“Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.” Yakobus 3:17

Orang diharapkan untuk lebih bijaksana seiring bertambahnya usia, mengembangkan pengaturan emosi yang lebih baik, refleksi diri, dan perspektif, meskipun kecepatan kognitif mungkin melambat. Kebijaksanaan tidak otomatis tetapi tumbuh dari pemrosesan pengalaman hidup secara aktif, menyeimbangkan perolehan empati dan pengetahuan.
Tetapi, di sinilah Yakobus membawa kita pada pertanyaan yang mendasar: jika lidah kita begitu sulit dikendalikan, jika kata-kata kita sering mencerminkan iri hati, amarah, dan ambisi tersembunyi, maka hikmat macam apa yang sebenarnya sedang kita hidupi?
Dunia memiliki definisi hikmatnya sendiri. Hikmat sering diukur dari gelar, kecerdasan, kekayaan, pengaruh, atau banyaknya orang yang mendukung kita. Orang dianggap bijak jika ia pandai berbicara, cerdas berargumentasi, mampu memenangkan perdebatan, dan sukses dalam usaha. Namun Yakobus mengguncang semua ukuran itu.
Yakobus bertanya, “Siapakah di antara kamu yang bijak dan berpengetahuan?” Lalu jawabannya mengejutkan: bukan mereka yang paling lantang berbicara, tetapi mereka yang menunjukkan hikmat itu melalui hidup yang penuh kerendahan hati dan perbuatan baik.
Yakobus dengan tegas membedakan antara hikmat duniawi dan hikmat surgawi. Hikmat duniawi bersumber dari iri hati dan ambisi egois. Ia selalu bertanya, apa untungnya bagi saya? Dari sanalah lahir persaingan, pertengkaran, kekacauan, bahkan kejahatan yang terorganisir dengan rapi. Dunia mungkin menyebutnya “strategi” atau “kepintaran”, tetapi Yakobus menyebutnya apa adanya: hikmat yang tidak berasal dari atas.
Sebaliknya, hikmat surgawi lahir dari iman kepada Allah yang hidup. Hikmat ini tidak muncul karena manusia merasa cukup, tetapi justru karena ia percaya bahwa Allah mencukupi. Orang yang hidup dalam hikmat surgawi percaya bahwa setiap karunia yang baik berasal dari Tuhan (Yakobus 1:17). Karena itu, ia tidak perlu merebut, memanipulasi, atau mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri.
Yakobus menggambarkan hikmat dari atas dengan sangat indah dan praktis. Pertama, hikmat itu murni—hagnē—tidak terbagi, tidak bercabang. Orang yang hidup dalam hikmat ini memiliki satu tujuan utama: melakukan kehendak Allah. Ia tidak hidup dengan agenda tersembunyi atau motivasi ganda. Hatinya tidak terbelah antara melayani Tuhan dan meninggikan diri.
Hikmat surgawi juga pendamai. Ia tidak menikmati konflik, tidak memelihara pertengkaran, dan tidak merasa nyaman jika ada perdebatan. Ini bukan sikap kompromi terhadap kebenaran, melainkan kerinduan untuk memelihara damai sejauh itu bergantung padanya. Hikmat ini peramah dan lembut, tidak kasar dalam kata, tidak cepat tersinggung, dan tidak defensif.
Lebih jauh, Yakobus mengatakan hikmat ini penurut atau mudah diajar. Orang bijak tidak merasa selalu benar. Ia bersedia mendengar, belajar, dan bahkan dikoreksi. Ini sangat kontras dengan hikmat dunia yang keras kepala dan selalu ingin menang.
Hikmat surgawi juga penuh belas kasihan dan menghadirkan buah-buah yang baik. Ia tidak hanya benar secara doktrin, tetapi juga hangat secara relasional. Ia peduli pada yang lemah, yang terluka, dan yang terpinggirkan. Hikmat ini tidak memihak dan tidak munafik—tidak memainkan peran, tidak memakai topeng rohani agar terlihat baik demi keuntungan pribadi.
Sungguh, hidup menjadi jauh lebih ringan ketika seorang Kristen melepaskan tuntutan untuk selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Banyak konflik lahir bukan karena kebenaran, melainkan karena ego yang tidak mau dilepaskan. Namun pelepasan itu hanya mungkin jika kita sungguh percaya bahwa Tuhan yang baik tidak pernah lalai memelihara umat-Nya.
Hikmat surgawi bukan hasil usaha manusia semata, melainkan buah dari hati yang tunduk kepada Allah. Ia lahir ketika kita berhenti mengandalkan diri sendiri dan mulai bersandar sepenuhnya pada anugerah-Nya.
Doa Penutup
Tuhan yang Mahabijaksana, kami mengakui bahwa sering kali kata-kata kami mencerminkan hati yang belum sepenuhnya tunduk kepada-Mu. Ampunilah kami ketika lidah kami melukai, ketika ambisi kami tersembunyi di balik kerohanian, dan ketika kami mengejar hikmat dunia lebih daripada hikmat-Mu.
Ajarlah kami hikmat yang dari atas—hikmat yang murni, pendamai, lembut, penuh belas kasihan, dan tulus. Bentuklah hati kami agar percaya penuh kepada pemeliharaan-Mu, sehingga kami tidak hidup dalam iri hati dan ambisi egois. Kiranya hidup kami, perkataan kami, dan sikap kami memuliakan nama-Mu dan menjadi berkat bagi sesama.
Di dalam nama Yesus Kristus, Sang Hikmat sejati, kami berdoa.
Amin.