Mengapa Ada Penderitaan?

“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Wahyu‬ ‭21‬:‭4‬‬

Salah satu pertanyaan paling tua dan paling jujur yang pernah keluar dari hati manusia adalah ini: mengapa ada penderitaan? Ketika rasa sakit datang—penyakit, kehilangan, ketidakadilan, bencana—banyak orang dengan cepat menarik kesimpulan bahwa Tuhan pasti kejam, atau setidaknya tidak peduli. Namun Alkitab justru mengajak kita melihat penderitaan bukan sebagai bukti kekejaman Tuhan, melainkan sebagai tanda bahwa dunia ini tidak lagi seperti yang seharusnya.

Kitab Kejadian menggambarkan bahwa pada mulanya Tuhan menciptakan dunia dan menyebutnya “sangat baik”. Tidak ada air mata, tidak ada kematian, tidak ada rasa sakit. Namun dalam Kejadian 3, ketika Adam dan Hawa memilih ketidaktaatan, dosa masuk ke dalam ciptaan. Sejak saat itu, bukan hanya manusia yang rusak, tetapi seluruh tatanan ciptaan ikut terpengaruh. Rasa sakit, penderitaan, dan kematian bukanlah rancangan awal Tuhan, melainkan konsekuensi dari kejatuhan manusia.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa seluruh ciptaan “ditaklukkan kepada kesia-siaan” dan sekarang “mengerang” sambil menantikan pemulihan (Roma 8:20–23). Dunia yang kita tinggali adalah dunia yang terluka: penyakit muncul, alam tidak stabil, relasi rusak, dan kematian menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Inilah sebabnya penderitaan bersifat universal—menjangkau orang baik maupun jahat.

Selain akibat dosa yang bersifat menyeluruh, Alkitab juga mengakui bahwa penderitaan sering muncul sebagai akibat langsung dari pilihan manusia. Dosa pribadi maupun dosa sosial membawa konsekuensi nyata. Yakobus menulis bahwa konflik dan peperangan sering lahir dari hawa nafsu manusia sendiri. Dalam banyak kasus, penderitaan bukanlah misteri besar, melainkan hasil pahit dari keputusan yang keliru—baik oleh diri kita sendiri maupun oleh orang lain, yang dilakukan secara sadar maupun tidak.

Namun Alkitab juga membuka dimensi lain yang sering kita lupakan: adanya pergumulan rohani. Kita hidup di tengah peperangan yang tidak kelihatan. Iblis digambarkan sebagai singa yang mengaum-aum, mencari siapa yang dapat ditelannya. Ini menjelaskan mengapa kejahatan kadang terasa begitu agresif dan tidak masuk akal. Dunia ini bukan hanya rusak; dunia ini juga sedang diperebutkan.

Bagi orang percaya, ada satu bentuk penderitaan yang bahkan dijanjikan: penderitaan karena kebenaran. Yesus dengan jujur berkata bahwa murid-murid-Nya akan mengalami penolakan sebagaimana Ia ditolak. Kesetiaan kepada Kristus tidak menjamin hidup yang nyaman, tetapi menjamin hidup yang bermakna.

Lalu di manakah Tuhan di tengah semua ini? Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan bukan pencipta penderitaan, tetapi Ia tetap berdaulat di atasnya. Dalam kedaulatan-Nya, Tuhan mengizinkan penderitaan untuk maksud-maksud yang sering baru kita pahami dari kejauhan.

Penderitaan membentuk ketekunan, karakter, dan pengharapan. Ia melatih hati kita, meruntuhkan kemandirian palsu, dan mengajar kita bersandar kepada anugerah Tuhan. Banyak orang baru benar-benar mengenal Tuhan bukan di puncak keberhasilan, melainkan di lembah air mata. Bahkan Paulus mengakui bahwa kelemahan menjadi tempat nyata bagi kuasa Kristus.

Lebih dari itu, penderitaan mempersiapkan kita bagi kemuliaan. Paulus menyebut penderitaan saat ini “ringan dan sesaat” bila dibandingkan dengan kemuliaan kekal yang akan dinyatakan. Dan melalui luka kita sendiri, kita diperlengkapi untuk menghibur orang lain dengan penghiburan yang berasal dari Tuhan.

Akhirnya, Alkitab tidak berhenti pada penjelasan, tetapi membawa kita kepada pengharapan. Penderitaan bukan kata terakhir. Dalam Wahyu 21:4 kita membaca janji yang luar biasa: Tuhan sendiri akan menghapus setiap air mata. Kematian, perkabungan, ratap tangis, dan dukacita akan berlalu. Semua yang rusak akan dipulihkan.

Iman Kristen tidak berkata bahwa penderitaan itu sepele. Ia berkata bahwa penderitaan itu sementara, dan bahwa Tuhan tidak jauh dari orang yang menderita. Ia adalah Allah yang pernah menangis, terluka, dan mati—agar suatu hari nanti tidak ada lagi air mata.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, di tengah dunia yang penuh luka dan air mata, kami datang kepada-Mu dengan hati yang rapuh. Kami mengakui bahwa sering kali kami tidak mengerti jalan-Mu, dan rasa sakit membuat kami bertanya-tanya tentang kehadiran-Mu. Ampuni kami ketika kami menilai-Mu dari penderitaan kami, bukan dari salib Kristus.

Teguhkan iman kami untuk percaya bahwa Engkau tetap bekerja, bahkan ketika kami tidak melihatnya. Ajari kami berharap bukan pada keadaan, tetapi pada janji-Mu. Pakailah penderitaan kami untuk membentuk hati yang lebih lembut, iman yang lebih dalam, dan kasih yang lebih tulus.

Kami menantikan hari ketika Engkau menghapus setiap air mata, dan segala sesuatu yang lama berlalu. Sampai hari itu tiba, berjalanlah bersama kami, ya Tuhan.

Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar