“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55:8-9

Ada satu kesamaan antara orang lanjut usia dan keluarga muda: keduanya sama-sama memikirkan masa depan, hanya dari arah yang berbeda. Yang satu melihat ke belakang sambil bertanya, “Ke mana arah dunia ini?” Yang lain memandang ke depan sambil cemas, “Dunia seperti apa yang akan diwarisi anak-anak kami?” Di tengah pertanyaan itu, kekuatiran mudah tumbuh—terutama ketika dunia tampak semakin rapuh.
Berita tentang politik yang saling menjatuhkan, ekonomi yang tak menentu, perang yang tak kunjung usai, serta penyakit yang datang tanpa peringatan membuat banyak orang merasa kehilangan pijakan. Bagi sebagian lansia, semua ini menimbulkan rasa lelah dan kecewa: “Dulu dunia tidak seperti ini.” Bagi keluarga muda, muncul rasa takut: “Bagaimana masa depan kami nanti?”
Di tengah kegelisahan itu, Tuhan berbicara melalui firman-Nya:
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.”
Firman ini tidak mengatakan bahwa Tuhan tidak peduli pada kekuatiran kita. Sebaliknya, Tuhan sedang mengundang kita untuk meletakkan kekuatiran itu di tempat yang benar. Ia mengingatkan bahwa hidup ini tidak pernah dimaksudkan untuk ditopang oleh kemampuan manusia untuk memahami segalanya, melainkan oleh kepercayaan kepada Allah yang berdaulat.
Sebagai manusia, kita terbiasa menilai segala sesuatu dari apa yang terlihat. Ketika keadaan memburuk, kita segera menyimpulkan bahwa segalanya akan berakhir buruk. Kita lupa bahwa keterbatasan pandangan kita bukan tanda kelemahan iman, melainkan kenyataan sebagai makhluk ciptaan. Justru karena kita terbatas, kita membutuhkan Tuhan yang tidak terbatas.
Yesaya berkata bahwa jalan Tuhan setinggi langit dari bumi. Artinya, bukan hanya lebih kuat, tetapi lebih bijaksana, lebih menyeluruh, dan lebih penuh tujuan. Tuhan tidak bereaksi terhadap peristiwa dunia seperti manusia. Ia tidak panik, tidak terburu-buru, dan tidak kehilangan kendali. Bahkan di tengah kekacauan, kehendak-Nya tetap berjalan dengan pasti.
Bagi lansia, firman ini menghibur dengan cara yang dalam. Hidup yang telah dijalani puluhan tahun mungkin penuh liku—ada doa yang terjawab, ada yang tidak; ada harapan yang terwujud, ada yang pupus. Namun ketika menoleh ke belakang, kita sering baru menyadari: Tuhan setia memimpin, bahkan saat kita tidak memahami arah-Nya. Apa yang dulu terasa membingungkan, kini sering terlihat sebagai bagian dari pemeliharaan-Nya.
Bagi keluarga muda, firman ini menjadi penopang yang kokoh. Anak-anak kita bertumbuh di dunia yang berbeda dari dunia masa kecil kita. Kita tidak bisa menjamin masa depan mereka bebas dari penderitaan. Tetapi kita bisa mempercayakan mereka kepada Tuhan yang jalannya lebih tinggi dari kecemasan orang tua mana pun. Keselamatan dan pemeliharaan mereka tidak bergantung sepenuhnya pada kecakapan kita, melainkan pada kesetiaan Tuhan.
Iman Kristen tidak menjanjikan hidup tanpa badai. Namun iman mengajarkan bahwa tidak ada badai yang berada di luar kendali Allah. Kekuatiran sering muncul ketika kita lupa bahwa Tuhan bukan hanya hadir, tetapi juga berdaulat. Ia bukan sekadar menemani kita di tengah kekacauan; Ia memimpin sejarah menuju tujuan-Nya yang mulia.
Dalam dunia yang terus berubah, firman Tuhan tetap sama. Jalan-Nya tidak pernah melenceng. Rancangan-Nya tidak pernah gagal. Dan umat-Nya—baik yang telah berjalan panjang maupun yang baru memulai—dipelihara oleh kasih karunia yang sama.
Karena itu, mengatasi kekuatiran bukan berarti kita harus bisa memahami rencana Tuhan secara utuh. Mengatasi kekuatiran berarti belajar berkata dengan rendah hati: “Tuhan, aku tidak mengerti jalan-Mu, tetapi aku percaya kepada-Mu.” Inilah iman yang dewasa—iman yang bersandar pada siapa Tuhan itu, bukan pada kemampuan kita membaca masa depan. Iman yang mencari dan berseru kepada Tuhan sepanjang hidup di dunia.
“Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” Yesaya 55:6o
Doa Penutup
Tuhan yang berdaulat dan penuh kasih,
Kami datang kepada-Mu dengan hati yang sering gelisah melihat keadaan dunia ini. Kami mengakui bahwa kami mudah takut ketika masa depan tampak tidak pasti—baik kami yang telah lanjut usia, maupun kami yang sedang membesarkan anak-anak.
Terima kasih karena Engkau mengingatkan kami bahwa jalan-Mu lebih tinggi dari jalan kami. Ajarlah kami untuk berserah, bukan karena kami menyerah, tetapi karena kami percaya kepada-Mu. Tenangkan hati kami, kuatkan iman kami, dan tuntun langkah kami hari demi hari.
Kami menyerahkan hidup kami, keluarga kami, dan generasi yang akan datang ke dalam tangan-Mu. Biarlah kami hidup setia dalam panggilan kami, sambil percaya bahwa segala sesuatu ada di bawah kedaulatan-Mu yang sempurna.
Di dalam nama Tuhan yang setia memegang sejarah dan hidup kami, kami berdoa. Amin.