Kedudukan Pria dan Wanita di Hadapan Tuhan

“Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.” 1 Korintus 11:11–12

Perbincangan tentang kedudukan pria dan wanita hampir selalu sarat emosi. Di satu sisi, dunia modern semakin sadar akan pentingnya kesetaraan gender. Di sisi lain, realitas menunjukkan bahwa perempuan masih sering dipandang lebih rendah, baik secara terselubung maupun terang-terangan. Budaya patriarki yang mengakar panjang telah membentuk cara berpikir banyak masyarakat—bahkan kadang tanpa disadari, cara berpikir ini ikut terbawa ke dalam gereja.

Kesenjangan karier dan gaji masih menjadi cerita umum. Banyak perempuan bekerja dengan kompetensi dan tanggung jawab yang sama, namun menerima penghargaan yang lebih rendah dan akses terbatas ke posisi kepemimpinan. Di ranah sosial, stereotip lama terus hidup: perempuan dianggap terlalu emosional, kurang rasional, atau hanya pelengkap. Di rumah, banyak perempuan menanggung beban ganda—mengurus rumah tangga sekaligus dituntut berprestasi di luar—yang sering berujung pada kelelahan fisik dan batin. Tidak sedikit pula yang menjadi korban kekerasan, sebagian karena anggapan bahwa posisi mereka memang “di bawah”.

Akar dari semua ini bukan sekadar persoalan kebijakan atau ekonomi, tetapi persoalan cara pandang: stigma bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki. Jika akar ini tidak dirombak, berbagai program pemberdayaan hanya akan menjadi solusi sementara. Di sinilah firman Tuhan menantang kita untuk kembali melihat manusia dengan mata Sang Pencipta.

Alkitab sejak awal menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27). Pernyataan ini sederhana, tetapi radikal. Nilai manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, kekuatan fisik, atau peran sosial, melainkan oleh fakta bahwa ia mencerminkan Sang Pencipta. Dalam mandat budaya, Allah tidak hanya berbicara kepada Adam, tetapi kepada keduanya: “Beranakcuculah dan penuhilah bumi.” Keduanya dipanggil untuk berpartisipasi, bukan satu menguasai yang lain.

Rasul Paulus, yang sering disalahpahami sebagai anti-perempuan, justru menulis dengan keseimbangan yang indah dalam 1 Korintus 11. Ia mengingatkan bahwa dalam Tuhan tidak ada relasi sepihak: perempuan berasal dari laki-laki, tetapi laki-laki lahir melalui perempuan, dan pada akhirnya segala sesuatu berasal dari Allah. Dengan kata lain, tidak ada alasan bagi satu pihak untuk merasa lebih tinggi. Ketergantungan yang saling mengikat ini meniadakan kesombongan dan meruntuhkan hierarki nilai perseorangan.

Pelayanan Yesus sendiri menjadi kesaksian kuat. Ia berbicara dengan perempuan secara terbuka, memulihkan martabat mereka, dan menerima mereka sebagai murid. Perempuan-perempuan hadir setia di kaki salib ketika banyak murid laki-laki melarikan diri. Bahkan kebangkitan Kristus pertama kali diberitakan kepada perempuan—sebuah fakta yang sangat signifikan dalam konteks budaya saat itu.

Dalam pelayanan gereja mula-mula, Paulus menyebut nama-nama perempuan dengan hormat: Febe sebagai diakon, Priskila sebagai rekan pengajar, dan Yunias yang dicatat “terkenal di antara para rasul”. Ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi pernyataan teologis bahwa Tuhan bekerja melalui siapa pun yang Ia kehendaki, tanpa membatasi nilai berdasarkan gender.

Memang, Alkitab juga berbicara tentang peran yang berbeda dalam keluarga dan gereja. Namun perbedaan peran tidak pernah dimaksudkan sebagai perbedaan nilai. Peran adalah soal fungsi, bukan martabat. Seperti tubuh dengan banyak anggota, setiap bagian memiliki tugas yang berbeda, tetapi semuanya sama-sama penting. Ketika perbedaan peran dipakai untuk menindas, saat itulah manusia menyimpang dari maksud Tuhan.

Renungan ini mengajak kita bercermin: apakah cara kita memandang perempuan—di rumah, di tempat kerja, dan di gereja—sudah mencerminkan cara Tuhan memandang mereka? Menghormati perempuan bukan mengikuti tren zaman, melainkan kembali pada kebenaran firman. Di hadapan Tuhan, pria dan wanita berdiri sejajar sebagai ciptaan yang dikasihi, ditebus oleh darah yang sama, dan dipanggil untuk melayani dalam kasih yang saling melengkapi.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh hikmat dan kasih,

Kami bersyukur karena Engkau menciptakan laki-laki dan perempuan menurut gambar-Mu. Ampuni kami jika cara pandang, perkataan, dan tindakan kami masih dipengaruhi oleh kesombongan dan stigma yang melukai sesama.

Ajarlah kami melihat satu sama lain dengan mata-Mu—mata yang memulihkan dan memuliakan. Tolonglah kami membangun keluarga, gereja, dan masyarakat yang mencerminkan keadilan, hormat, dan kasih Kristus. Biarlah perbedaan yang ada menjadi kekuatan untuk saling melayani, bukan alasan untuk meninggikan diri.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar