“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Ibrani 12:2

Banyak orang Kristen rindu bertumbuh dalam iman. Kita ingin hidup lebih dekat dengan Tuhan, lebih tenang, lebih dewasa secara rohani. Namun dalam kenyataan sehari-hari, pertumbuhan itu sering terasa lambat, bahkan terhenti. Bukan karena kita meninggalkan Tuhan, melainkan karena begitu banyak hal yang perlahan mengalihkan perhatian kita dari-Nya, sehingga fokus kehidupan kita berubah.
Alkitab menggambarkan iman sebagai sebuah perlombaan. Dalam perlombaan, bukan hanya tujuan yang penting, tetapi juga fokus. Penulis Ibrani menasihati kita untuk menanggalkan segala beban yang merintangi dan berlari dengan mata tertuju kepada Yesus. Ini menunjukkan bahwa ada hal-hal tertentu—bahkan yang tampaknya ringan dan wajar—yang bisa menjadi penghalang serius bagi pertumbuhan iman.
Kisah Marta dan Maria memberikan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Marta sibuk melayani, melakukan sesuatu yang baik dan perlu. Namun kesibukannya membuat ia gelisah dan kehilangan ketenangan. Maria memilih duduk di kaki Yesus dan mendengarkan-Nya.
Ketika Yesus berkata kepada Marta bahwa hanya satu hal yang perlu, Ia tidak sedang menolak pelayanan, tetapi mengingatkan bahwa relasi dengan Tuhan tidak boleh dikorbankan demi kesibukan, sebaik apa pun alasannya.
Yesus juga menjelaskan hal ini melalui perumpamaan tentang penabur. Sementara perumpamaan ini intinya adalah bagaimana orang-orang menangani firman Tuhan, perumpamaan ini juga membahas bagaimana mereka menjalankan iman mereka.
Benih firman yang jatuh di antara duri tetap bertumbuh, tetapi kemudian tercekik dan tidak berbuah. Duri-duri itu adalah kekhawatiran hidup, keinginan akan kenyamanan, kesibukan, dan kesenangan dunia. Firman Tuhan memang diterima, tetapi tidak diberi ruang yang cukup untuk berakar. Banyak orang percaya hidup dengan iman seperti ini: ada iman, tetapi dangkal; ada kehidupan rohani, tetapi tidak bertumbuh dewasa.
Ironinya adalah banyak orang Kristen yang semakin lama semakin aktif dalam kegiatan gereja, tetapi semakin mundur dalam mempelajari Firman dengan sungguh-sungguh. Energi sudah dipakai untuk hal-hal jasmani, tetapi makanan rohani dilupakan. Mungkin juga karena mereka merasa sudah cukup mengetahui ayat-ayat Alkitab, atau merasa yakin sudah terpilih. Tetapi, jika hidup mulai terguncang, mereka akan sadar bahwa sesuatu sudah berubah.
Pengalaman Petrus berjalan di atas air menegaskan hal yang sama. Selama ia memandang Yesus, ia dapat berjalan di atas gelombang. Namun ketika perhatiannya tertuju pada angin dan ombak, ia mulai tenggelam. Badai sudah ada sejak awal, tetapi yang berubah adalah fokus Petrus. Demikian juga dalam kehidupan kita kalau kita berfokus pada persoalan hidup dan bukan kepada Tuhan.
Tantangan dan tekanan hidup tidak selalu membuat iman runtuh—yang sering melemahkan iman adalah perhatian yang terpecah.
Di zaman modern, gangguan iman itu semakin kuat dan semakin halus. Teknologi dan media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya telah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Tanpa disadari, kita menjadi terbiasa hidup dengan pikiran yang terus-menerus terganggu. Notifikasi, pesan, dan konten yang tidak pernah habis membuat kita sulit diam. Keheningan kemudian terasa canggung, bahkan membosankan. Akibatnya, waktu untuk doa, perenungan firman, dan kehadiran di hadapan Tuhan sering tersingkir—bukan karena kita menolaknya, tetapi karena kita selalu berkata “sebentar lagi”.
Kegiatan sosial belum tentu dosa. Namun ketika ia menguasai perhatian, membentuk kebiasaan, dan mengisi hati lebih daripada firman Tuhan, ia secara perlahan mengurangi kedalaman iman dan kasih kita kepada Tuhan.
Di sinilah peringatan pastoral menjadi penting, terutama bagi generasi muda, tetapi juga bagi kita semua. Iman tidak bisa bertumbuh dalam kehidupan yang terus-menerus terburu-buru, sibuk, dan penuh kebisingan. Iman bertumbuh melalui kedekatan kita pada Tuhan.
Yesus mengingatkan bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan. Hati yang terbagi akan kehilangan arah. Kolose memperingatkan agar kita tidak ditawan oleh cara berpikir dunia, sementara Matius 6 menasihati kita untuk tidak hidup dalam kekhawatiran tentang hari esok. Semua ini mengajak kita untuk membuat pilihan sadar: kepada siapa kita memberikan perhatian dan kepercayaan kita.
Namun Alkitab juga penuh pengharapan. Ibrani 12 mengajak kita kembali menatap Yesus. Roma 8 mengingatkan bahwa pikiran yang tertuju pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera. Filipi 4 menegaskan bahwa doa adalah jalan keluar dari kecemasan. Tuhan tidak meminta kesempurnaan, tetapi hati yang mau diarahkan kembali kepada-Nya.
Pertumbuhan iman terjadi ketika kita dengan sengaja memberi ruang bagi Tuhan—melalui doa, firman, keheningan, dan kehidupan komunitas—di tengah dunia yang terus menarik perhatian kita ke arah lain.
Pada akhirnya, pertumbuhan iman bukan soal melakukan lebih banyak hal yang “rohani”, melainkan soal memandang lebih dalam kepada Kristus agar kita mendapat pertolongan-Nya.
Adanya gangguan-gangguan hidup saat ini tidak harus menjadi penyebab kita mengabaikan perlunya pertumbuhan iman. Itu seharusnya kita terima sebagai peringatan yang penuh anugerah kepada kita.
Kita harus sadar bahwa adanya persoalan dan pencobaan, baik yang bersifat pribadi, atau yang ada di keluarga, sekolah, kantor, dan gereja adalah seperti topan di laut yang menyingkapkan kelemahan kita dan mengundang kita untuk lebih bersandar pada Tuhan. Ketika mata iman kita tertuju kepada Yesus, iman kita akan terus dibentuk, dimurnikan, dan disempurnakan oleh-Nya.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, kami mengakui bahwa hati kami mudah teralihkan. Dunia ini menawarkan begitu banyak hal yang menarik perhatian kami, hingga kami sering kehilangan keheningan di hadapan-Mu. Ampunilah kami ketika kami lebih sibuk dengan dunia daripada dengan Engkau.
Tolong kami menanggalkan setiap beban yang menghambat pertumbuhan iman kami. Ajarilah kami untuk kembali memusatkan pandangan kepada Yesus, pelopor dan penyempurna iman kami. Berilah kami kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi dan keberanian untuk menciptakan ruang bagi-Mu dalam hidup kami.
Melalui kuasa Roh Kudus, bentuklah kami menjadi umat yang dewasa secara rohani, berakar dalam firman-Mu, dan berbuah bagi kemuliaan nama-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.