“Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Bilangan 6:25–26

Senyum adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Ia bisa muncul spontan, tanpa disadari, bahkan sejak seseorang masih bayi. Namun seiring waktu, senyum juga dipelajari. Kita belajar kapan harus tersenyum, kepada siapa, dan untuk tujuan apa. Ada senyum yang tulus, ada pula senyum yang dibuat-buat. Ada orang yang mudah tersenyum, tetapi ada juga yang canggung, salah waktu, atau bahkan lupa bagaimana caranya tersenyum dengan benar.
Karena itu, senyum bukan sekadar soal otot wajah. Ia berkaitan dengan hati, pengalaman hidup, dan relasi. Seseorang yang sering terluka akan lebih sulit tersenyum. Seseorang yang hidup dalam ketakutan atau rasa bersalah sering kali kehilangan senyumnya, meskipun bibirnya masih bisa terangkat. Dan seorang yang jahat sering tersenyum melihat penderitaan orang lain.
Di sinilah Alkitab membawa kita kepada gambaran yang indah: senyum Tuhan.
Memang, Alkitab jarang menggunakan kata “tersenyum” secara harfiah untuk menggambarkan Allah. Namun Kitab Suci kaya dengan metafora tentang wajah Tuhan yang bersinar, Tuhan yang menghadapkan wajah-Nya, dan Tuhan yang berkenan kepada umat-Nya. Dalam budaya Ibrani, wajah yang bersinar adalah tanda perkenanan, kehadiran, dan kasih yang aktif. Wajah yang berpaling adalah tanda murka atau penarikan berkat. Maka ketika imam mengucapkan berkat dalam Bilangan 6, itu bukan sekadar kata-kata liturgis—itu adalah doa agar umat hidup di bawah senyum Tuhan. Senyum yang suci dan berasal dari kasih yang tulus.
“Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya.” Kalimat ini menyiratkan bahwa hidup kita berada dalam sorotan kasih Allah. Kita tidak berjalan dalam bayang-bayang kecurigaan ilahi, tetapi dalam terang perkenanan-Nya. Inilah dasar damai sejahtera sejati: bukan karena keadaan hidup mudah, tetapi karena wajah Tuhan tidak berpaling dari kita.
Alkitab menunjukkan bahwa senyum Tuhan adalah tanda berkat. Bukan berkat yang selalu spektakuler, tetapi berkat yang meneguhkan. Tuhan tersenyum ketika Ia berkenan, ketika Ia menyatakan kasih karunia-Nya, dan ketika Ia memberi damai sejahtera. Damai yang bukan sekadar ketiadaan masalah, melainkan keutuhan batin di hadapan Allah.
Tuhan juga digambarkan bersukacita atas ketaatan dan iman umat-Nya. Nuh tidak membangun bahtera untuk mencari pujian manusia, tetapi karena percaya dan taat. Alkitab mencatat bahwa Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Itu bahasa relasi—sebuah senyum ilahi yang lahir dari iman, bukan kesempurnaan.
Lebih jauh lagi, Zefanya 3:17 membawa kita pada gambaran yang sangat personal: Tuhan bersukacita atas umat-Nya dengan nyanyian. Ini bukan Tuhan yang dingin atau jauh, melainkan Allah yang berelasi, yang menikmati kehadiran anak-anak-Nya. Tuhan tidak hanya “menerima” kita; Ia bersukacita atas kita.
Yang sering kita lupakan, Tuhan juga berkenan dalam hal-hal sehari-hari. Mazmur 37:23 menyatakan bahwa langkah orang benar ditetapkan Tuhan, dan Ia berkenan kepadanya. Tuhan tidak hanya tersenyum ketika kita berdoa atau beribadah, tetapi juga ketika kita bekerja dengan jujur, mengasihi keluarga, bersabar dalam kesulitan, dan berjalan setia dalam hal-hal kecil.
Maka, apa artinya “kita tersenyum jika Tuhan tersenyum”?
Artinya, sukacita kita bukan bergantung pada ekspresi dunia atau kehendak kita, tetapi pada perkenanan Allah. Kita bisa tersenyum bukan karena hidup selalu ramah, tetapi karena wajah Tuhan bersinar atas kita. Senyum orang percaya bukan topeng kepura-puraan, melainkan refleksi kasih dari damai sejahtera yang lahir dari relasi dengan Allah.
Ketika kita hidup dengan kesadaran bahwa Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepada kita—bukan menjauh—maka senyum menjadi respons alami. Bukan senyum yang menutupi luka, tetapi senyum yang lahir dari pengharapan. Senyum yang tahu bahwa kasih Tuhan tidak goyah oleh kegagalan kita, dan tidak tergantung pada prestasi kita. Senyum yang lahir dari kenyataan bahwa Tuhan mengasihi semua orang dari semua bangsa.
Pada akhirnya, senyum Tuhan adalah gambaran kuat tentang kasih, persetujuan, dan keintiman-Nya dengan anak-anak-Nya. Dan ketika kita hidup di bawah senyum itu, senyum kita sendiri menjadi kesaksian—bahwa Allah itu baik, dekat, dan penuh kasih karunia.
Doa Penutup
Tuhan yang penuh kasih,
Terima kasih karena wajah-Mu tidak berpaling dari kami.
Terima kasih karena Engkau menyinari hidup kami dengan kasih karunia dan memberi kami damai sejahtera.
Ajarlah kami untuk hidup di bawah senyum-Mu, bukan mencari perkenanan manusia,melainkan setia berjalan dalam terang hadirat-Mu.
Pulihkan sukacita kami ketika hati kami lelah,lembutkan wajah kami ketika hidup terasa berat, dan biarlah senyum kami menjadi cerminan kasih-Mu bagi seisi dunia.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.
Amin.