Jalan Menuju ke Kesempurnaan

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Matius 5:48

Setiap kali membaca ayat ini, hati kita bisa terasa gentar. Perintah itu terdengar mutlak. Bukan sekadar “jadilah lebih baik,” bukan “usahakan sedikit lebih suci,” tetapi: sempurna. Standarnya bukan manusia lain, bukan tokoh rohani, melainkan Bapa di surga.

Pertanyaannya sederhana namun berat: mungkinkah manusia menjadi sempurna? Seperti anak panah yang tepat mengenai sasaran? Jika tidak mungkin, apakah Yesus memberi tuntutan yang mustahil? Apakah Ia sedang menaruh beban yang tak mungkin dipikul?

Kita hidup di dunia yang mengagungkan kesempurnaan. Orang mengejar performa terbaik, reputasi tanpa cela, citra yang tampak tanpa cacat. Namun semakin tinggi standar dinaikkan, semakin jelas terlihat retakan di dalam diri. Kita bisa disiplin, bisa bermoral, bisa dermawan, tetapi jauh di dalam hati, motivasi kita sering bercampur antara kasih dan kepentingan diri. Bahkan kebaikan kita tidak sepenuhnya murni.

Banyak jalan ditawarkan manusia untuk mencapai “kesempurnaan”: latihan rohani, disiplin diri, meditasi, amal, pengendalian nafsu. Semua itu bisa memperhalus karakter. Namun Alkitab menyingkapkan sesuatu yang lebih dalam: masalah manusia bukan sekadar kurang usaha, melainkan natur yang telah jatuh dalam dosa. Standarnya bukan sekadar lebih baik dari kemarin, melainkan kesucian Allah sendiri.

Di hadapan terang matahari, cahaya lilin tak lagi berarti. Di hadapan kekudusan Allah, kebaikan manusia yang terbaik pun tidak memadai. Jika kesempurnaan diukur dengan standar manusia, mungkin kita bisa lulus. Tetapi jika diukur dengan standar Allah yang mahakudus, semua manusia gagal.

Namun justru di titik inilah Injil menjadi kabar baik.

Yesus tidak pernah memberi perintah tanpa menyediakan jalan. Dalam konteks Khotbah di Bukit, Ia berbicara tentang kasih yang melampaui batas: mengasihi musuh, mendoakan mereka yang menganiaya. Kesempurnaan yang dimaksud bukanlah kesempurnaan kosmetik, melainkan kesempurnaan kasih — kasih yang utuh, tidak terbagi, tidak pilih kasih, seperti Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik.

Tetapi siapakah yang dapat mengasihi seperti itu? Tidak ada, kecuali Kristus sendiri.

Di kayu salib, kita melihat kesempurnaan itu. Ia yang tanpa dosa rela menanggung dosa. Ia yang kudus bersedia diperlakukan sebagai yang terkutuk. Di sana terjadi pertukaran agung: dosa kita diperhitungkan kepada-Nya, dan kebenaran-Nya diperhitungkan kepada kita.

Di hadapan Allah, manusia memang “reject” jika berdiri dengan kualitas dirinya sendiri. Dalam istilah sehari-hari, barang reject adalah  barang reject adalah  hasil produksi yang tidak lolos standar kendali mutu (quality control) perusahaan.

Dalam hal ini, standar ilahi tidak bisa diturunkan. Allah tidak mengompromikan kekudusan-Nya. Namun Ia melakukan sesuatu yang lebih mulia: Ia menutupi kita dengan kebenaran Kristus. Darah Anak-Nya menjadi meterai bahwa hukuman telah dibayar lunas.

Dengan demikian, perintah “haruslah kamu sempurna” bukanlah lelucon ilahi, melainkan panggilan menuju Kristus. Di dalam Dia, orang percaya dinyatakan benar. Statusnya berubah. Bukan lagi tertolak, melainkan diterima. Bukan lagi gagal uji mutu, melainkan lulus — bukan karena kualitas diri, tetapi karena anugerah.

Apakah itu berarti kita boleh hidup sembarangan? Tentu tidak. Justru karena telah diterima, kita terdorong untuk hidup sesuai identitas baru itu. Kesempurnaan sebagai status mendahului kesempurnaan sebagai proses. Kita dibenarkan sekali untuk selamanya, tetapi kita juga dikuduskan hari demi hari.

Perjalanan menuju kesempurnaan bukanlah tangga yang kita bisa panjat sendiri untuk mencapai Allah. Itu adalah jalan yang kita tempuh karena Allah sudah lebih dahulu meraih kita. Roh Kudus bekerja membentuk hati, memurnikan motivasi, melatih kasih yang tulus. Kita mungkin masih jatuh, tetapi kita tidak lagi hidup sebagai orang tanpa harapan.

Kesempurnaan final memang baru akan kita alami sepenuhnya ketika Kristus datang kembali. Pada saat itu, dosa tidak lagi melekat, kelemahan tidak lagi membelenggu. Tetapi bahkan sekarang, dalam kelemahan kita, Allah memandang kita sebagai anak melalui karya Anak-Nya.

Jalan menuju kesempurnaan dimulai bukan dari usaha manusia, melainkan dari pengakuan akan ketidakmampuan. Dimulai dari kerendahan hati yang berkata, “Aku tidak mampu memenuhi standar-Mu, ya Tuhan.” Dan dijawab oleh salib yang menyatakan, “Sudah selesai.”

Karena itu, ayat ini bukan ancaman, melainkan undangan. Undangan untuk meninggalkan kepercayaan diri yang palsu dan berlindung dalam anugerah. Undangan untuk hidup dalam kasih yang semakin menyerupai Bapa. Di dalam Kristus, apa yang mustahil menjadi mungkin.

Doa Penutup

Bapa yang Mahakudus, kami mengakui bahwa standar-Mu terlalu tinggi bagi kami. Kami sering gagal, bahkan dalam niat terbaik kami. Ampuni kesombongan kami yang ingin membenarkan diri sendiri.

Terima kasih untuk Kristus, yang telah memenuhi hukum-Mu dengan sempurna dan menyerahkan diri-Nya bagi kami. Terima kasih karena di dalam Dia kami tidak lagi tertolak, tetapi diterima sebagai anak-anak-Mu.

Tolong kami hidup sesuai dengan anugerah itu. Bentuklah hati kami agar semakin serupa dengan hati-Mu. Ajarlah kami mengasihi dengan kasih yang murni, mengampuni seperti Engkau mengampuni, dan berjalan dalam kekudusan setiap hari.

Bimbing kami di jalan menuju kesempurnaan yang sejati, sampai pada akhirnya kami berdiri di hadapan-Mu tanpa noda dan tanpa cela, karena karya Kristus semata.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar