Apakah Orang Kristen Boleh Menikmati Hidupnya di Dunia?

“Oleh sebab itu aku memuji kesukaan, karena tak ada kebahagiaan lain bagi manusia di bawah matahari, kecuali makan dan minum dan bersukaria. Itu yang menyertainya di dalam jerih payahnya seumur hidupnya yang diberikan Allah kepadanya di bawah matahari.” Pengkhotbah 8:15

Bagi sebagian orang Kristen, menikmati hidup di dunia terasa seperti sesuatu yang mencurigakan. Ada ketakutan bahwa jika kita suka menikmati makanan, keindahan alam, tawa, atau keberhasilan kerja, kita sedang menjadi “kurang rohani”. Kekristenan lalu direduksi menjadi kehidupan yang muram, penuh larangan, dan kering dari sukacita. Pandangan ini, sering kali tanpa disadari, lebih dipengaruhi oleh warisan pemikiran filsafat—seperti Stoikisme atau bahkan etika Kant—daripada oleh Alkitab itu sendiri.

Kitab Pengkhotbah justru berbicara dengan jujur dan membumi. Di tengah refleksi tentang kesia-siaan hidup, ketidakadilan, dan keterbatasan manusia, sang Pengkhotbah tidak menarik kesimpulan bahwa manusia harus berhenti menikmati hidup. Sebaliknya, ia memuji kesukaan—makan, minum, dan bersukaria—sebagai bagian dari anugerah Allah di tengah jerih payah hidup. Menikmati hidup bukanlah pelarian dari iman, melainkan cara hidup yang sadar bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan.

Bagi orang Kristen, menikmati hidup dimulai dari rasa syukur atas hadiah sehari-hari. Hidup di dunia hanya sekali, karena itu kita harus bisa menikmatinya dengan cara yang benar. Makanan di meja, udara pagi, hujan yang menyegarkan tanah, percakapan sederhana dengan keluarga, bahkan pekerjaan rutin—semuanya bukan kebetulan, melainkan karunia. Ketika kita mengucap syukur, kenikmatan tidak berubah menjadi kerakusan. Syukur menempatkan kita sebagai penerima, bukan pemilik mutlak. Kita boleh menikmati berkat Tuhan tanpa merasa berhak secara mutlak.

Namun, sukacita Kristen tidak berhenti pada konsumsi atau kenyamanan. Pemenuhan yang lebih dalam lahir ketika hidup diarahkan untuk melayani dan menyenangkan Tuhan. Ada paradoks rohani di sini: semakin seseorang berpusat pada dirinya sendiri, semakin hampa hidupnya; tetapi ketika fokusnya bergeser kepada Kristus dan sesama, muncul sukacita yang lebih tahan uji. Melayani Tuhan—dalam keluarga, gereja, dan tindakan kecil sehari-hari—memberi makna yang tidak bisa diberikan oleh kesenangan sesaat.

Orang Kristen juga diajar untuk hidup di masa sekarang. Pengkhotbah berkali-kali mengingatkan bahwa kita tidak menguasai masa depan. Kekhawatiran berlebihan mencuri sukacita hari ini, sementara nostalgia yang berlebihan mengaburkan berkat yang sedang kita terima. Menikmati hidup berarti mempercayakan setiap musim—baik masa sulit maupun masa damai—ke dalam tangan Tuhan, sambil setia menjalani hari ini dengan iman.

Dimensi lain yang sering dilupakan adalah persekutuan dan komunitas. Allah tidak menciptakan manusia untuk hidup sendirian. Sukacita yang dibagikan justru menjadi lebih penuh. Dalam persekutuan orang percaya, kita belajar tertawa bersama, menangis bersama, menanggung beban, dan saling menguatkan. Komunitas bukan hanya tempat bertumbuh secara rohani, tetapi juga ruang di mana hidup dirayakan bersama dengan cara yang sehat.

Pengkhotbah juga menegaskan nilai kerja dan istirahat yang bertujuan. Kerja bukan kutuk semata, melainkan bagian dari panggilan manusia. Ketika kerja dipandang sebagai anugerah, bukan berhala, kita bisa menikmatinya tanpa diperbudak olehnya. Demikian pula istirahat—bukan kemalasan, tetapi pengakuan bahwa kita bukan Allah. Ritme kerja dan istirahat yang seimbang adalah bentuk ibadah yang sering luput disadari.

Menikmati hidup secara Kristen juga berarti mempertahankan perspektif yang ringan dan penuh pengharapan. Ada kebijaksanaan rohani dalam belajar menertawakan diri sendiri, tidak selalu mengambil hidup terlalu serius, dan bersandar pada kasih Tuhan ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Sukacita bukan berarti menutup mata terhadap penderitaan, melainkan melihatnya dalam terang kesetiaan Allah.

Namun, Alkitab juga memberi peringatan tegas: menikmati hidup tidak sama dengan menyembah ciptaan. Ketika hal-hal baik—uang, kenyamanan, relasi, bahkan pelayanan—menggantikan posisi Allah, kenikmatan berubah menjadi berhala. Orang Kristen dipanggil untuk menikmati ciptaan sambil tetap menyembah Sang Pencipta.

Pada akhirnya, Yesus berkata bahwa Ia datang supaya manusia mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan:

“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”Yohanes 10:10

Kehidupan yang berlimpah bukanlah hidup tanpa salib, tetapi hidup yang berjalan dalam ketaatan, rasa syukur, dan keintiman dengan Tuhan. Di sanalah orang Kristen menemukan bahwa menikmati hidup di dunia bukanlah dosa, melainkan anugerah—selama hidup itu dijalani di hadapan Allah.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas hidup yang Engkau berikan—dengan segala jerih payah, keindahan, dan keterbatasannya. Ajarlah kami menikmati setiap anugerah-Mu dengan hati yang bersyukur, tanpa menjadikannya berhala. Tolong kami menemukan sukacita yang sejati dalam Engkau, dalam melayani, dalam persekutuan, dan dalam ketaatan setiap hari. Mampukan kami hidup dengan ringan namun bermakna, berakar di dunia ini tetapi tertuju pada kekekalan. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar