“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis.” Roma 12:15

Setiap 14 Februari, kita melihat satu kata mendominasi ruang publik: kasih. Di Indonesia, perayaan ini bukan hanya untuk pasangan. Teman saling bertukar cokelat, kolega saling memberi ucapan, bahkan di gereja pun ada yang menyelipkan salam “Happy Valentine” sebagai tanda perhatian. Semua dibungkus dalam satu istilah yang sama: cinta. Namun di balik itu, ada pertanyaan penting: cinta yang bagaimana?
Dalam tradisi pemikiran Kristen, setidaknya dikenal tiga bentuk cinta. Eros, cinta yang bersifat romantis dan tertarik secara pribadi. Philia, cinta persahabatan, keakraban, solidaritas. Dan agape, atau kasih, adalah cinta yang mau mengurbankan diri, yang tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri.
Hari Valentine sering membaurkan ketiganya menjadi satu tanpa batas yang jelas. Cokelat dan bunga untuk pacar (eros), ucapan selamat untuk sahabat (philia), bahkan sapaan hangat untuk sesama jemaat (yang mungkin dimaksudkan sebagai agape). Semuanya dilebur dalam satu simbol yang sama. Tidak salah, tetapi bisa membingungkan.
Masalahnya bukan pada memberi cokelat atau mengucapkan salam. Masalahnya adalah ketika makna kasih direduksi menjadi perasaan hangat sesaat atau gestur simbolik tahunan yang dipengaruhi pesan komersial.
Eros dan philia adalah bagian sah dari kehidupan manusia. Allah menciptakan ketertarikan dalam pernikahan, dan Ia juga merancang persahabatan yang indah. Namun keduanya tetap terbatas pada relasi tertentu dan sering dipengaruhi emosi dan keinginan pribadi.
Agape berbeda. Ia tidak bergantung pada perasaan. Ia tidak menunggu balasan. Ia tidak dibatasi oleh kedekatan personal. Agape adalah kasih yang bersedia hadir ketika orang lain gagal, ketika suasana tidak romantis, ketika persahabatan diuji. Inilah kasih yang dicerminkan Kristus—kasih yang memberi diri sampai tuntas.
Roma 12:15 menolong kita melihat bentuk konkret agape: bersukacita dengan yang bersukacita, menangis dengan yang menangis. Itu bukan soal tanggal tertentu. Itu soal kepekaan hati. Ketika teman di gereja mendapat berkat, kita sungguh bersyukur tanpa iri. Ketika kolega mengalami kesulitan, kita sungguh peduli tanpa menghakimi. Ketika keluarga berduka, kita hadir tanpa mencari pujian.
Jika Valentine hanya menjadi campuran eros dan philia yang dirayakan secara massal sekali setahun, orang Kristen dipanggil untuk menghadirkan sesuatu yang lebih dalam. Kita boleh saja mengucapkan salam atau memberi perhatian, tetapi jangan berhenti di sana. Tekankan kasih yang suci—agape—kasih yang nyata yang tidak tergantung pada musim, tidak bergantung pada tren, dan tidak dibatasi simbol.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan “merayakan atau tidak”. Pertanyaannya adalah: untuk apa kita merayakannya? Jika agape menjadi dasar hidup kita, maka setiap hari adalah kesempatan untuk mencerminkan kasih Kristus—tanpa perlu dibatasi oleh satu tanggal di kalender. Kasih yang sedemikian bukan sekadar cokelat, bunga, atau gambar dan tulisan bernada mesra.
Doa Penutup
Bapa yang kudus dan penuh kasih,
Kami bersyukur Engkau telah lebih dahulu mengasihi kami dengan kasih yang tidak bersyarat. Ajarlah kami membedakan antara kasih yang didorong oleh emosi dan kasih yang lahir dari ketaatan kepada-Mu. Bentuklah hati kami agar hidup dalam agape—kasih yang suci, setia, dan rela berkorban.
Biarlah dalam setiap relasi, baik dalam keluarga, persahabatan, maupun persekutuan gereja, kami memancarkan kasih yang mencerminkan Kristus. Jauhkan kami dari kepalsuan dan simbol kosong, dan penuhi kami dengan kasih yang nyata setiap hari.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, Amin.