Tetap Berbuah di Masa Tua

“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di rumah TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.” (Mzm. 92:13–15)

Di Indonesia, klasifikasi lansia umumnya mengikuti pedoman Kementerian Kesehatan dan WHO, membaginya menjadi Pra-Lanjut Usia (60-69 tahun), Lanjut Usia (70-79 tahun), dan Lanjut Usia Akhir (80+ tahun), dengan fokus pada kebutuhan kesehatan dan potensi yang berbeda pada setiap tahap, dari lansia muda yang masih aktif hingga lansia sangat tua yang lebih rentan.

Berbeda dengan klasifikasi di atas, Kemenkes mengeluarkan klasifikasi berdasarkan potensi kerja.

  • Lansia Potensial: Masih mampu bekerja dan produktif.
  • Lansia Tidak Potensial: Bergantung pada bantuan orang lain.
  • Lansia Risiko Tinggi: Usia 60+ dengan masalah kesehatan.

Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa sebutan “Lansia Tidak Potensial” itu kurang nyaman karena adanya anggapan bahwa setelah mencapai usia lanjut, sebagian orang menjadi “tidak berguna”. Sebutan sedemikian mungkin akan ditolak oleh masyarakat yang mempunyai banyak tenaga kerja berusia lanjut.

Apakah hidup sebagai lansia adalah hidup yang tidak berpotensial untuk menghasilkan apa yang baik? Apakah mereka hanya bisa bergantung pada orang lain? Belum tentu. Tapi memang itu bisa terjadi karena pilihan yang bersangkutan.

Mazmur 92 menyampaikan gambaran yang indah sekaligus menantang tentang usia lanjut. Mazmur ini adalah nyanyian yang lahir dari sudut pandang iman yang matang. Bukan iman yang berisik, bukan pula iman yang tergesa-gesa, melainkan iman yang telah diuji oleh waktu.

Ayat ini menolak dua sikap yang sering diam-diam menyelinap ke dalam kehidupan orang percaya di usia lanjut: kepasrahan kosong (que sera, sera) dan cukup seperti sekarang (status quo). Firman Tuhan tidak memberi ruang bagi keduanya.

Pemazmur tidak berkata, “Orang benar akan bertahan sampai akhir.” Ia berkata, “akan bertunas… akan berbuah… akan memberitakan.” Kata-kata ini penuh gerak. Ada kehidupan, ada pertumbuhan, ada tujuan. Masa tua tidak digambarkan sebagai masa menunggu, tetapi sebagai masa memberi kesaksian.

Gambaran pohon korma dan pohon aras sangat bermakna. Keduanya bukan tanaman rapuh. Pohon korma tumbuh di padang kering, berakar dalam, dan menghasilkan buah yang manis. Pohon aras dikenal karena kekokohannya dan daya tahannya terhadap waktu. Pesannya jelas: orang benar tidak ditentukan oleh keadaan luar, tetapi oleh tempat ia ditanam.

“Ditaman di rumah TUHAN”—inilah kuncinya. Bukan sekadar rajin beribadah, melainkan hidup yang berakar pada Tuhan. Akar itu tidak selalu terlihat, tetapi justru di sanalah kekuatan sejati berada. Dan akar yang dalam itulah yang memungkinkan seseorang tetap berbuah, bahkan ketika tenaga berkurang dan dunia mulai terasa asing.

Ayat 15 menyebut sesuatu yang mengejutkan: “pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.” Ini bukan janji bahwa masa tua akan selalu nyaman, melainkan janji bahwa hidup yang ditopang oleh Tuhan tidak akan menjadi sia-sia. Buah di masa tua mungkin bukan lagi prestasi, jabatan, atau pencapaian publik. Buah itu bisa berupa hikmat yang tenang, doa yang setia, kesabaran dalam penderitaan, atau iman yang tidak pahit menghadapi keterbatasan.

Di sinilah sikap que sera, sera menjadi berbahaya. Kepasrahan yang tidak bertanggung jawab sering dibungkus dengan bahasa rohani, tetapi sejatinya menolak panggilan untuk tetap hidup dengan kesungguhan. Iman Alkitab bukan fatalisme. Tuhan berdaulat, ya—tetapi kedaulatan-Nya justru mendorong umat-Nya untuk hidup setia, bukan pasif.

Pengakuan Westminster menyatakan bahwa mereka yang telah dipanggil secara effektif dan dilahirbarukan, memiliki hati yang baru dan roh yang baru, yang diciptakan di dalam diri mereka, selanjutnya mereka dikuduskan secara riil dan pribadi, melalui manfaat kematian dan kebangkitan Kristus, oleh Firman dan Roh-Nya yang tinggal di dalam diri mereka. Kuasa dosa atas segenap tubuh dihancurkan dan berbagai hawa nafsu semakin diperlemah dan dimatikan, dan mereka yang dipanggil ini semakin hari makin dihidupkan dan diperkuat di dalam semua anugerah-yang-menyelamatkan, untuk melakukan kekudusan yang sejati.

Pada pihak yang lain, merasa “cukup” secara rohani bisa menjadi awal kemunduran. Mazmur 92 tidak memuliakan kenyamanan dalam kepasifan, tetapi kesetiaan yang terus berbuah. Bahkan di usia lanjut, Tuhan masih membentuk umat-Nya—menjadi lebih baik bukan saja untuk diri sendiri, tetapi terutama untuk menjadi saksi bagi generasi berikutnya.

Tujuan akhir dari semua ini ditegaskan pemazmur: “untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar.” Inilah buah terbesar di masa tua. Hidup yang dijalani dengan iman, bukan kepahitan. Hidup yang mungkin melemah secara jasmani, tetapi semakin jernih secara rohani. Hidup yang tidak hanya untuk menikmati hari tua, tetapi tetap berkarya dalam iman. Hidup yang berkata, tanpa banyak kata, bahwa Tuhan setia dari awal sampai akhir.

Masa tua, dengan segala keterbatasannya, justru menjadi panggung terakhir di mana kebenaran Tuhan dinyatakan. Bukan dengan suara keras, tetapi dengan kehidupan yang berakar, bertumbuh, dan berbuah sampai akhir.

Doa Penutup

Tuhan yang setia, kami bersyukur karena Engkau tidak pernah berhenti bekerja dalam hidup kami, bahkan ketika usia bertambah dan kekuatan berkurang. Tanamkanlah kami semakin dalam di dalam Engkau, agar hidup kami tidak kering oleh ketakutan atau mandek oleh kenyamanan.

Ajarlah kami menolak kepasrahan yang kosong dan iman yang malas. Berikan kami hati yang tetap rindu bertumbuh, jiwa yang tetap segar oleh firman-Mu, dan hidup yang tetap berbuah bagi kemuliaan-Mu.

Kiranya di masa tua kami, hidup kami menjadi kesaksian yang sederhana namun jujur, bahwa Engkau adalah Gunung Batu kami, setia dan benar, dari awal sampai akhir.

Di dalam nama Tuhan kami, Yesus Kristus. Amin.

Tinggalkan komentar