“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” 2 Korintus 5:17

Anda mau beli mobil baru? Atau Anda baru saja membeli mobil? Mobil baru bukanlah mobil lama yang dicat ulang supaya terlihat segar. Mobil baru juga bukan mobil lama yang “baru dibeli”, dan bahkan bukan mobil yang masih tampak mengilap tetapi sudah pernah dipakai sebagai mobil demo. Mobil baru berarti benar-benar baru: riwayatnya bersih, belum pernah dipakai, dan tidak membawa cerita masa lalu. Kita sangat peka terhadap perbedaan itu. Tidak ada orang yang mau membayar harga mobil baru untuk sesuatu yang sebenarnya bukan 100% baru. Kita tahu persis bahwa ada perbedaan besar antara “kelihatan baru” dan “sungguh-sungguh baru”.
Paulus memakai cara berpikir yang jauh lebih radikal ketika ia berbicara tentang kehidupan orang percaya. Ia tidak mengatakan bahwa orang yang ada di dalam Kristus adalah manusia lama yang diperbaiki, diperhalus, atau diperbarui sedikit demi sedikit. Ia berkata dengan tegas: ia adalah ciptaan baru. Yang lama bukan sekadar disamarkan, tetapi sudah berlalu. Yang baru bukan sekadar janji, tetapi sudah datang.
Dalam konteks 2 Korintus 5, Paulus menjelaskan bahwa kematian Kristus telah mengubah cara ia memandang manusia. Dahulu, ia melihat orang “menurut ukuran manusia”—berdasarkan latar belakang, status, atau sejarah hidup. Sekarang, ia tidak bisa lagi melihat dengan cara itu. Salib Kristus telah mengubah pusat segalanya. Siapa pun yang “di dalam Kristus” adalah seseorang dengan identitas yang sama sekali baru.
Ungkapan “di dalam Kristus” bukan bahasa rohani kosong. Itu menunjuk pada posisi hidup seseorang di hadapan Allah. Orang yang ada di dalam Kristus adalah orang yang percaya kepada-Nya, yang dosanya telah diampuni oleh kematian Kristus, dan yang kebenaran Kristus diperhitungkan baginya. Ia tidak lagi berdiri di hadapan Allah sebagai manusia yang jatuh, melainkan sebagai manusia yang dipersatukan dengan Kristus. Inilah dasar mengapa ia disebut ciptaan baru.
Namun, di sinilah kita perlu jujur terhadap kenyataan hidup. Tidak semua orang yang mengaku Kristen sungguh hidup sebagai ciptaan baru. Ada yang tetap berpikir, berbicara, dan hidup seperti manusia lama. Ada yang merasa cukup dengan identitas agama, tetapi tidak pernah mengalami pembaruan hati. Ada yang hidup dalam mimpi rohani—merasa aman karena status “Kristen”, tetapi tidak pernah membiarkan Injil mengubah arah hidupnya.
Menjadi ciptaan baru tidak berarti kita langsung menjadi sempurna. Paulus sendiri sangat sadar akan pergumulan melawan dosa. Tetapi ada perbedaan yang mendasar: pusat hidupnya berubah. Yang lama “sudah berlalu”—bukan berarti tidak pernah muncul lagi, tetapi tidak lagi berkuasa. Yang baru “sudah datang”—bukan berarti tidak ada proses, tetapi ada arah hidup yang jelas.
Hidup sebagai ciptaan baru menuntut iman—iman untuk percaya bahwa apa yang Allah katakan tentang kita lebih benar daripada perasaan kita, pengalaman kita, atau penilaian orang lain. Iblis mungkin terus mengingatkan kita akan kegagalan lama, tetapi Injil menyatakan bahwa di dalam Kristus, riwayat itu telah ditutup. Dalam Kristus kita sudah sepenuhnya ditebus.
Masalahnya, banyak orang Kristen masih mendefinisikan diri mereka dengan masa lalu. “Saya memang seperti ini dari dulu.” “Saya tidak mungkin bisa berubah.” “Dosa ini sudah menjadi bagian dari diri saya.” “Yang penting saya sudah percaya.” Tanpa kita sadari, itu menyatakan bahwa kita percaya bahwa Yesus membayar harga manusia baru dengan nyawa-Nya untuk manusia lama yang tidak mau diperbarui menurut keputusan Tuhan, tetapi yang hanya mau diperbaiki menurut cara dan kemauan diri sendiri.
Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah saya sungguh hidup sebagai ciptaan baru, atau hanya tampak baru dari luar? Apakah saya masih memelihara dosa lama sambil berharap akan hidup baru? Apakah saya masih melihat diri saya dengan kacamata lama, padahal Allah melihat saya di dalam Kristus?
Kabar baiknya, ciptaan baru bukan proyek yang harus kita kerjakan sendiri. Itu adalah karya Allah yang terus diperbarui oleh Roh Kudus. Kita dipanggil bukan untuk menciptakan identitas baru, melainkan untuk hidup sesuai dengan identitas yang telah diberikan. Setiap hari kita belajar meninggalkan yang lama dan mengenakan yang baru—bukan supaya Allah menerima kita, tetapi karena Allah sudah menerima kita di dalam Kristus.
Doa Penutup
Tuhan Allah kami,
Kami bersyukur karena di dalam Kristus Engkau tidak sekadar memperbaiki kami, tetapi menciptakan kami kembali. Ampuni kami bila kami sering hidup seolah-olah kami masih orang lama, terikat oleh dosa, ketakutan, dan cara berpikir yang tidak Engkau kehendaki. Tolong kami untuk melihat diri kami dengan mata-Mu—sebagai ciptaan baru di dalam Kristus. Beri kami iman untuk hidup sesuai dengan identitas yang telah Engkau berikan, dan kerendahan hati untuk terus dibentuk oleh Roh Kudus-Mu. Biarlah hidup kami memuliakan Engkau, bukan sebagai manusia lama yang dipoles, tetapi sebagai manusia baru yang ditebus.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.