Semoga Banyak Untung

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.” Filipi 3:7

Hari ini, banyak keluarga keturunan Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Di Australia, hari ini bukan hari libur nasional, tetapi suasana tetap terasa di beberapa sudut kota: lampion merah tergantung, meja makan dipenuhi hidangan istimewa, dan keluarga berkumpul dalam sukacita. Salah satu ucapan yang paling sering terdengar adalah Gong Xi Fa Cai. Banyak orang mengira ucapan ini berarti “Selamat Tahun Baru,” padahal maknanya lebih tepat adalah “Semoga menjadi kaya” atau “Semoga banyak rezeki.”

Ucapan itu mencerminkan harapan yang sangat manusiawi. Siapa yang tidak ingin hidup berkecukupan? Siapa yang tidak ingin usaha berhasil, kesehatan terjaga, dan masa depan anak-anak terjamin? Dalam tradisi Tionghoa, mendoakan kemakmuran bagi orang lain adalah bentuk kasih dan perhatian. Itu bukanlah sesuatu yang jahat. Bahkan Alkitab pun tidak pernah memuliakan kemiskinan sebagai tujuan. Tuhan mengetahui bahwa kita membutuhkan sandang, pangan, dan tempat tinggal.

Namun persoalannya bukan pada memiliki atau tidak memiliki, melainkan pada apa yang kita anggap sebagai “untung.”

Rasul Paulus pernah memiliki banyak hal yang bisa dibanggakan. Ia terdidik, berstatus, dihormati, dan secara agama sangat saleh. Dalam standar dunia religius Yahudi saat itu, ia adalah figur yang berhasil. Tetapi dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, ia membuat pernyataan yang mengejutkan: semua yang dahulu ia anggap keuntungan, sekarang ia pandang sebagai kerugian karena Kristus.

Di sini terjadi pergeseran nilai yang radikal. Dunia berkata: untung adalah posisi, reputasi, jaringan, kekayaan, dan pengakuan. Injil berkata: untung adalah mengenal Kristus.

Bagi Paulus, bukan berarti semua pencapaiannya tiba-tiba tidak bernilai secara sosial. Namun dibandingkan dengan kemuliaan mengenal dan dimiliki oleh Kristus, semuanya menjadi relatif, bahkan seperti sampah. Ia menemukan bahwa keuntungan sejati bukanlah apa yang dapat ia kumpulkan, tetapi Tuhan yang telah menemukannya.

Kita hidup di tengah budaya yang sangat menekankan keberhasilan finansial. Ukuran sukses sering kali terlihat dari rumah, investasi, kendaraan, atau stabilitas rekening. Bahkan tanpa sadar, doa-doa kita pun bisa lebih banyak berisi permohonan berkat materi daripada kerinduan akan kedekatan dengan Tuhan. Kita mudah sekali mengucapkan “semoga banyak untung” dengan arti yang sempit: bertambahnya harta dan lancarnya usaha.

Padahal, Alkitab mengingatkan bahwa kekayaan dapat menjadi jebakan. Bukan karena uang itu sendiri jahat, melainkan karena hati manusia mudah melekat padanya. Apa yang kita anggap sebagai untung bisa perlahan-lahan menggeser Kristus dari pusat hidup kita. Tanpa terasa, kita mulai mengukur kasih Tuhan dari jumlah berkat yang terlihat.

Sebaliknya, ada orang percaya yang secara ekonomi sederhana, tetapi kaya dalam iman, damai, dan pengharapan. Ada pula yang secara materi melimpah, namun tetap rendah hati dan menggunakan berkatnya untuk melayani Tuhan dan sesama. Jadi persoalannya bukan pada Imlek atau bukan, bukan pada kaya atau tidak, melainkan pada orientasi hati.

Merayakan Imlek bukanlah tradisi yang buruk bila kita memaknainya dengan benar. Berkumpul dengan keluarga, mendoakan kesejahteraan, berbagi sukacita—semua itu dapat menjadi kesempatan untuk bersyukur atas pemeliharaan Tuhan. Namun sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menafsirkan ulang makna “untung.”

  • Untung terbesar bukanlah ketika bisnis kita berkembang pesat, tetapi ketika iman kita bertumbuh di tengah tantangan.
  • Untung terbesar bukanlah ketika saldo bertambah, tetapi ketika kasih kita kepada Tuhan makin dalam.
  • Untung terbesar bukanlah ketika nama kita dikenal, tetapi ketika nama kita tertulis dalam Kitab Kehidupan.

Tahun baru sering menjadi momen evaluasi. Kita menoleh ke belakang, menghitung keberhasilan dan kegagalan. Kita membuat rencana dan target. Tidak salah merencanakan kemajuan finansial atau profesional. Namun di atas semua itu, marilah kita bertanya: apakah Kristus tetap menjadi harta termahal dalam hidup kita?

Jika suatu hari kita harus memilih antara mempertahankan reputasi atau setia kepada Kristus, mana yang kita sebut untung? Jika ketaatan membuat kita kehilangan kesempatan duniawi, apakah kita masih percaya bahwa kita tidak sedang rugi?

Paulus telah menemukan jawabannya. Ia kehilangan banyak hal demi Kristus, tetapi ia tidak merasa dirugikan. Ia justru merasa menemukan segalanya. Dalam Kristus ada pengampunan, identitas baru, damai sejahtera, dan pengharapan kekal—keuntungan yang tidak dapat dicuri inflasi, krisis ekonomi, atau kematian.

Maka ketika kita mendengar atau mengucapkan harapan akan “banyak untung” di tahun yang baru, biarlah hati kita terlebih dahulu tertuju kepada satu keuntungan yang tak tergantikan: mengenal Kristus dan hidup di dalam Dia.

Selamat Tahun Baru Imlek.

Doa Penutup

Tuhan yang setia,

Kami bersyukur untuk setiap berkat jasmani yang Engkau percayakan kepada kami. Engkau tahu kebutuhan hidup kami dan Engkau memelihara kami dengan kasih-Mu. Namun ajar kami untuk tidak menjadikan kekayaan, keberhasilan, atau reputasi sebagai pusat hidup kami.

Tolong kami memandang segala sesuatu dalam terang Kristus. Jika Engkau memberkati kami dengan kelimpahan, jagalah hati kami tetap rendah dan murah hati. Jika Engkau mengizinkan kekurangan, kuatkan iman kami agar tidak goyah.

Di tahun baru Imlek ini, biarlah keuntungan terbesar kami adalah semakin mengenal Engkau, semakin serupa dengan Kristus, dan semakin setia dalam panggilan kami. Ajarlah kami menghitung nilai hidup bukan dari apa yang kami miliki, tetapi dari siapa yang kami miliki di dalam Engkau.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar