Tanggung Jawab Kesehatan

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Amsal 17:22

Setiap orang tentu ingin sehat. Kita berolahraga, berjalan pagi, mengatur pola makan, mengurangi gula dan lemak, minum vitamin, bahkan rutin memeriksakan diri ke dokter. Semua itu baik dan perlu. Tubuh adalah anugerah Tuhan yang harus dirawat dengan bijaksana. Namun pengalaman hidup sering menunjukkan satu kenyataan yang lebih dalam: sesehat-sehatnya tubuh seseorang, tidak selalu berarti ia benar-benar sehat.

Ada orang yang secara fisik tampak bugar, hasil pemeriksaannya baik, tekanan darah normal, berat badan ideal. Tetapi hatinya selalu gelisah. Ia mudah marah, cepat tersinggung, sulit tidur, dan hidup dalam kecemasan. Secara lahiriah tampak kuat, namun batinnya rapuh. Sebaliknya, ada pula orang yang tubuhnya tidak lagi sekuat dulu—usia bertambah, tenaga berkurang—tetapi wajahnya berseri, ucapannya penuh syukur, dan kehadirannya membawa damai. Apa rahasianya?

Amsal 17:22 menjawab dengan sederhana namun mendalam: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur.” Firman Tuhan tidak sedang meniadakan pentingnya olahraga atau nutrisi, melainkan menegaskan bahwa kesehatan sejati menyentuh lebih dari sekadar otot dan tulang. Ada hubungan erat antara kondisi batin dan kondisi tubuh.

Sukacita, pengharapan, dan rasa syukur bukan hanya konsep rohani; semuanya memiliki dampak nyata terhadap jasmani.

Ketika hati dipenuhi sukacita, tubuh merespons. Pikiran yang tenang menurunkan ketegangan. Rasa syukur meredakan stres. Pengampunan melepaskan beban yang selama ini menekan dada. Tidak heran Alkitab menggambarkan hati yang gembira sebagai “obat”. Ia bekerja dari dalam ke luar.

Sebaliknya, “semangat yang patah mengeringkan tulang.” Tulang adalah penopang tubuh. Jika tulang mengering, tubuh kehilangan kekuatan. Semangat yang patah—keputusasaan, kepahitan, rasa bersalah yang tidak diselesaikan—perlahan-lahan menggerogoti daya hidup seseorang. Mungkin awalnya hanya rasa lelah berkepanjangan, kemudian sulit tidur, mudah sakit, bahkan kehilangan gairah hidup.

Di saat sakit datang, hampir semua orang berharap akan mukjizat. Kita berdoa memohon kesembuhan instan, berharap Tuhan bertindak secara luar biasa. Dan memang, Tuhan sanggup melakukan mukjizat. Ia tidak terbatas oleh hukum alam. Namun ada satu kebenaran yang sering kita lupakan: mukjizat tidak dimaksudkan untuk menggantikan tanggung jawab. Jika Tuhan sudah memberi kita akal budi, pengetahuan medis, disiplin, dan kemampuan untuk melakukan apa yang perlu bagi kesehatan kita, maka mengabaikan semuanya sambil menunggu mukjizat bukanlah iman, melainkan kelalaian.

Tuhan bisa menyembuhkan seketika, tetapi sering kali Ia bekerja melalui proses. Ia memberi hikmat kepada dokter, menyediakan obat, menggerakkan kita untuk mengubah gaya hidup, dan menegur kita melalui rasa tidak nyaman agar kita memperbaiki kebiasaan. Dalam banyak hal, “mukjizat” itu hadir dalam bentuk kemampuan yang Tuhan berikan kepada kita untuk bertindak benar. Ketika kita memilih hidup sehat, mengelola stres, berdamai dengan masa lalu, bersabar dalam menghadapi kritik, dan berserah kepada-Nya, kita sedang bekerja sama dengan anugerah-Nya.

Banyak orang berusaha menjaga tubuhnya, tetapi membiarkan hatinya terluka tanpa penyembuhan. Kita berhati-hati terhadap makanan yang masuk ke mulut, tetapi tidak berhati-hati terhadap pikiran yang masuk ke hati. Kita menghitung kalori, tetapi jarang menghitung berapa banyak kepahitan yang kita simpan. Kita rajin membersihkan rumah, tetapi lupa membersihkan batin.

Sehat jasmani tanpa sehat rohani adalah kesehatan yang timpang. Tubuh memang fana dan akan menua. Namun roh yang dikuatkan oleh Tuhan dapat tetap teguh sekalipun tubuh melemah.

Sukacita sejati bukan sekadar tertawa atau hiburan sesaat. Ia lahir dari keyakinan bahwa hidup kita ada di dalam tangan Tuhan. Ia tumbuh dari rasa syukur, bahkan di tengah keterbatasan.

Sukacita juga bertumbuh ketika kita hidup dalam kasih dan pengampunan. Kepahitan adalah racun yang kita minum sendiri sambil berharap orang lain yang menderita. Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan melepaskan diri dari belenggu. Saat kita mengampuni, kita memberi ruang bagi kasih dan damai sejahtera memenuhi hati—dan damai itu menguatkan tubuh.

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma‬ ‭12‬:‭12‬‬

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk merawat keduanya: jasmani dan rohani. Kita berolahraga karena menghargai hidup yang Tuhan beri. Kita berdoa karena sadar hidup ini lebih dari yang terlihat. Kita berusaha dengan setia, dan dalam keterbatasan kita berserah penuh. Di situlah keseimbangan yang sehat.

Pagi ini, kiranya kita tidak hanya bertanya, “Apakah tubuh saya sehat?” tetapi juga, “Apakah hati saya penuh sukacita di dalam Tuhan?” Sebab hati yang gembira adalah obat yang manjur—dan hidup yang bertanggung jawab adalah bagian dari iman yang sejati.

Doa Penutup

Tuhan yang penuh kasih,

Terima kasih untuk tubuh dan jiwa yang Engkau percayakan kepada kami. Ampuni kami jika kami lalai merawatnya atau hanya menuntut mukjizat tanpa melakukan bagian kami.

Berikan kami hati yang gembira, penuh syukur, dan damai di dalam Engkau. Tolong kami untuk hidup disiplin, bijaksana, dan setia dalam menjaga kesehatan. Ketika sakit datang, ajar kami berharap kepada-Mu, tetapi juga taat melakukan apa yang Engkau mampukan untuk kami lakukan.

Pulihkan hati kami yang patah, kuatkan tulang-tulang yang lemah, dan pimpin kami berjalan dalam keseimbangan jasmani dan rohani.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar