“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” 1 Timotius 4:12

Sering kali kita tidak menyadari bahwa hidup kita sering “dibaca” oleh orang lain. Bukan hanya oleh keluarga atau sesama orang percaya, tetapi juga oleh mereka yang belum mengenal Kristus. Cara kita berbicara, bersikap, mengambil keputusan, dan merespons situasi sulit menjadi semacam kesaksian diam yang berbicara lebih keras daripada khotbah panjang. Inilah yang ditekankan Rasul Paulus ketika ia menasihati Timotius agar menjadi teladan bagi orang-orang percaya.
Dalam 1 Timotius 4:12, Paulus tidak meminta Timotius untuk membuktikan diri lewat kemampuan intelektual atau wibawa usia, melainkan melalui kehidupan yang mencerminkan Kristus. “Jangan biarkan siapa pun memandang rendah kamu karena kamu masih muda,” tulis Paulus, “tetapi beri contoh dalam berbicara, dalam perilaku, dalam kasih, dalam iman dan dalam kemurnian.” Nasihat ini menunjukkan bahwa keteladanan Kristen lahir dari kehidupan sehari-hari yang dijalani dengan kesadaran akan hadirat Tuhan.
Yesus sendiri mengajarkan bahwa hidup orang percaya seharusnya menjadi terang. Dalam Matius 5:16 Ia berkata bahwa terang itu harus bercahaya, bukan untuk meninggikan diri, tetapi supaya orang lain melihat perbuatan baik dan memuliakan Bapa di sorga. Dengan kata lain, keteladanan bukan tentang membangun reputasi rohani, melainkan tentang menghadirkan karakter Allah di tengah dunia yang gelap dan terluka.
Perkataan kita sering menjadi pintu pertama yang dilihat orang. Ucapan yang lahir dari hati yang dekat dengan Tuhan akan membawa damai, pengharapan, dan penguatan. Sebaliknya, kata-kata yang sembrono, kasar, penuh kemarahan, atau merendahkan dapat merusak kesaksian kita dalam sekejap. Paulus mengingatkan agar perkataan orang percaya tidak memberi celah bagi orang lain untuk mencela iman kita, melainkan justru menyingkapkan kebijaksanaan dan kasih karunia Kristus.
Namun keteladanan tidak berhenti pada kata-kata. Perilaku kita sehari-hari—bagaimana kita bersikap saat tidak diperhatikan, bagaimana kita berlaku jujur ketika ada kesempatan untuk berkompromi—itulah cermin iman yang sesungguhnya. Yesus sendiri berkata kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah memberikan teladan agar mereka melakukan hal yang sama. Ia membasuh kaki murid-murid-Nya, sebuah tindakan rendah hati yang mengajarkan bahwa kebesaran dalam Kerajaan Allah dinyatakan melalui pelayanan.
Kasih menjadi kunci dari seluruh kehidupan Kristen. Kasih yang sejati tidak memilih-milih dan tidak menuntut balasan. Ketika kita mengasihi dengan tulus, mengampuni dengan rela, dan tetap berbuat baik meski disalahpahami, dunia melihat sesuatu yang berbeda. Kasih seperti inilah yang membuat iman Kristen hidup dan dapat dirasakan, bukan hanya diperdebatkan.
Iman juga tampak dalam cara kita mempercayakan hidup kepada Tuhan, terutama pada saat keadaan yang sulit. Ketika kita tetap berharap, berdoa, dan melangkah dalam ketaatan meski jalan tidak jelas, iman kita menjadi kesaksian yang kuat. Tidak heran Paulus berani berkata, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” Ia tahu bahwa hidupnya, dengan segala kelemahan manusiawi, sedang diarahkan untuk meneladani Tuhan.
Kemurnian melengkapi seluruh kesaksian ini. Kemurnian bukan hanya soal tindakan lahiriah, tetapi juga motivasi hati. Di dunia yang semakin kabur batas benar dan salah, komitmen untuk hidup kudus menjadi tanda bahwa kita sungguh-sungguh milik Tuhan. Kemurnian menunjukkan bahwa hidup kita tidak dikendalikan oleh keinginan diri, melainkan oleh kehendak Allah.
Memberi teladan bagi sesama bukan berarti kita harus sempurna. Justru dalam kerendahan hati, dalam pertobatan yang terus-menerus, dan dalam ketergantungan pada anugerah Tuhan, keteladanan itu menjadi nyata. Ketika orang lain melihat hidup kita, kiranya mereka tidak melihat kehebatan kita, tetapi melihat Kristus yang hidup dan bekerja di dalam kita hari demi hari.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih, terima kasih untuk firman-Mu yang mengingatkan kami akan panggilan untuk hidup sebagai teladan. Bentuklah hati dan hidup kami agar semakin serupa dengan Kristus. Jagalah perkataan kami, arahkan langkah kami, dan murnikan motivasi kami. Biarlah hidup kami menjadi terang yang memuliakan nama-Mu dan membawa orang lain lebih dekat kepada-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.