Hari Sabat Bukan Hanya Sehari

“Lalu kata Yesus kepada mereka: Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Markus 2:27

Banyak orang Kristen yang pergi ke gereja pada hari Sabtu atau hari Minggu, memahami hari Sabat secara sempit: satu hari dalam seminggu untuk berhenti bekerja, pergi ke gereja, lalu kembali ke rutinitas biasa. Sabat sering kali direduksi menjadi kewajiban rohani—sesuatu yang harus dilakukan agar kita dianggap taat. Namun Yesus membongkar cara berpikir ini dengan kalimat yang sederhana tetapi radikal: hari Sabat dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.

Yesus mengucapkan perkataan ini ketika orang-orang Farisi menuduh murid-murid-Nya melanggar Sabat karena memetik bulir gandum. Bagi orang Farisi, Sabat adalah hukum yang kaku, pagar aturan yang harus dijaga dengan ketat. Tetapi bagi Yesus, Sabat adalah anugerah. Ia bukan jebakan hukum, melainkan ruang kasih karunia. Sabat ada untuk memulihkan manusia—tubuhnya, jiwanya, dan relasinya dengan Allah.

Artinya, jika kita datang ke gereja sekali seminggu, beribadah, bernyanyi, dan mendengarkan firman, semua itu bukanlah tujuan akhir. Itu adalah sarana. Tuhan tidak membutuhkan kehadiran kita untuk bisa merasa dihormati; tapi kitalah yang membutuhkan hadirat-Nya untuk dipulihkan. Sabat tidak dimaksudkan untuk memberatkan, tetapi untuk memberkati umat Tuhan.

Namun realitas zaman ini jauh lebih rumit. Dunia modern hampir tidak mengenal jeda. Teknologi seperti ponsel, membuat kita selalu terhubung, dan tuntutan hidup membuat kita selalu siaga. Bahkan ketika kita “beristirahat”, pikiran kita tetap bekerja: memikirkan pekerjaan, keuangan, masa depan, atau hal-hal yang belum selesai. Dunia—dan Alkitab tidak ragu menyebutnya sebagai sistem yang jatuh—akan membuat kita bekerja bahkan saat kita sedang beristirahat.

Di sinilah kontras besar itu muncul. Dunia menawarkan istirahat yang palsu: tubuh berhenti, tetapi jiwa gelisah. Sebaliknya, Yesus menawarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: istirahat sejati, bahkan ketika kita sedang bekerja. Ia berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Kelegaan yang Ia tawarkan bukan sekadar libur, melainkan damai sejahtera batin.

Inilah yang dapat kita sebut sebagai “istirahat Sabat” yang sejati. Bukan hanya satu hari tanpa kerja, tetapi sebuah keadaan hati. Jalan dunia adalah bekerja dalam istirahat: kecemasan tidak pernah berhenti, identitas ditentukan oleh produktivitas, nilai diri diukur dari hasil. Jalan Yesus adalah beristirahat dalam pekerjaan: bekerja dengan setia, tetapi hati tetap tenang karena percaya bahwa hidup ini ada di tangan Tuhan.

Istirahat semacam ini menuntut pergeseran besar dalam iman. Dari kemandirian menuju ketergantungan. Dari keharusan membuktikan diri menuju penerimaan kasih karunia. Dari rasa takut kekurangan menuju kepercayaan bahwa Allah adalah Pemelihara. Ketika kita sungguh percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan ketika kita berhenti, maka kita bisa berhenti tanpa rasa bersalah. Dan ketika kita sungguh percaya bahwa nilai kita ada di dalam Kristus, kita bisa bekerja tanpa tekanan berlebihan.

Maka, mengapa kita perlu beristirahat lebih dari sehari dalam seminggu? Karena Sabat bukan hanya soal kalender, tetapi soal orientasi hidup. Kita dipanggil bukan hanya untuk memiliki satu hari Sabat, tetapi untuk menjalani hidup yang bersabat dengan Sabat—hidup yang berakar pada damai sejahtera Allah. Pergi ke gereja mingguan adalah penting, tetapi hati yang beristirahat di dalam Tuhan setiap hari jauh lebih penting.

Pada akhirnya, iman Kristen tidak mengajarkan kita melarikan diri dari pekerjaan, tetapi menebusnya. Kita bekerja, tetapi tidak diperbudak olehnya. Kita beristirahat, bukan untuk malas, tetapi untuk diingatkan bahwa kita adalah ciptaan yang dikasihi, bukan mesin produksi. Dan di dalam Kristus, kita belajar sebuah rahasia yang dunia tidak mengerti: kita dapat menemukan damai bahkan di tengah kesibukan, karena Sabat sejati hidup di dalam hati yang percaya.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,

Kami bersyukur karena Engkau tidak menciptakan kami untuk kelelahan tanpa akhir. Engkau memberikan Sabat sebagai anugerah, bukan sebagai beban. Ampuni kami jika selama ini kami lebih taat pada tuntutan dunia daripada pada undangan-Mu untuk beristirahat di dalam kasih karunia-Mu.

Ajarlah kami memiliki hati yang tenang—hati yang percaya bahwa hidup kami ada di tangan-Mu. Mampukan kami untuk bekerja dengan setia tanpa kehilangan damai, dan beristirahat tanpa rasa bersalah. Biarlah istirahat Sabat-Mu bukan hanya kami alami satu hari dalam seminggu, tetapi menjadi irama hidup kami setiap hari.

Di dalam nama Yesus, Sang Tuhan atas hari Sabat, kami berdoa.

Amin.

Tinggalkan komentar