Sudah Diselamatkan atau Belum?

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Roma‬ ‭8‬:‭30‬‬

Pertanyaan tentang keselamatan adalah salah satu pertanyaan paling sering—dan paling sensitif—dalam kehidupan orang Kristen. Topik ini sudah beberapa kali saya bahas dalam beberapa tahun yang telah lalu.

Walaupun demikian, baik di bangku gereja, dalam percakapan kelompok kecil, maupun dalam perenungan pribadi, kalimat ini kerap muncul: “Dia sudah diselamatkan atau belum?” Bahkan tidak jarang pertanyaan itu diarahkan ke diri sendiri: “Saya ini sebenarnya sudah selamat atau belum?”

Namun jika kita jujur dan teliti, pertanyaan itu sendiri sesungguhnya kurang tepat. Keselamatan bukanlah sesuatu yang berada di wilayah “sudah” atau “belum” seolah-olah ia sebuah proses administratif yang menunggu kelengkapan syarat. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Diselamatkan atau tidak?” Karena keselamatan, menurut kesaksian Alkitab, adalah tindakan Allah yang berdaulat, bukan hasil usaha manusia yang bertahap.

Kitab Suci dengan jelas menyatakan bahwa keselamatan berakar pada keputusan Allah sendiri. Paulus menulis dalam ayat di atas bahwa mereka yang dipilih-Nya, ditentukan-Nya, dipanggil-Nya, dibenarkan-Nya, dan dimuliakan-Nya. Rangkaian ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan proyek manusia, melainkan karya Allah dari awal sampai akhir. Jika demikian, ketika kita berkata bahwa seseorang “belum selamat”, secara tidak sadar kita sedang menyelipkan unsur lain sebagai penentu keselamatan—yaitu perbuatan, konsistensi, atau kualitas iman manusia.

Di sinilah perdebatan besar dalam Kekristenan muncul: apakah keselamatan dapat hilang? Di satu sisi ada pandangan keselanatan abadi—sering diringkas sebagai “sekali diselamatkan, selalu diselamatkan”. Pandangan ini menegaskan bahwa jika seseorang sungguh dilahirkan kembali, maka keselamatannya dijaga oleh Allah sendiri. Yesus berkata bahwa tidak seorang pun dapat merebut domba-domba-Nya dari tangan-Nya (Yohanes 10:28–29). Paulus pun menyatakan keyakinannya bahwa Allah yang memulai pekerjaan baik akan menyelesaikannya (Filipi 1:6).

Di sisi lain, ada pandangan keselamatan bersyarat, yang menekankan bahwa manusia dapat meninggalkan iman melalui ketidaktaatan yang terus-menerus atau kemurtadan. Ayat-ayat seperti Ibrani 6:4–6 sering dikutip sebagai peringatan serius bahwa seseorang bisa jatuh dan gagal bertahan sampai akhir. Bagi kelompok ini, keselamatan bukan hanya soal awal yang benar, tetapi juga ketekunan sampai akhir. Jika belum tekun, maka belum selamat.

Namun sering kali perdebatan ini menjadi buntu karena kedua pihak berbicara dengan pendekatan yang berbeda. Banyak kebingungan muncul karena tidak dibedakannya antara status dan persekutuan. Seorang anak yang melanggar orang tuanya tetaplah anak, tetapi persekutuannya dengan orang tua itu bisa terganggu. Itu seperti kisah anak yang hilang. Demikian pula orang percaya: dosa dapat merusak keintiman dan sukacita dalam relasi dengan Tuhan, tetapi tidak serta-merta membatalkan status sebagai anak Allah.

Alkitab tidak pernah memanggil kita untuk hidup dalam ketakutan akan kehilangan keselamatan setiap kali kita jatuh. Sebaliknya, kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan sebagai buah dari keselamatan itu sendiri.

Ketaatan bukanlah syarat agar tetap diselamatkan, melainkan bukti bahwa seseorang sungguh telah disentuh oleh kasih karunia. Sebagai contoh, orang Kristen tidak rajin ke gereja untuk mendapat keselamatan. Tetapi, mereka yang benar-benar anak Tuhan tentu mempunyai kerinduan untuk ke gereja.

Jika keselamatan harus terus-menerus dipertahankan oleh usaha manusia, maka kasih karunia bukan lagi kasih karunia.

Pertanyaan sejati bagi kita bukanlah, “Apakah keselamatan bisa hilang?” melainkan, “Apakah hidup saya mencerminkan orang yang telah menerima anugerah keselamatan?”

Iman yang sejati memang bertahan, tetapi ketahanan itu bukan karena kekuatan manusia, melainkan karena kesetiaan Allah. Orang percaya boleh bergumul, jatuh, dan bangkit kembali—namun Tuhan tetap memegang mereka. Maka ketika kita merenungkan pertanyaan “Sudah diselamatkan atau belum?”, biarlah kita mengarahkannya kembali kepada Kristus.

Keselamatan bukan soal menghitung kegagalan kita, melainkan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Dia yang setia. Keyakinan kita bukan karena kuatnya iman kita kepada Tuhan, tetapi karena kuatnya genggaman Tuhan atas kita.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih karunia, kami mengakui bahwa sering kali hati kami gelisah dan pikiran kami dipenuhi keraguan. Kami menilai diri kami sendiri dan orang lain dengan ukuran manusia, seolah-olah keselamatan dapat dihitung dari perbuatan dan konsistensi kami. Ampuni kami, ya Tuhan.

Ajarlah kami untuk beristirahat dalam anugerah-Mu. Teguhkan iman kami bahwa Engkaulah yang menyelamatkan, memelihara, dan menyempurnakan hidup kami. Ketika kami jatuh, tariklah kami kembali. Ketika kami menjauh, lembutkanlah hati kami. Biarlah hidup kami menjadi respons syukur, bukan usaha untuk membuktikan diri. Kami menyerahkan hidup kami ke dalam tangan-Mu yang setia.

Dalam nama Yesus Kristus, Juruselamat kami. Amin.

Tinggalkan komentar