“Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok, supaya Tuhan tidak melihatnya dan menganggapnya jahat, lalu memalingkan murkanya dari pada orang itu.” Amsal 24:17–18

Ada sesuatu yang sangat manusiawi—dan sekaligus sangat berbahaya—dalam diri kita: kecenderungan untuk merasa lega, bahkan senang, ketika orang yang mengganggu kita akhirnya jatuh. Dalam hati kita mungkin berkata, “itu sudah sepantasnya.” Dunia menyebutnya sebagai poetic justice (keadilan puitis). Media sosial pun sering merayakannya. Namun firman Tuhan justru menegur kecenderungan itu dengan sangat tegas. Perasaan itu tidak seharusnya muncul di hati orang Kristen sebagai reaksi terhadap orang yang tidak disenangi.
Amsal 24:17–18 tidak sedang membela kejahatan atau meniadakan keadilan. Firman ini berbicara tentang kondisi hati. Tuhan menaruh perhatian bukan hanya pada apa yang terjadi pada orang lain, tetapi pada apa yang terjadi di dalam hati kita ketika itu terjadi. Ketika kita bersukacita atas kejatuhan orang lain—bahkan musuh kita—Tuhan melihatnya bukan sebagai kebenaran, melainkan sebagai kejahatan hati yang tersembunyi.
Mengapa demikian? Karena sukacita atas penderitaan orang lain sering kali lahir bukan dari cinta akan kebenaran, melainkan dari dendam yang terpelihara. Itu mungkin juga berarti bahwa kita sebelumnya tidak pernah berdoa agar mereka insaf. Kita mungkin tidak mendoakan kejatuhan mereka atau ingin membalas, tetapi hati kita bersorak secara diam-diam. Dan di situlah masalahnya. Tuhan tidak hanya menilai perbuatan, tetapi juga motivasi kita yang terdalam.
Alkitab berulang kali mengajak umat Tuhan untuk mempercayakan keadilan kepada-Nya. Tuhan adalah Hakim yang adil dan sempurna, sedangkan penilaian kita sering kali tercemar oleh luka, emosi, dan kepentingan pribadi. Ketika kita merasa senang atas apa yang menimpa orang lain, seolah-olah kita sedang duduk di kursi hakim—kursi yang bukan milik kita, tetapi milik Tuhan pencipta alam semesta.
Lebih dari itu, sikap bersukacita atas kemalangan orang lain merusak kesaksian Kristus dalam hidup kita. Yesus tidak dikenal karena sorak-sorai atas kehancuran musuh-Nya, melainkan karena belas kasihan-Nya terhadap orang berdosa. Di kayu salib, Ia tidak berseru, “Akhirnya Aku menang atas kalian,” tetapi berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Kasih seperti inilah yang menjadi tanda murid Kristus.
Di sinilah empati menjadi sangat penting. Empati bukan berarti menyetujui dosa atau membenarkan kesalahan. Empati berarti melihat manusia di balik kegagalannya. Menyadari bahwa kejatuhan seseorang bukanlah tontonan, melainkan tragedi. Bahwa di balik kesalahan itu ada jiwa yang rapuh, keluarga yang terluka, dan masa depan yang hancur.
Seperti kita ketahui bahwa hukum Tuhan (Mitzvah) yang paling penting dalam Kitab Suci adalah untuk mengasihi Tuhan, Allah, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi kita. Tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa hukum yang kedua, yang sama dengan itu, adalah untuk mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. (Matius 22:36-40)
Sehubungan dengan hal mengasihi sesama, perlu dicatat bahwa empati bukan sekadar bersimpati. Simpati adalah rasa kasihan atau iba dari luar (merasa “untuk” orang lain), sedangkan empati adalah kemampuan merasakan emosi yang sama dan “bersama” orang lain, menempatkan diri pada posisi mereka, dan memahami kondisi mereka secara mendalam.
Simpati bersifat lebih dangkal dan bisa muncul tanpa pernah mengalami kondisi tersebut, sementara empati lebih mendalam, melibatkan pemahaman kognitif dan afektif, serta seringkali memicu keinginan untuk membantu menyelesaikan masalah, bukan hanya berdiam diri atau menyampaikan kritik.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk bercermin. Kita mudah lupa bahwa kita sendiri pernah—dan mungkin masih—jatuh berkali-kali. Rasul Paulus mengingatkan bahwa kita dulunya adalah musuh Allah, tetapi diselamatkan bukan karena kelayakan, melainkan karena kasih karunia (Roma 5:10). Jika Tuhan memperlakukan kita dengan belas kasihan, bagaimana mungkin kita menolak menunjukkan empati kepada sesama kita?
Empati menolong kita untuk berkata, “Jika bukan karena anugerah Tuhan, aku pun bisa berada di posisi itu.” Sikap ini meruntuhkan kesombongan rohani dan menumbuhkan kerendahan hati. Ia mengubah respons kita dari ejekan menjadi doa, dari sorak-sorai menjadi air mata, dari penghakiman menjadi uluran tangan. Ini juga mencegah kita untuk menggosipkan masalah orang yang tidak kita senangi.
Dalam dunia yang cepat menghakimi dan gemar mempermalukan, panggilan orang percaya justru berbeda. Kita dipanggil untuk menjadi saksi kasih Kristus—kasih yang tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi bersukacita dalam kebenaran. Kasih yang berharap akan pemulihan, bukan kehancuran.
Pada akhirnya, Alkitab menyerukan hati yang penuh belas kasihan dan dukungan. Bukan hati yang bergembira ketika orang lain menderita, merasa itu sudah sepantasnya, atau diam-diam menyombongkan diri. Empati adalah bukti bahwa kita sungguh memahami Injil—bahwa kita hidup oleh anugerah, dan karena itu dipanggil untuk mengalirkannya kepada orang lain.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih,
Kami mengakui bahwa hati kami sering keras dan mudah bersukacita atas kejatuhan orang lain. Ampunilah kami, ya Tuhan, ketika kami lebih mengikuti dorongan daging daripada suara Roh-Mu.
Ajarlah kami untuk mempercayakan keadilan sepenuhnya kepada-Mu, dan bukan mengambil alih peran-Mu sebagai Hakim. Lembutkan hati kami agar dipenuhi empati, kasih, dan belas kasihan—seperti yang telah Engkau tunjukkan kepada kami di dalam Kristus.
Mampukan kami menjadi saksi kasih-Mu di tengah dunia yang terluka, sehingga melalui sikap dan respons kami, nama-Mu dimuliakan.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.