“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Yakobus 1:19–20

Dalam tradisi Kristen, dikenal apa yang disebut Tujuh Dosa Mematikan—sebuah daftar yang sudah lama dipakai untuk menolong orang percaya mengenali kecenderungan hati yang berbahaya. Kesombongan, keserakahan, hawa nafsu, iri hati, kerakusan, kemarahan, dan kemalasan dianggap sebagai akar dari banyak dosa lain. Daftar ini bukanlah ayat Alkitab, melainkan hasil permenungan Gereja mula-mula yang kemudian dirumuskan secara sistematis oleh Paus Gregorius I pada abad ke-6.
Namun istilah “mematikan” sering disalahpahami. Ia tidak menunjuk pada kehilangan keselamatan, seolah-olah orang percaya bisa begitu saja terlempar dari anugerah Allah. Yang dimaksud “mematikan” adalah daya rusaknya: mematikan kepekaan rohani, mematikan relasi, mematikan kesaksian, dan sering kali mematikan ketaatan yang seharusnya kita hidupi.
Dari ketujuh dosa itu, kemarahan mungkin yang paling mudah kita maklumi. Kita hidup di dunia yang melelahkan, penuh tekanan, ketidakadilan, dan kekecewaan. Marah terasa manusiawi, bahkan kadang terasa benar. Tetapi firman Tuhan dengan tegas menegur kita: “Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”
Yakobus memberi nasihat yang sederhana, namun sangat menantang: cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat untuk marah. Urutan ini bukan kebetulan. Orang yang tidak mau mendengar biasanya akan cepat berbicara, dan orang yang cepat berbicara hampir selalu mudah tersulut amarah. Kemarahan sering kali bukan ledakan tiba-tiba, melainkan buah dari hati yang tidak mau berhenti sejenak di hadapan Allah.
Di sinilah kisah Musa menjadi cermin yang jujur bagi kita. Musa dikenal sebagai seorang yang lembut hatinya, pemimpin besar yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Ia memimpin bangsa yang keras kepala, bersabar menghadapi keluhan demi keluhan, dan berkali-kali berdiri di hadapan Allah untuk membela umat yang layak dihukum. Namun justru Musa jatuh pada titik yang sangat manusiawi: amarah yang tidak terkendali.
Di Meriba, Musa memukul batu ketika Tuhan memerintahkannya untuk berbicara. Kata-kata yang keluar dari mulutnya lahir dari frustrasi, bukan dari iman. Tindakannya tampak sepele, tetapi dampaknya besar. Musa tidak diizinkan Tuhan untuk masuk ke Tanah Perjanjian.
“Tetapi Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun: ”Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”” Bilangan 20:12
Apakah Musa ditolak Allah? Tidak. Apakah keselamatannya dibatalkan? Sama sekali tidak. Tetapi ketidaktaatan yang lahir dari kemarahan membawa konsekuensi nyata. Musa tetap hamba Tuhan, tetap dikasihi, tetapi perannya dibatasi. Janji Allah tetap digenapi, namun Musa tidak menikmatinya sepenuhnya di dunia ini.
Di sinilah kita belajar bahwa anugerah keselamatan Tuhan bukan izin untuk hidup ceroboh. Keselamatan tidak bergantung pada kestabilan emosi kita, tetapi ketaatan kita menentukan bagaimana kita berjalan dalam panggilan Allah di dunia ini. Kemarahan yang dibiarkan tidak selalu menghancurkan iman secara langsung, tetapi sering kali mengikis kepekaan rohani sedikit demi sedikit.
Yakobus tidak berkata bahwa orang percaya tidak boleh pernah marah. Ia berkata, “lambatlah untuk marah.” Beri ruang bagi Roh Kudus untuk bekerja. Berhenti sejenak. Dengarkan lebih dulu. Biarkan firman Tuhan membentuk respons, bukan sekadar emosi.
Kemarahan mempunyai konsekuensi, bukan karena Allah keras, tetapi karena Ia kudus dan mahakasih. Ia tidak dapat membiarkan kita melukai diri sendiri dan orang lain. Ia rindu agar hidup kita mencerminkan kebenaran-Nya, bahkan—dan terutama—di saat tekanan memuncak.
Kiranya firman ini menolong kita hidup dengan kewaspadaan yang rendah hati: bersandar pada anugerah, tetapi berjalan dalam ketaatan.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, kami mengaku bahwa hati kami sering cepat bereaksi, mulut kami cepat berbicara, dan amarah kami kerap mendahului ketaatan.
Ampuni kami ketika emosi kami lebih menonjol daripada kebenaran-Mu. Ajarlah kami untuk cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat untuk marah.
Bentuklah hati kami oleh Roh-Mu, agar dalam tekanan hidup kami tetap memuliakan Engkau.
Kami bersyukur atas anugerah yang menyelamatkan, dan kami rindu hidup yang berkenan di hadapan-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.Amin.