Menantikan Mukjizat Tuhan

“Jawab Yesus: ‘Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!’” Markus 9:23

Ayat ini adalah respons Tuhan Yesus kepada seorang ayah yang anaknya kerasukan roh jahat. Dengan hati gelisah ia berkata, “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu…” Jawaban Yesus menyingkapkan inti persoalan: bukan pada kemampuan-Nya, melainkan pada iman sang ayah. Kuasa Kristus tidak pernah terbatas; yang sering goyah adalah hati manusia.

Perkataan, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya,” menegaskan kedaulatan dan kuasa Allah yang tak terbatas. Bagi mereka yang bersandar kepada-Nya, tidak ada situasi yang terlalu sulit, tidak ada pergumulan yang terlalu rumit. Ayat ini telah menguatkan banyak orang percaya sepanjang zaman untuk tetap beriman dalam keadaan paling gelap sekalipun.

Namun ayat ini juga sering dipahami secara kurang tepat. Seolah-olah iman adalah kunci yang otomatis membuka setiap pintu sesuai keinginan kita. Seolah-olah jika hasilnya tidak sesuai harapan, berarti iman kita kurang. Padahal dalam kisah itu, Yesus tidak sedang mengajarkan teknik rohani untuk mengendalikan mukjizat. Ia sedang mengarahkan hati si ayah kepada kepercayaan penuh kepada diri-Nya.

Pertanyaannya bagi kita hari ini adalah: bagaimana kita memahami mukjizat di zaman ini?

Kita tentu tidak menyangkal bahwa Allah Mahakuasa. Ia sanggup melakukan apa pun. Ia dapat menyembuhkan penyakit yang secara medis mustahil. Ia dapat membalikkan keadaan dalam sekejap. Ia tetap Allah yang sama, dahulu, sekarang, dan selama-lamanya. “Tidak ada yang mustahil” tetap benar dan tidak pernah berubah.

Tetapi jika kita membaca Alkitab dengan saksama, kita melihat bahwa mukjizat-mukjizat besar terkonsentrasi pada momen-momen penting dalam sejarah keselamatan. Pada masa Musa, Elia, pelayanan Kristus, dan era para rasul, tanda-tanda ajaib mengiringi penyataan wahyu Allah. Mukjizat-mukjizat itu meneguhkan bahwa pesan yang disampaikan sungguh berasal dari Tuhan.

Setelah wahyu Allah dinyatakan secara lengkap dalam Kitab Suci, fokus kehidupan orang percaya bukan lagi pada pencarian tanda-tanda, melainkan pada kesetiaan kepada firman yang telah diberikan. Seorang teolog seperti R. C. Sproul pernah menekankan bahwa meskipun Allah dapat melakukan mukjizat pada masa kini, iman Kristen tidak berpusat pada pengejaran sensasi rohani, melainkan pada pengenalan akan kedaulatan dan karakter Allah.

Di sinilah kita perlu membedakan antara iman yang berserah dan iman yang menuntut. Ayat Markus 9:23 bukanlah cek kosong untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. Mukjizat bukan terjadi karena ada orang-orang yang “pandai merayu” Tuhan. Iman sejati adalah bukan saja percaya bahwa Allah sanggup melakukan mukjizat, tetapi juga tunduk pada kehendak-Nya.

Rasul Paulus pernah memohon agar “duri dalam daging”-nya disingkirkan. Ia tentu percaya bahwa Tuhan mampu menyembuhkannya. Namun jawab Tuhan adalah: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Tidak ada kesembuhan instan. Tidak ada mukjizat spektakuler. Tetapi ada anugerah yang menopang. Dan justru dalam kelemahan itulah kuasa Kristus menjadi sempurna.

Sering kali kita membayangkan keajaiban sebagai sesuatu yang melanggar hukum alam. Padahal pemeliharaan Allah dalam keseharian adalah karya-Nya yang terus-menerus. Nafas yang kita hirup, kekuatan untuk bangun setiap pagi, pertolongan yang datang melalui orang-orang di sekitar kita—semua itu adalah tangan Tuhan yang bekerja dengan setia.

Lebih dalam lagi, mukjizat terbesar pada zaman ini adalah pertobatan. Ketika hati yang keras dilembutkan, ketika seorang berdosa berbalik kepada Kristus, ketika hidup yang hancur dipulihkan oleh kasih karunia—itulah keajaiban yang kekal nilainya. Tubuh yang disembuhkan suatu hari akan kembali lemah. Tetapi jiwa yang diselamatkan menerima hidup yang tidak berkesudahan.

Menantikan keajaiban Tuhan berarti percaya penuh kepada kuasa-Nya tanpa memaksakan kehendak kita. Kita berdoa dengan iman, tetapi kita juga berserah dengan rendah hati. Kita memohon dengan sungguh-sungguh, tetapi kita tetap mengerjakan apa yang perlu dilakukan sambil menyerahkan hasilnya kepada hikmat-Nya yang sempurna.

Barangkali hari ini Anda sedang berada dalam posisi seperti ayah dalam Markus 9. Ada pergumulan yang terasa tak tertanggungkan. Ada doa yang terus dinaikkan. Dengarlah kembali perkataan Yesus: “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya.” Percayalah pada kuasa-Nya. Percayalah pada kasih-Nya. Dan percayalah juga pada kebijaksanaan-Nya ketika jawaban-Nya berbeda dari yang kita bayangkan.

Keajaiban bisa hadir dalam bentuk kesembuhan. Bisa juga hadir sebagai kekuatan untuk bertahan. Bisa berupa pintu yang terbuka. Bisa pula berupa damai sejahtera di tengah pintu yang tetap tertutup. Dalam semua itu, Tuhan tetap bekerja. Sebab pada akhirnya, keajaiban terbesar bukanlah apa yang terjadi di sekitar kita, melainkan siapa yang kita percayai di tengah segala sesuatu.

Doa Penutup

Ya Tuhan Yesus, kami percaya Engkau Mahakuasa dan tidak ada yang mustahil bagi-Mu. Ampuni kami jika kami sering meragukan kuasa-Mu atau menuntut cara kerja-Mu sesuai kehendak kami. Ajarlah kami memiliki iman yang berserah, iman yang percaya bukan hanya pada mukjizat, tetapi pada diri-Mu sendiri. Jika Engkau berkenan melakukan hal yang ajaib dalam hidup kami, kami bersyukur. Jika Engkau memilih menopang kami melalui anugerah yang cukup, kami pun bersyukur. Teguhkan hati kami untuk selalu percaya kepada-Mu. Amin.

Tinggalkan komentar