“Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Mazmur 111:10

Mazmur 111 ditutup dengan satu pernyataan yang tajam dan mendasar: permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan. Bukan kekayaan, bukan pengetahuan, bukan pengalaman hidup. Ini berarti, setinggi apa pun pencapaian manusia, jika rasa takut akan Tuhan hilang, maka hikmat sejati belum pernah benar-benar dimulai.
Pertanyaan ini menjadi sangat relevan ketika kita menoleh kepada salah satu tokoh terbesar dalam Alkitab: Raja Salomo. Tidak ada raja Israel yang menerima berkat sedemikian besar seperti Salomo. Ia dianugerahi hikmat yang melampaui manusia pada zamannya, kekayaan yang tak tertandingi, kedamaian nasional, serta kehormatan di mata bangsa-bangsa. Bahkan, Salomo memulai pemerintahannya dengan hati yang benar—ia meminta hikmat, bukan kekuasaan atau umur panjang.
Namun justru di sinilah ironi yang menyedihkan itu muncul. Salomo yang memulai dengan takut akan Tuhan, perlahan-lahan kehilangan rasa gentarnya. Kitab 1 Raja-raja mencatat bahwa hatinya berpaling ketika ia menjadi tua. Bukan karena Tuhan berhenti memberkati, melainkan karena Salomo berhenti menjaga hatinya. Ia mengizinkan cinta kepada banyak istri asing membentuk arah hidupnya, hingga kesetiaannya kepada Tuhan tergerus secara halus namun pasti.
Kisah Salomo mengungkapkan satu kebenaran yang tidak nyaman: berkat terbesar pun tidak mampu menjaga hati manusia. Hikmat intelektual tidak otomatis menjadi hikmat rohani. Kekayaan tidak menumbuhkan ketaatan. Bahkan pengalaman rohani yang nyata di masa lalu tidak menjamin kesetiaan di masa kini. Ketika takut akan Tuhan tidak lagi menjadi fondasi, hikmat berubah menjadi kemampuan otak, dan ibadah berubah menjadi formalitas. Iman lalu diukur dengan “masuk akal” atau tidak.
Salomo bukan kehilangan pengetahuan tentang Tuhan; ia kehilangan rasa takut akan Tuhan. Ia tetap membangun, tetap memerintah, tetap menulis, namun hatinya tidak lagi sepenuhnya tunduk. Di sinilah Mazmur 111:10 berbicara dengan keras: hikmat tidak diukur dari apa yang kita miliki atau ketahui, melainkan dari Siapa yang kita takuti dan hormati dalam hidup ini, sekalipun Ia tidak terlihat oleh mata.
Kisah ini juga menjadi cermin bagi kita. Kita hidup di zaman di mana iman sering diukur dari seberapa diberkati seseorang: sehat, berhasil, mapan, dan dihormati. Namun Alkitab justru mengingatkan bahwa berkat tanpa rasa takut akan Tuhan dapat menjadi jebakan rohani. Semakin diberkati, semakin besar pula godaan untuk merasa cukup tanpa Tuhan.
Takut akan Tuhan bukan ketakutan yang menjauhkan, melainkan kesadaran terus-menerus bahwa hidup ini berada di bawah otoritas-Nya. Tanpa kesadaran ini, kasih karunia disalahartikan sebagai izin untuk hidup sembarangan. Salomo adalah peringatan bahwa seseorang dapat memulai hidup dengan sangat rohani, namun mengakhiri perjalanan dengan hati yang terbagi.
Mazmur ini ditutup dengan pujian: “Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Hanya orang yang hidup dalam takut akan Tuhan yang mampu memuji-Nya bukan hanya di awal, tetapi sampai akhir. Hikmat sejati bukan tentang bagaimana kita memulai, melainkan bagaimana kita tetap setia ketika Tuhan memberkati.
Maka pertanyaan “masih adakah rasa takut akan Tuhan?” bukan ditujukan kepada dunia di luar gereja, melainkan kepada hati kita sendiri. Apakah kita masih gentar terhadap firman-Nya ketika hidup sedang baik-baik saja? Atau kita mulai menyerupai Salomo—diberkati, tetapi perlahan kehilangan ketundukan?
Kiranya Tuhan memelihara kita bukan hanya dengan berkat, tetapi dengan hati yang takut akan Dia, sampai akhir hidup kita.
Doa Penutup
Tuhan yang kudus dan setia, kami belajar dari kisah Salomo bahwa berkat-Mu yang besar tidak menjamin hati yang setia.
Jagalah kami ketika hidup kami berhasil,ketika doa-doa kami dijawab, dan ketika kami merasa aman.
Tanamkan dalam diri kami rasa takut yang kudus kepada-Mu—takut yang menuntun kami untuk hidup rendah hati, taat, dan setia sampai akhir.
Jangan biarkan hati kami terbagi, atau kasih kami kepada-Mu memudar oleh kenyamanan dunia.
Ajarlah kami memuji Engkau bukan hanya di awal perjalanan,tetapi sepanjang hidup kami.
Di dalam nama Tuhan kami, kami berdoa. Amin.