Iblis Senang Melihat Adanya Perselisihan Umat Kristen

“Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” 1 Korintus 3:3

Ada satu hal yang selalu menyedihkan dalam kehidupan gereja: ketika umat Tuhan, yang seharusnya menjadi saksi kasih Kristus, justru saling berselisih. Lebih menyedihkan lagi ketika perselisihan itu bukan soal kebenaran Injil, melainkan soal “siapa mengikuti siapa”, “siapa lebih rohani”, atau “siapa lebih layak didengar”. Di sinilah kita perlu jujur mengakui satu hal yang jarang kita ucapkan dengan keras: iblis sangat senang melihat umat Kristen bertengkar.

Rasul Paulus menegur jemaat Korintus dengan sangat tajam. Mereka adalah jemaat yang kaya karunia, tetapi miskin kedewasaan. Perselisihan muncul karena mereka mengelompokkan diri berdasarkan pemimpin rohani: ada yang berkata, “Aku dari golongan Paulus”, yang lain, “Aku dari golongan Apolos”. Padahal Paulus dan Apolos tidak berselisih. Paulus tidak memuji loyalitas semacam itu. Sebaliknya, ia menyebutnya tanda kedagingan—tanda bahwa mereka masih hidup menurut cara manusia duniawi, bukan menurut Roh.

Paulus mengingatkan: “Apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan…” Pemimpin rohani, betapapun dipakai Tuhan, tetaplah alat. Yang satu menanam, yang lain menyiram, tetapi bukan mereka yang memberi pertumbuhan. Allah-lah sumber kehidupan, pertumbuhan, dan buah rohani. Ketika umat meninggikan alat di atas Sang Pemberi Hidup, maka gereja kehilangan fokusnya.

Jika adanya beberapa pemimpin gereja yang berbeda kemampuan, kepribadian dan penampilan sudah cukup untuk menimbulkan “fraksi”, perselisihan antar pimpinan gereja sering kali berakhir secara menyedihkan.

Perselisihan di gereja sering kali tidak dimulai dengan niat jahat. Banyak pemimpin tidak pernah bermaksud menghancurkan jemaat. Namun, ketika para pemimpin sendiri tidak dapat menunjukkan kesatuan—entah karena ego, perbedaan pendekatan, atau luka lama yang tidak diselesaikan—jemaat dengan cepat menangkap sinyal itu. Umat belajar bukan hanya dari mimbar, tetapi dari sikap, nada bicara, dan relasi para pemimpinnya. Pemimpin yang tidak bersatu, meski tanpa kata-kata, sedang mengajarkan perpecahan.

Alkitab memandang perpecahan bukan sekadar masalah relasi, tetapi masalah rohani. Perselisihan membuka celah yang besar bagi pekerjaan si jahat. Ketika gereja sibuk bertengkar, kesaksian Injil melemah. Energi yang seharusnya dipakai untuk mengasihi, melayani, dan memberitakan Kristus habis untuk konflik internal. Dunia yang memperhatikan dari luar tidak lagi melihat terang Kristus, melainkan bayangan ego manusia.

Tidak heran jika Yesus, menjelang salib, berdoa secara khusus untuk kesatuan para pengikut-Nya: “Supaya mereka semua menjadi satu… supaya dunia percaya.” (Yohanes 17:21). Kesatuan bukan sekadar ideal moral; kesatuan adalah alat kesaksian. Dunia menilai kebenaran Injil bukan hanya dari apa yang dikhotbahkan, tetapi dari bagaimana para pemimpin saling memperlakukan.

Paulus berulang kali memperingatkan jemaat-jemaat mula-mula agar menjauhi perselisihan. Bagi Paulus, konflik yang berakar pada iri hati dan ambisi bukan tanda ketegasan iman, melainkan tanda ketidakdewasaan rohani. Orang yang sungguh hidup oleh Roh akan belajar merendahkan diri, mengutamakan Kristus, dan memandang sesama saudara seiman sebagai bagian dari satu tubuh.

Renungan ini mengajak kita bercermin. Apakah hati kita sedang lebih setia kepada Kristus atau kepada figur tertentu? Apakah kita membela kebenaran atau sekadar membela kelompok? Apakah perkataan dan sikap kita sedang membangun tubuh Kristus atau justru merobeknya perlahan?

Iblis tidak selalu bekerja dengan serangan besar. Kadang ia hanya perlu menyokong sedikit iri hati, sedikit kekecewaan, dan sedikit kebanggaan rohani. Jika itu dibiarkan, perselisihan akan tumbuh. Tetapi ketika umat Tuhan kembali merendahkan diri di hadapan Kristus, mengingat bahwa hanya Allah yang memberi pertumbuhan, maka kuasa perpecahan itu dipatahkan.

Kesatuan bukan berarti keseragaman. Pimpinan gereja bisa berbeda metode, gaya, dan penekanan. Namun di atas semua perbedaan itu, Kristus harus tetap harus menjadi pusat. Ketika Kristus dimuliakan, pemimpin ditempatkan pada posisinya yang benar, dan kasih menjadi pengikat, iblis kehilangan kegembiraannya.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,

Kami mengaku bahwa hati kami sering mudah terseret oleh ego, iri hati, dan keinginan untuk menang sendiri. Ampuni kami bila kami lebih meninggikan manusia daripada Engkau. Lembutkan hati kami, ya Tuhan, agar kami belajar merendahkan diri dan mengutamakan kesatuan tubuh Kristus.

Peliharalah gereja-Mu dari roh perselisihan. Berikan hikmat dan kerendahan hati kepada para pemimpin-Mu, agar mereka boleh berjalan dalam kesatuan dan menjadi teladan bagi jemaat. Ajarlah kami untuk mengasihi sesama saudara seiman, meskipun berbeda, demi nama Kristus yang kami tinggikan.

Biarlah gereja-Mu menjadi satu, supaya dunia melihat kasih-Mu dan percaya kepada Engkau.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar