti apa yang terjadi pada pemungut cukai Zakheus (Lukas 19:8), pertanyaan hidup kita bergeser: bukan lagi “apa yang bisa saya dapatkan dari hidup ini?”, melainkan “apa yang Tuhan ingin kerjakan melalui hidup saya?” Bukan lagi “apa yang paling menguntungkan saya?”, melainkan “apa yang baik, berkenan, dan sempurna di mata Allah?”
Perubahan yang dikehendaki Tuhan belum tentu berupa perubahan kegiatan hidup, melainkan perubahan pandangan hidup.
Hidup yang dipersembahkan kepada Allah adalah hidup yang terus belajar berkata: “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Dan di situlah, justru, manusia menemukan makna yang sejati. Hidup baru yang makin lama makin dipakai untuk memuliakan Dia, dan bukan untuk diri sendiri.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh belas kasihan, kami bersyukur karena Engkau terlebih dahulu mengasihi kami dan menyelamatkan kami oleh anugerah-Mu. Ajarlah kami untuk tidak hidup menurut pola dunia ini, meskipun godaannya begitu kuat dan tampak wajar. Perbaruilah budi kami oleh kebenaran firman-Mu. Ubah cara kami berpikir, menilai, dan menginginkan sesuatu, agar hidup kami semakin selaras dengan kehendak-Mu. Bimbing kami untuk membedakan apa yang baik, yang berkenan kepada-Mu, dan yang sempurna menurut tujuan-Mu. Kami serahkan hidup kami sebagai korban yang hidup di hadapan-Mu. Pakailah kami bukan untuk kemuliaan diri sendiri, melainkan untuk kemuliaan nama-Mu. Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.