Kedewasaan Dalam Kristus

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1 Korintus 13:11

Ada satu kenyataan yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari: seseorang bisa bertambah umur, tetapi tidak selalu bertambah dewasa. Rambut bisa memutih, jabatan bisa bertambah, pengalaman hidup bisa semakin banyak, tetapi kedewasaan batin belum tentu ikut bertumbuh. Hal yang sama juga dapat terjadi dalam kehidupan rohani. Seseorang bisa lama menjadi orang Kristen, rajin beribadah, aktif melayani, bahkan dikenal sebagai “tokoh rohani”, tetapi di dalam batin masih mudah tersinggung, mudah marah, sulit mengampuni, dan sulit diajar.

Itulah sebabnya Paulus menulis dengan begitu jujur: ada masa kanak-kanak, dan ada panggilan untuk menjadi dewasa. Kedewasaan rohani bukan peristiwa sesaat, melainkan perjalanan seumur hidup. Itu bukan hasil dari lamanya seseorang berada di gereja, tetapi hasil dari relasi yang terus-menerus dengan Kristus.

Kedewasaan dalam Kristus dimulai dari perubahan pusat hidup. Dulu pusatnya adalah “aku”: perasaanku, pendapatku, posisiku, hakku, kenyamananku. Tetapi semakin seseorang bertumbuh, pusat itu perlahan berpindah kepada Kristus: kehendak-Nya, kebenaran-Nya, kasih-Nya, dan tujuan-Nya. Perubahan ini tidak selalu dramatis. Sering kali itu terjadi secara perlahan, hampir tidak terasa, seperti akar yang tumbuh dalam tanah—tidak terlihat, tetapi kuat menopang kehidupan.

Kedewasaan secara rohani tidak diukur dari seberapa lantang orang berbicara tentang iman, tetapi dari bagaimana ia hidup saat tidak ada orang lain yang melihat. Dari caranya memperlakukan keluarga di rumah. Dari cara ia merespons orang yang menyakiti. Dari bagaimana ia berbicara tentang orang lain. Dari bagaimana ia menghadapi kemarahan, kekecewaan, dan penderitaan.

Buah Roh menjadi tanda yang paling nyata. Kasih yang tidak pilih-pilih. Sukacita yang tidak bergantung pada keadaan. Damai yang tidak mudah goyah. Kesabaran terhadap orang yang sulit. Kelemahlembutan dalam perkataan. Penguasaan diri dalam emosi. Semua ini bukan hanya hasil latihan karakter dan pekerjaan otak, tetapi hasil dari hidup yang melekat kepada Kristus. Tanpa Kristus, sulitlah orang mengalami perubahan batin yang terus menerus dan bersifat permanen.

Kedewasaan juga terlihat dalam ketergantungan pada Tuhan. Seperti sebuah paradoks, semakin dewasa secara rohani, seseorang justru semakin sadar bahwa ia tidak sanggup hidup benar tanpa Tuhan. Ia tidak lagi sok kuat, tidak lagi sok rohani, tidak lagi merasa paling benar. Ia belajar berdoa bukan hanya saat krisis, tetapi sebagai napas hidup sehari-hari. Ia belajar bersandar kepada Tuhan bukan hanya saat gagal, tetapi juga saat berhasil. Ia tahu bahwa Tuhan adalah sumber apa yang baik.

Lalu selama hidup pasti ada penderitaan. Di sinilah kedewasaan benar-benar diuji. Orang yang belum dewasa mudah berkata, “Mengapa Tuhan izinkan ini terjadi?” Orang yang mulai dewasa belajar berkata, “Tuhan, apa yang Engkau sedang bentuk dalam diriku melalui ini?” Bukan berarti ia tidak menangis, bukan berarti ia tidak lelah, tetapi hatinya tidak lagi memberontak—ia belajar percaya. Ia belajar untuk hidup dalam damai, seperti seekor domba yang dipanggul gembalanya.

Kedewasaan rohani juga mengubah orientasi hidup: dari minta “dilayani” menjadi mau “melayani”. Dari “milikku” menjadi “titipan Tuhan”. Dari “kenyamananku” menjadi “kebaikan bersama”. Orang yang dewasa tidak lagi hidup untuk membesarkan diri sendiri, tetapi untuk memuliakan Tuhan dan memberkati sesama.

Yesus berkata, siapa yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salib. Ini bukan bahasa heroik, tetapi bahasa kehidupan sehari-hari: belajar mengalah, belajar diam, belajar mengampuni, belajar setia, belajar taat, belajar melayani tanpa pujian, belajar melakukan apa yang benar meski tidak dipuji.

Bagaimana kita bisa bertumbuh? Bukan dengan pencitraan rohani, tetapi dengan kejujuran di hadapan Tuhan. Dengan doa yang jujur. Dengan membaca Firman bukan untuk membenarkan diri, tetapi untuk mau diubah. Dengan persekutuan yang saling menegur dalam kasih. Dengan refleksi diri yang rendah hati. Dengan pertobatan yang terus-menerus.

Kedewasaan Kristen bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus bertumbuh. Bukan tentang terlihat suci, tetapi tentang hati yang mau dibentuk. Bukan tentang posisi, tetapi tentang karakter. Bukan tentang gelar rohani, tetapi tentang keserupaan dengan Kristus.

Pagi ini, mungkin itulah doa terdalam setiap orang percaya: bukan agar hidup kita tampak besar, tetapi agar hidup kita makin lama makin serupa dengan Yesus. Itulah kedewasaan.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, kami datang dengan hati yang rindu bertumbuh. Kami sadar bahwa sering kali kami sudah lama mengenal-Mu, tetapi masih membawa banyak sifat kanak-kanak dalam hati kami: ego, gengsi, amarah, kepahitan, dan keakuan.

Kami mohon, bentuklah kami dengan kasih-Mu. Ajari kami bertumbuh dalam karakter, bukan hanya dalam aktivitas rohani. Ajari kami bergantung kepada-Mu, menjaga perkataan kami, setia dalam penderitaan, dan rendah hati dalam keberhasilan.

Bentuklah hidup kami menjadi cermin kasih Kristus, agar orang lain tidak hanya mendengar tentang Engkau, tetapi melihat Engkau melalui hidup kami.

Jadikan kami umat yang dewasa, bukan hanya dewasa usia, tetapi dewasa iman, dewasa kasih, dan dewasa ketaatan.

Di dalam nama Yesus, kami berdoa dan berserah. Amin..

Tinggalkan komentar