Apakah Anda Bertumbuh Menjadi Dewasa?

“Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Efesus‬ ‭4‬:‭11‬-‭13‬‬

Ada perbedaan besar antara hidup dan bertumbuh. Seorang bayi yang baru lahir sungguh hidup, tetapi belum dewasa. Ia memiliki semua potensi kehidupan, namun belum memiliki kekuatan, kebijaksanaan, dan keteguhan seorang dewasa. Hal yang sama berlaku dalam kehidupan Kristen. Ketika seseorang dilahirkan kembali, ia sungguh-sungguh dihidupkan secara rohani. Namun pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah ia hidup, melainkan apakah ia kemudian terus bertumbuh.

Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa kelahiran baru adalah peristiwa seketika. Itu adalah pekerjaan Allah yang berdaulat—bukan hasil usaha manusia. Dalam satu momen, seseorang dipindahkan dari kematian rohani kepada kehidupan, dari status musuh Allah menjadi anak yang diadopsi-Nya. Tidak ada tahap-tahap, tidak ada proses bertahap dalam kelahiran baru. Sama seperti kelahiran fisik, tidak ada orang yang “setengah lahir”; ia lahir atau tidak.

Namun, kelahiran bukanlah akhir cerita—itu justru permulaan. Paulus dalam Efesus 4 tidak berhenti pada fakta bahwa kita telah diselamatkan. Ia berbicara tentang tujuan Allah setelah keselamatan itu terjadi: kedewasaan penuh, melalui pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Dengan kata lain, Allah bukan hanya ingin anak-anak-Nya hidup, tetapi juga bertumbuh.

Kelahiran selalu diikuti oleh pertumbuhan. Seorang bayi yang tidak bertumbuh akan menimbulkan kekhawatiran. Demikian pula, kehidupan Kristen yang tidak menunjukkan pertumbuhan seharusnya mendorong refleksi yang jujur. Apakah ada nutrisi yang kurang? Apakah ada penyakit yang menghambat? Atau apakah ada penolakan terhadap proses pertumbuhan itu sendiri? Di sinilah kita melihat perbedaan antara posisi dan praktik.

Dalam kelahiran baru, posisi kita di hadapan Allah berubah secara instan. Kita dibenarkan, diampuni, dan diterima sepenuhnya di dalam Kristus. Namun praktik hidup kita—cara berpikir, bereaksi, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain—dibentuk melalui proses panjang. Kekudusan bukan sesuatu yang otomatis, melainkan sesuatu yang dipelajari dan dijalani setiap hari.

Paulus juga menyinggung peran pikiran dalam proses ini. Roh kita diperbarui secara instan, tetapi jiwa kita—pikiran, kehendak, dan emosi—perlu terus ditransformasi. Pola pikir lama tidak hilang begitu saja. Kebiasaan lama tidak otomatis lenyap. Ada proses “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru”, yang membutuhkan kesediaan untuk diajar, ditegur, dan dibentuk oleh Firman Tuhan.

Kedewasaan rohani tidak diukur dari lamanya seseorang menjadi Kristen, tetapi dari buah yang dihasilkan hidupnya. Alkitab menyebutkan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Buah-buah ini tidak tumbuh dalam semalam. Mereka muncul perlahan, melalui ketaatan yang konsisten dan hubungan yang hidup dengan Kristus dan sesama.

Sayangnya, tidak sedikit orang Kristen yang tetap berada dalam tahap “bayi rohani” selama bertahun-tahun. Bukan karena mereka tidak memiliki potensi, melainkan karena mereka menolak proses. Ada yang enggan ditegur, ada yang jarang ke gereja, ada yang nyaman dengan dosa tertentu, ada pula yang hanya menjadi pendengar Firman tanpa pernah mempraktikkannya. Dalam hal ini, pertumbuhan selalu menuntut perubahan, dan perubahan sering kali terasa tidak nyaman untuk kebebasan duniawi.

Efesus 4 juga menegaskan bahwa Allah memberi pemimpin-pemimpin rohani bukan untuk menggantikan pertumbuhan kita, tetapi untuk memperlengkapi kita. Gereja bukan tempat penonton rohani, melainkan komunitas yang sedang dibangun bersama menuju kedewasaan. Setiap orang dipanggil untuk bertumbuh dan, pada waktunya, turut menolong orang lain bertumbuh.

Pada akhirnya, kedewasaan rohani bukanlah tujuan yang “sekali tercapai lalu selesai”. Penginjil terkenal Billy Graham sering menyatakan bahwa ini adalah perjalanan seumur hidup. Bahkan orang percaya yang paling matang pun tetap merupakan “pekerjaan yang sedang berlangsung”. Kesempurnaan penuh baru akan kita alami ketika Kristus datang kembali. Namun selama kita masih hidup di dunia ini, panggilan kita jelas: terus bertumbuh, terus dibentuk, terus menjadi semakin serupa dengan Dia.

Maka pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing: Apakah Anda hanya terdaftar di KTP sebagai orang Kristen, ataukah Anda sungguh-sungguh bertumbuh menuju kedewasaan di dalam Kristus?

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,

Terima kasih karena Engkau telah melahirkan kami kembali oleh anugerah-Mu yang ajaib. Kami bersyukur karena keselamatan adalah pemberian-Mu, bukan hasil usaha kami. Namun hari ini kami juga mengakui, bahwa sering kali kami puas hanya dengan “lahir”, tetapi enggan untuk “bertumbuh”.

Ajarlah kami untuk rindu akan kedewasaan rohani. Lembutkan hati kami agar mau dibentuk, ditegur, dan diubah oleh Firman-Mu. Tolong kami meninggalkan pola pikir lama dan mengenakan hidup yang baru di dalam Kristus. Biarlah buah Roh nyata dalam hidup kami, sehingga orang lain dapat melihat karya-Mu melalui kami.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar