“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” Matius 6:27

Stres dan kecemasan adalah pengalaman yang sangat manusiawi. Alkitab tidak pernah menampilkan manusia beriman sebagai pribadi yang kebal terhadap rasa takut, gelisah, atau tertekan. Daud pernah merasa jiwanya tertekan sampai remuk. Elia pernah ingin mati karena kelelahan batin. Bahkan murid-murid Yesus dilanda panik ketika badai mengguncang perahu mereka. Namun Kitab Suci juga dengan jujur menunjukkan bahwa kecemasan, meskipun bukan “dosa yang mematikan”, adalah kekuatan yang berbahaya—perlahan, diam-diam, tetapi memadamkan api kehidupan rohani bila dibiarkan.
Yesus dalam Matius 6 berbicara tentang kekhawatiran bukan sebagai kegagalan moral semata, melainkan sebagai beban yang tidak perlu dan tidak berguna. Ia bertanya dengan nada yang lembut namun menusuk: “Siapa di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan satu jam saja pada hidupnya?” Pertanyaan ini membuka mata kita bahwa kecemasan bukan hanya menyakitkan, tetapi juga sia-sia. Ia menguras energi dan merusak kesehatan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
Alkitab sering membingkai kecemasan sebagai penyakit yang mengganggu—penyakit batin yang memecah pikiran, membebani hati, dan secara perlahan menggerogoti kepercayaan kepada Allah. Amsal 12:25 dengan sangat realistis berkata, “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang.” Banyak orang yang kelihatannya tetap berjalan, bekerja, dan tersenyum, tetapi jiwanya membungkuk—lelah, berat, dan kehilangan sukacita. Kecemasan membuat seseorang “lumpuh”: sulit berpikir jernih, sulit berdoa dengan tenang, dan sulit berharap dengan utuh. Ini bukan hanya pengamatan psikologis modern; ini adalah kebijaksanaan Alkitab sejak ribuan tahun lalu.
Yesus juga memperingatkan bahwa kecemasan memiliki daya rusak rohani yang serius. Dalam perumpamaan tentang penabur, Ia berkata bahwa “kekhawatiran hidup ini” dapat mencekik firman, sehingga hidup menjadi tidak berbuah (Markus 4:19). Firman Tuhan mungkin didengar, dipahami, bahkan disetujui, tetapi tidak pernah bertumbuh karena dicekik oleh rasa takut akan masa depan, ancaman sosial, tekanan ekonomi, kondisi kesehatan, atau keadaan dunia. Kecemasan tidak selalu membuat seseorang meninggalkan iman, tetapi sering membuat iman menjadi mandul—tidak menghasilkan damai, ketekunan, dan kasih.
Yang menarik, dalam Lukas 21:34 Yesus menempatkan kecemasan sejajar dengan pesta pora dan kemabukan. Ini mengejutkan, karena kita cenderung menganggap kecemasan sebagai sesuatu yang “sepi” atau “sopan”. Namun Yesus melihatnya sebagai beban hati yang sama-sama merusak kewaspadaan rohani. Pesta pora dan kemabukan merusak tubuh secara kasar; kecemasan merusak jiwa secara halus. Keduanya membuat hati berat dan mata iman tumpul.
Namun Injil tidak berhenti pada peringatan. Yesus tidak hanya menunjukkan bahaya kecemasan, tetapi juga menawarkan jalan pembebasan: mempercayakan hidup kepada Bapa yang memelihara. Ia menunjuk burung di udara dan bunga di ladang—bukan untuk meromantisasi hidup, tetapi untuk menegaskan karakter Allah. Allah adalah Bapa yang tahu, peduli, dan setia. Kekhawatiran sering kali bukan soal kurangnya iman kepada kuasa Allah, tetapi kurangnya kepercayaan pada kebaikan-Nya.
Dalam perspektif iman Kristen, kita diingatkan bahwa hidup ini berada di bawah providensia (pemeliharaan) Allah yang berdaulat. Tidak ada satu detik pun yang berada di luar perhatian-Nya. Menyadari hal ini tidak serta-merta menghapus stres, tetapi menempatkannya di tempat yang benar. Kita belajar membawa kecemasan ke hadapan Tuhan, bukan menyangkalnya, tetapi menyerahkannya. Kita berhenti memikul beban yang tidak pernah dimaksudkan untuk kita tanggung sendirian.
Kecemasan mungkin datang, tetapi ia tidak harus berkuasa. Ia boleh mengetuk pintu, tetapi tidak harus menjadi tuan rumah. Dalam Kristus, kita dipanggil untuk hidup bukan tanpa masalah, tetapi dengan kepercayaan—bahwa hidup kita ada di tangan Bapa yang baik, dan tidak satu pun kekhawatiran kita dapat menambah satu jam pun pada hidup ini.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih,
Engkau mengenal hati kami yang mudah gelisah dan pikiran kami yang cepat dipenuhi kekhawatiran. Kami mengakui bahwa sering kali kami memikul beban yang tidak Engkau minta kami tanggung.
Ampunilah kami ketika kecemasan lebih kami dengarkan daripada suara-Mu. Ajarlah kami mempercayakan hidup kami sepenuhnya kepada pemeliharaan-Mu.
Berilah kami hati yang tenang, iman yang bertumbuh, dan pengharapan yang teguh di dalam Kristus. Biarlah Firman-Mu tidak dicekik oleh kekhawatiran, tetapi berbuah dalam hidup kami.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.