Apakah Tuhan Pernah Menyelamatkan Manusia Berdasarkan Ketaatan Mereka?

“Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.” Roma 2:16

Kepercayaan bahwa ketaatan pada hukum Tuhan selama hidup menentukan nasib seseorang setelah mati adalah konsep fundamental dalam banyak agama dan kepercayaan. Keyakinan ini menekankan bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan transisi ke kehidupan selanjutnya di mana balasan atas perbuatan di dunia akan diterima. Lalu bagaimana dengan pandangan Kristen? Apakah orang Kristen juga memiliki hukum dan aturan untuk mencapai keselamatan surgawi?

Dalam surat Roma pasal 2, Paulus membagi umat manusia menjadi dua kelompok: mereka yang berdosa di bawah hukum Taurat (orang Yahudi) dan mereka yang berdosa tanpa hukum Taurat (orang yang bukan Yahudi). Orang Yahudi memiliki hukum tertulis. Bangsa-bangsa lain tidak memilikinya. Namun itu tidak berarti bangsa-bangsa lain bebas dari tanggung jawab. Hati nurani mereka menjadi saksi. Allah yang sama yang memberi Taurat juga menanamkan kesadaran moral dalam hati manusia.

Pada akhirnya, semua manusia akan berdiri di hadapan Allah. Bukan hanya tindakan lahiriah yang akan diperiksa, tetapi “segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati”. Standar penghakiman itu bukan perasaan pribadi, bukan budaya, bukan perbandingan dengan orang lain, bukan perbuatan sosial, melainkan hukum Allah yang kudus. Tidak ada kelompok ketiga. Semua manusia dari dua kelompok itu berada di bawah standar Allah. Tetapi, semua telah gagal.

Pertanyaannya menjadi tajam: Jika Allah menghakimi berdasarkan hukum-Nya, pernahkah Ia menyelamatkan manusia berdasarkan ketaatan mereka? Sejak awal, jawabannya jelas. Adam ditempatkan di taman dalam keadaan tidak berdosa. Prinsipnya sederhana: taat dan hidup. Satu pelanggaran membawa kematian. Itu menunjukkan bahwa standar Allah memang sempurna. Ketaatan yang dituntut bukan sebagian, tetapi total. Namun setelah kejatuhan, tidak ada lagi manusia yang mampu memenuhi standar itu.

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Roma 3:23

Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel menerima hukum Taurat. Hukum itu kudus, adil, dan baik. Ia mengatur ibadah, moral, bahkan kehidupan sosial bangsa itu. Tetapi hukum tidak pernah diberikan sebagai tangga menuju keselamatan. Bahkan sebelum hukum diberikan di Sinai, Allah telah lebih dahulu membebaskan Israel dari Mesir. Anugerah mendahului tuntutan. Pilihan Tuhan mendahului usaha manusia untuk taat.

Hukum menunjukkan bagaimana seharusnya manusia hidup sebagai umat yang telah ditebus. Itu juga memperlihatkan betapa seriusnya dosa. Hukuman-hukuman yang keras dalam sejarah Israel bukan bukti bahwa Allah menyelamatkan berdasarkan ketaatan, melainkan bukti bahwa kekudusan-Nya tidak bisa dipermainkan. Bangsa itu dipanggil menjaga kemurnian penyembahan melalui ketaatan pada hukum agar rencana penebusan Allah tidak tercemar.

Namun apakah ada orang Israel yang pernah memenuhi hukum itu secara sempurna? Tidak. Para nabi pun berseru tentang kegagalan mereka. Sistem korban bakaran yang terus-menerus dipersembahkan sebenarnya adalah pengakuan diam-diam bahwa dosa terus ada. Mereka tidak dapat diselamatkan melalui ketaatan pada hukum, begitu juga kita sekarang.

Pagi ini, Paulus membawa kita kepada pengertian yang lebih dalam. Dalam Roma 2, ia berkata bahwa bukan pendengar hukum yang dibenarkan, melainkan pelaku hukum. Kalimat itu terasa berat. Siapakah pelaku hukum yang sempurna? Jika penghakiman Allah menembus sampai rahasia hati, siapa yang sanggup berdiri? Jawabannya bukan “tidak seorang pun yang selamat”. Jawabannya adalah: ada satu yang menyelamatkan.

Yesus Kristus memenuhi hukum secara utuh. Ia tidak hanya menghindari dosa lahiriah; Ia taat sampai ke kedalaman hati. Ia mengasihi Allah dengan segenap keberadaan-Nya dan mengasihi sesama dengan sempurna. Di dalam Dia, tuntutan hukum digenapi. Ini berarti kesempurnaan memang syarat untuk hidup kekal. Tetapi syarat itu tidak dipenuhi oleh kita. Syarat itu kemudian dipenuhi oleh Kristus bagi kita.

Orang-orang sebelum kedatangan Kristus tidak diselamatkan oleh Taurat. Mereka diselamatkan oleh janji Allah yang menunjuk kepada Penebus yang akan datang. Orang-orang setelah kedatangan Kristus tidak diselamatkan oleh usaha moral mereka atau perbuatan baik mereka, melainkan oleh iman kepada Dia yang telah datang dan menyelesaikan karya-Nya.

Lalu bagaimana dengan ketaatan kita sekarang? Apakah hukum tidak lagi penting? Justru sebaliknya. Hukum tetap menjadi cermin yang memperlihatkan kekudusan Allah dan pedoman yang membentuk hidup kita. Bedanya, kita tidak lagi menaati untuk memperoleh keselamatan. Kita menaati karena telah diselamatkan.

Prinsip keselamatan tidak pernah berubah: anugerah Allah, melalui iman, berdasarkan karya Kristus. Pada hari penghakiman itu, Allah akan menghakimi melalui Kristus Yesus. Bagi mereka yang berada di luar Kristus, hukum menjadi saksi yang menuduh. Bagi mereka yang berada di dalam Kristus, hukum telah digenapi oleh Sang Juruselamat.

Jadi, apakah Tuhan pernah menyelamatkan manusia berdasarkan ketaatan mereka? Tidak — jika yang dimaksud adalah ketaatan manusia itu sendiri. Ya — jika yang dimaksud adalah ketaatan Kristus yang diperhitungkan kepada orang percaya. Di situlah keadilan dan anugerah bertemu. Hukum tidak dibatalkan. Standar tidak diturunkan. Tetapi keselamatan diberikan melalui Sang Juruselamat yang sudah memenuhi semuanya. Dan ketika kita menyadari itu, ketaatan kita berubah dari beban menjadi ucapan syukur.

Doa Penutup

Ya Allah yang kudus dan benar,

Engkau melihat bukan hanya perbuatan kami, tetapi juga rahasia hati kami. Kami mengaku bahwa kami tidak pernah mencapai standar kesempurnaan-Mu. Jika kami dihakimi berdasarkan ketaatan kami sendiri, kami tidak akan mampu berdiri.

Kami bersyukur karena Engkau telah mengirimkan Yesus Kristus, yang taat dengan sempurna dan memikul hukuman dosa kami. Terima kasih karena ketaatan-Nya diperhitungkan bagi kami melalui iman.

Ajarlah kami untuk tidak meremehkan hukum-Mu, tetapi juga tidak bersandar pada usaha kami sendiri. Biarlah Roh-Mu membentuk hidup kami sehingga ketaatan kami menjadi buah kasih dan syukur, bukan usaha mencari keselamatan.

Tolong kami hidup hari ini dengan hati yang tulus, mengingat bahwa suatu hari Engkau akan menghakimi segala sesuatu melalui Kristus. Kiranya kami ditemukan berada di dalam Dia.

Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar