“Janganlah seorang pun berkata ketika ia dicobai, ‘Aku sedang dicobai oleh Allah’; karena Allah tidak dapat dicobai oleh kejahatan, dan Dia sendiri tidak menggoda siapa pun. Tetapi setiap orang tergoda ketika dia terbawa dan terpikat oleh nafsunya sendiri.” Yakobus 1:13–14

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam perenungan iman adalah ini: jika Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, lalu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas dosa kita? Pertanyaan ini tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga sangat praktis. Cara kita menjawabnya akan memengaruhi bagaimana kita memandang kesalahan, pertobatan, dan pertumbuhan rohani.
Alkitab dengan jelas mengajarkan dua kebenaran yang berjalan bersamaan: Tuhan 100% berdaulat, dan manusia 100% bertanggung jawab. Segala sesuatu terjadi di bawah pengetahuan dan rencana-Nya, tetapi itu tidak pernah berarti bahwa Tuhan adalah sumber dosa atau penyebab manusia jatuh, sekalipun kejatuhannya mungkin terjadi setelah ada faktor eksternal. Kedaulatan Tuhan tidak menghapus tanggung jawab manusia; justru keduanya berdiri berdampingan dalam ketegangan.
Yakobus menegaskan dengan sangat tegas bahwa Tuhan tidak pernah menggoda siapa pun. Tuhan tidak mengirim sesuatu atau seseorang untuk menjatuhkan seseorang ke dalam dosa. Godaan tidak berasal dari Allah, melainkan dari dalam diri manusia sendiri. Setiap orang tergoda ketika ia “terbawa dan terpikat oleh nafsunya sendiri.” Dosa bukan pertama-tama berasal dari masalah keadaan, lingkungan, atau tekanan luar, melainkan dari masalah hati. Inilah kebenaran yang sering kali tidak nyaman, karena lebih mudah menyalahkan faktor di luar diri kita daripada mengakui kondisi batin kita sendiri.
Sejak awal sejarah manusia, kecenderungan untuk menggeser kesalahan sudah terlihat. Adam menyalahkan Hawa, bahkan secara tersirat menyalahkan Tuhan yang “memberikan perempuan itu” kepadanya. Harun menyalahkan bangsa Israel ketika anak lembu emas dibuat. Pola ini terus berulang hingga hari ini. Kita menyalahkan iblis, orang lain, budaya, masa lalu, atau kelemahan pribadi, seakan-akan semua itu membebaskan kita dari tanggung jawab moral. Namun Alkitab tidak memberi ruang untuk pelarian semacam itu.
Yehezkiel 18:20 menyatakan dengan lugas: “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.” Pernyataan ini menekankan akuntabilitas pribadi. Setiap orang bertanggung jawab atas dosanya sendiri di hadapan Allah. Memang benar bahwa manusia tidak sanggup mencapai standar kekudusan Tuhan dengan kekuatannya sendiri, tetapi ketidakmampuan itu tidak menghapus tanggung jawab. Justru di sinilah kita menyadari betapa seriusnya dosa dan betapa besar kebutuhan kita akan anugerah.
Yakobus 1:15 melanjutkan bahwa keinginan yang dibiarkan akan melahirkan dosa, dan dosa yang sudah matang akan melahirkan maut. Dosa bukanlah peristiwa yang tiba-tiba; ia bertumbuh dari keinginan yang tidak ditundukkan kepada Tuhan. Karena itu, pertanggungjawaban pribadi bukan hanya tentang perbuatan yang tampak, tetapi juga tentang sikap hati yang kita pelihara setiap hari. Dosa hari ini mungkin terjadi karena adanya dosa-dosa sebelumnya.
Namun, Alkitab juga berhenti pada titik yang sangat penting: tanggung jawab bukan berarti hidup dalam penghukuman yang berkepanjangan. Bagi orang percaya, pengakuan dosa bukanlah pintu menuju rasa bersalah yang menghancurkan, melainkan jalan menuju pemulihan. “Jika kita mengaku dosa kita, Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita,” demikian janji dalam 1 Yohanes 1:9.
Amsal 28:13 menegaskan prinsip ini: “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” Menyembunyikan dosa hanya memperpanjang keterikatan kita padanya. Membantah adanya dosa, justru menambah dosa Sebaliknya, pengakuan yang jujur membuka jalan bagi belas kasihan dan perubahan hidup.
Puncak pengharapan kita terletak pada karya Kristus. Kita bertanggung jawab atas dosa kita, tetapi kita tidak menanggung hukumannya sendirian. “Ia sendiri menanggung dosa-dosa kita dalam tubuh-Nya di atas kayu salib,” tulis Petrus, “supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.” (1 Petrus 2:24). Salib adalah tempat di mana keadilan dan belas kasihan Allah bertemu. Di sanalah tanggung jawab manusia diakui, dan anugerah Allah dinyatakan sepenuhnya.
Renungan ini mengajak kita untuk berhenti menyalahkan dan mulai bertobat; berhenti bersembunyi dan mulai datang kepada terang. Tuhan yang berdaulat memanggil kita untuk hidup dalam tanggung jawab yang rendah hati, sambil bersandar penuh pada anugerah-Nya.
Doa Penutup
Tuhan yang kudus dan penuh kasih, kami mengakui bahwa sering kali kami lebih cepat menyalahkan daripada mengaku. Ajarlah kami untuk jujur melihat hati kami sendiri, dan berani bertanggung jawab atas dosa-dosa kami di hadapan-Mu. Terima kasih karena Engkau tidak meninggalkan kami dalam rasa bersalah, tetapi menyediakan pengampunan melalui Yesus Kristus. Tolong kami untuk meninggalkan dosa, hidup dalam pertobatan yang sejati, dan berjalan dalam kebenaran oleh kuasa Roh Kudus. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.