Ketika kita berusaha menebus kepahitan dosa

“Sebab siapa yang menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian saja, ia bersalah terhadap seluruhnya. Yakobus 2:10

Ada sebuah ilustrasi yang sering terdengar bijak: Jika kita mengalami hal yang tidak menyenangkan, atau melakukan hal yang tidak baik—diibaratkan seperti segelas air yang asin karena sesendok garam—maka solusinya adalah menambahkan lebih banyak air. Semakin banyak air dituangkan, semakin berkurang rasa asinnya. Ilustrasi ini lalu ditarik ke ranah moral: kesalahan masa lalu memang tidak bisa dihapus, tetapi dengan melakukan semakin banyak kebaikan, dampak buruknya akan terasa semakin ringan.

Sekilas, ini terdengar masuk akal. Bahkan terasa menenangkan. Baik-buruknya hidup kita sepenuhnya ada dalam tangan kita sendiri. Namun, jika direnungkan lebih dalam, ada sesuatu yang mengganggu. Terutama bila kita melihatnya dari terang Firman Tuhan.

Masalah pertama dari ilustrasi ini adalah cara ia memandang dosa. Dosa diperlakukan seperti rasa asin—sekadar ketidakbenaran yang bisa dikurangi intensitasnya. Padahal, Alkitab tidak pernah menggambarkan dosa sebagai masalah perasaan manusia, melainkan sebagai masalah relasi antara manusia dan Tuhan. Dosa adalah pelanggaran terhadap Allah yang kudus, bukan sekadar efek samping moral yang ada, yang bisa diencerkan dengan perbuatan baik sesuai dengan pengertian kita.

Yakobus di atas menulis dengan sangat tegas bahwa melanggar satu bagian hukum Tuhan berarti bersalah terhadap seluruh hukum-Nya. Ini menghancurkan logika bahwa kebaikan dapat “mengimbangi” kejahatan. Dalam terang ini, kebaikan bukanlah air yang menetralkan dosa, dan dosa bukanlah garam yang bisa diatasi dengan volume moral.

Lebih jauh lagi, ilustrasi air garam ini mengandaikan sebuah dunia yang bekerja secara mekanis: lakukan A, maka hasilnya B. Inilah inti dari hukum karma—impersonal, otomatis, dan tanpa ruang bagi anugerah. Namun Alkitab memperkenalkan kita kepada dunia yang berbeda: dunia di mana Allah adalah Pribadi yang hidup, mahasuci, berdaulat, dan berelasi dengan manusia.

Alkitab memang berbicara tentang tabur dan tuai:

“Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Galatia 6:7

Tetapi tabur–tuai dalam Alkitab bukan hukum alam yang buta. Itu berada di bawah kedaulatan Allah. Kadang Allah mengizinkan kita menuai konsekuensi dari pilihan kita. Kemudian, ada kemungkinan bahwa anak cucu seseorang ikut dihukum karena kesalahan orang tua. Di waktu lain, Tuhan justru menahan hukuman yang seharusnya kita terima. Semua itu tidak berjalan dengan rumus, melainkan bergantung pada hikmat dan kasih-Nya. Tuhan yang berdaulat menentukan semua itu tanpa memperhatikan moral manusia.

Jika benar bahwa semakin baik seseorang, semakin ringan dosanya, maka kisah Ayub menjadi tidak masuk akal. Ayub adalah orang benar, takut akan Tuhan, dan menjauhi kejahatan. Namun hidupnya dipenuhi penderitaan yang tidak dapat “diencerkan” oleh kesalehannya. Para nabi, para rasul, bahkan Yesus sendiri—yang paling benar—justru mengalami penderitaan paling pahit sesuai dengan kehendak Bapa.

Ini membawa kita pada pertanyaan yang lebih jujur: mengapa kita tertarik pada ilustrasi air garam itu? Mungkin karena kita rindu akan hidup yang terkendali. Kita ingin percaya bahwa dengan cukup banyak kebaikan, kita bisa mengatur rasa pahit hidup. Bahwa penderitaan dan dosa bisa dinegosiasikan.

Namun Injil tidak pernah menjanjikan hidup yang bisa dikendalikan oleh manusia. Injil menjanjikan hidup yang ditebus. Di salib, kita melihat sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan oleh hukum karma. Dosa tidak dapat diencerkan; dosa harus ditanggung. Hukuman tidak bisa dikurangi; hukuman dipikul oleh Kristus. Di sanalah keadilan dan kasih bertemu. Bukan dengan menambah “air” kebaikan kita, melainkan dengan darah Anak Domba Allah.

Inilah perbedaan mendasarnya: orang Kristen berbuat baik bukan untuk mengurangi hukuman hidup, tetapi sebagai respons syukur atas pengampunan yang sudah diterima.

Kebaikan manusia bukan alat tawar-menawar dengan Tuhan, sebab semua itu tidak memenuhi standar Tuhan. Tetapi, amal ibadah manusia adalah buah dari hati yang telah disentuh anugerah Tuhan.

Maka ketika hidup terasa asin—dan memang sering kali demikian—jawaban Kristen bukanlah sekadar “tambah air”. Jawabannya adalah datanglah kepada Kristus, yang tidak menjanjikan hidup tanpa penderitaan, tetapi menjanjikan kehadiran-Nya di tengah penderitaan dan dosa. Dan itu jauh lebih berarti daripada sekadar rasa tawar.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih, kami mengakui bahwa sering kali kami ingin hidup yang mudah dijelaskan dan mudah dikendalikan. Kami ingin rumus yang sederhana, jalan pintas yang menenangkan, dan penghiburan yang instan. Ampuni kami bila kami lebih percaya pada perhitungan moral daripada pada anugerah-Mu.

Ajarlah kami melihat dosa sebagaimana Engkau melihatnya, dan melihat salib sebagai satu-satunya jawaban sejati. Bentuklah hati kami agar kami berbuat baik bukan untuk melarikan diri dari penderitaan, melainkan sebagai ungkapan syukur atas kasih yang telah lebih dahulu Engkau berikan.

Ketika hidup terasa pahit, tolong kami untuk tidak mencari ilusi pengenceran, tetapi berpegang pada Kristus, sumber pengharapan kami. Di dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar