Jangan Lupakan Tuhan dalam Kepanikan

“Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: ”Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ”Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.”Markus‬ ‭4‬:‭38‬-‭39‬‬

Semua orang pernah merasa takut. Rasa takut adalah bagian dari kemanusiaan kita. Takut akan bahaya, kehilangan, penyakit, masa depan, atau ketidakpastian adalah respons yang wajar. Bahkan murid-murid Yesus—orang-orang yang telah berjalan bersama-Nya, melihat mujizat-Nya, dan mendengar pengajaran-Nya—tidak kebal terhadap rasa takut. Namun, apa yang terjadi di perahu itu bukan sekadar takut. Mereka panik.

Panik adalah bentuk ekstrem dari rasa takut. Ia datang mendadak, meluap, dan sering kali melumpuhkan. Dalam kepanikan, akal sehat melemah, tubuh bereaksi keras, dan hati kehilangan pijakan. Detak jantung meningkat, napas terasa sesak, keringat dingin mengalir, dan pikiran dipenuhi oleh satu kesimpulan: kita akan binasa.

Perhatikan kata-kata murid-murid itu:

“Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”

Ini bukan hanya seruan minta tolong. Ini adalah tuduhan yang lahir dari kepanikan. Dalam kondisi panik, mereka tidak sekadar takut pada badai—mereka mulai meragukan karakter Yesus. Kepanikan membuat mereka lupa siapa yang ada di perahu bersama mereka.

Yesus sedang tidur. Bukan karena Ia tidak peduli, tetapi karena Ia berdaulat. Tidur-Nya bukan tanda ketidakhadiran, melainkan ketenangan ilahi di tengah kekacauan. Badai tidak mengejutkan-Nya, ombak tidak mengancam-Nya, dan situasi tidak pernah berada di luar kendali-Nya.

Sering kali, kepanikan kita muncul bukan karena Tuhan tidak hadir, tetapi karena kita kehilangan fokus pada kehadiran-Nya.

Yesus bangun, menghardik angin, dan menenangkan danau. Lalu Ia menegur murid-murid-Nya dengan dua pertanyaan yang sangat menusuk:

“Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

Yesus tidak menegur mereka karena takut—tetapi karena takut yang berkembang menjadi ketidakpercayaan. Ada perbedaan besar antara takut yang membawa kita kepada Tuhan dan panik yang menjauhkan kita dari Tuhan. Takut bisa menjadi alarm yang mendorong kita berdoa. Panik, sebaliknya, sering membuat kita bertindak seolah-olah Tuhan tidak ada atau tidak peduli.

Di sinilah peran iman menjadi sangat penting.

Pertama, iman mengubah fokus. Iman tidak selalu menghilangkan badai, tetapi iman mengarahkan mata kita kepada Tuhan yang berdaulat atas badai. Dalam kepanikan, fokus kita menyempit pada ancaman. Dalam iman, fokus kita diperluas kepada Pribadi yang memegang kendali. Iman mengingatkan kita bahwa keadaan tidak menentukan kebenaran; Tuhanlah yang menentukan.

Kedua, iman menjadi perisai. Iman bukan sekadar perasaan tenang, melainkan kepercayaan yang berakar pada siapa Tuhan itu—setia, berdaulat, dan baik. Iman melindungi hati kita dari kesimpulan tergesa-gesa yang lahir dari panik. Dengan iman, kita dapat berkata: bahaya ini nyata, tetapi Tuhan tetap memerintah.

Yesus tidak berkata, “Mengapa perahu tak terkendali?”

Ia bertanya, “Mengapa kamu tidak percaya?”

Pertanyaan itu masih relevan hari ini. Ketika hidup terasa seperti perahu kecil di tengah badai besar—krisis kesehatan, tekanan ekonomi, konflik keluarga, atau kecemasan akan masa depan—kita dipanggil bukan untuk menyangkal bahaya, tetapi untuk tidak melupakan Tuhan di tengah kepanikan.

Badai mungkin tidak langsung reda. Yesus mungkin tampak “diam”. Tetapi kehadiran-Nya tidak pernah absen, dan kuasa-Nya tidak pernah berkurang. Iman mengajar kita untuk bersandar, bukan mengendalikan; mempercayai, bukan menuduh; berharap, bukan panik.

Kiranya kita belajar berkata dalam hati yang gelisah:

Tuhan ada di perahu ini. Aku tidak sendirian.

Doa Penutup

Tuhan yang Mahakuasa, kami mengakui bahwa kami mudah takut dan sering kali panik. Dalam badai hidup, kami kerap lupa siapa Engkau dan meragukan kepedulian-Mu. Ampunilah kami.

Ajarlah kami untuk percaya, bukan hanya saat danau teduh, tetapi juga ketika angin bertiup kencang. Tenangkan hati kami, arahkan fokus kami kepada-Mu, dan jadikan iman kami perisai di tengah ketakutan.

Kami menyerahkan setiap kecemasan, kepanikan, dan ketidakpastian ke dalam tangan-Mu. Engkaulah Tuhan yang berdaulat, setia, dan tidak pernah meninggalkan umat-Mu.

Di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan atas segala badai, kami berdoa.

Amin.

Tinggalkan komentar