Kekuatan Tuhan dalam Kelemahan

“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” 2 Korintus 12:10

Dunia modern memuja kekuatan, fisik maupun mental. Kita diajar sejak kecil untuk menjadi mandiri, tangguh, tidak bergantung pada siapa pun. Kelemahan sering dipandang sebagai kegagalan, aib, atau tanda bahwa seorang Kristen kurang iman. Namun Rasul Paulus justru menabrak logika ini. Ia dengan berani menyatakan sebuah paradoks rohani yang radikal: “Jika aku lemah, maka aku kuat.”

Paulus bukanlah orang yang asing terhadap penderitaan batin. Catatan Alkitab dan surat-suratnya menunjukkan bahwa ia mengalami tekanan psikologis yang nyata—kekhawatiran, ketakutan, kesedihan, dan beban pelayanan yang berat. Dalam 2 Korintus, ia mengaku pernah “tertekan berat, bahkan putus asa akan hidup” (2 Korintus 1:8). Ia dipenjara, dianiaya, difitnah, disalahpahami, dan hidup dalam ketidakpastian. Namun yang mengherankan, semua itu tidak menghancurkan imannya—justru memperdalamnya.

Paulus tidak menyangkal penderitaan, dan ia juga tidak menganggapnya sebagai ilusi rohani. Ia merasakannya sepenuhnya. Tetapi responsnya bukanlah keputusasaan, melainkan ketergantungan yang semakin dalam kepada Tuhan.

Ketika ia memohon agar “duri dalam daging” itu diambil, Tuhan tidak menghilangkannya. Sebaliknya, Tuhan berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:7-9). Di titik inilah perspektif Paulus berubah. Kelemahan manusia bukan lagi musuh iman, melainkan tempat bekerja bagi kuasa Allah.

Kita sering berpikir bahwa Tuhan bekerja paling efektif melalui orang-orang yang kuat, percaya diri, dan berhasil. Tetapi Alkitab berkali-kali menunjukkan pola yang berbeda. Tuhan justru menyatakan kemuliaan-Nya melalui bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan itu berasal dari Allah dan bukan dari kita.

Kelemahan manusia membuka ruang bagi kekuatan ilahi. Ketika kita tidak lagi mengandalkan diri sendiri, di situlah iman bekerja dengan murni.

Surat Paulus kepada jemaat Filipi juga memperlihatkan hal ini dengan jelas. Ditulis dari penjara, dalam kondisi yang secara manusiawi penuh tekanan, Paulus justru berbicara tentang damai sejahtera dan sukacita. Ia menasihati jemaat untuk membawa segala kekhawatiran kepada Tuhan dalam doa dan ucapan syukur, dengan janji bahwa damai sejahtera Allah yang melampaui akal akan memelihara hati dan pikiran mereka. Damai itu bukan hasil situasi yang membaik, melainkan hasil kehadiran Allah yang setia.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi‬ ‭4‬:‭13‬‬

Inilah pesan penting bagi kita hari ini. Ketika kita menghadapi kelemahan—baik fisik, emosional, rohani, maupun situasional—kita sering merasa gagal sebagai orang percaya. Padahal, justru di situlah kita diundang untuk mengalami Tuhan secara lebih dalam.

Kelemahan mematahkan ilusi kemandirian dan membawa kita kembali kepada sumber hidup yang sejati.

Merangkul penderitaan bukan berarti mencintai rasa sakit atau menolak pertolongan. Paulus sendiri berdoa, menangis, dan mencari penghiburan. Namun ia menolak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk menjauh dari Tuhan. Ia melihatnya sebagai sarana pembentukan, tempat kasih karunia Allah bekerja dengan paling nyata. Dalam penderitaan, iman diuji; dalam kelemahan, pengharapan dimurnikan.

Bagi orang percaya, kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk menguasai keadaan, melainkan keberanian untuk bersandar sepenuhnya kepada Tuhan di tengah keadaan yang tidak terkendali. Kita kuat bukan karena kita sanggup, tetapi karena Tuhan setia. Kita teguh bukan karena iman kita besar, tetapi karena objek iman kita—Kristus—tidak pernah berubah.

Kiranya kita belajar, seperti Paulus, untuk berkata dengan rendah hati dan iman: “Aku rela dalam kelemahanku, sebab di sanalah kuasa Tuhan nyata.”

Doaw Penutup

Tuhan yang penuh kasih dan setia, Kami datang kepada-Mu dengan segala kelemahan kami—yang sering kami sembunyikan, kami sangkali, atau kami sesali. Ajarlah kami melihat kelemahan bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai undangan untuk bergantung sepenuhnya kepada-Mu.

Ketika kami lelah, takut, dan merasa tidak sanggup, ingatkan kami bahwa kasih karunia-Mu selalu cukup. Nyatakanlah kuasa-Mu dalam hidup kami, bukan supaya kami dibanggakan, tetapi supaya nama-Mu dimuliakan. Kuatkan iman kami untuk tetap berharap, bahkan ketika jalan terasa gelap.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.

Amin.

Tinggalkan komentar