“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ibrani 10:25

Seorang pria pernah berkata, “Saya tetap percaya kepada Tuhan, tetapi saya tidak lagi pergi ke gereja.” Kalimat itu terdengar jujur, tanpa kemarahan, tanpa pemberontakan. Hanya sebuah keputusan yang perlahan menjadi kebiasaan. Ia masih berdoa, masih membaca Alkitab, bahkan masih mendengarkan khotbah melalui siaran daring. Namun kursi gereja baginya sudah lama kosong.
Fenomena ini bukan hal baru. Bahkan dalam surat kepada jemaat Ibrani, penulis sudah menyinggung adanya orang-orang yang mulai menjauh dari pertemuan ibadah. Kata Yunani enkataleipontes mengandung arti “menelantarkan” atau “mengabaikan.” Ini bukan sekadar absen sesekali, melainkan sikap yang menjadikan persekutuan sebagai sesuatu yang tidak lagi dianggap penting.
Mengapa hal ini terjadi? Sebagian orang merasa dapat beribadah di mana saja. Mereka menemukan kedamaian di alam, di ruang kerja pribadi, atau melalui renungan di rumah. Ada yang berkata bahwa hubungan mereka dengan Tuhan bersifat pribadi, sehingga tidak memerlukan komunitas. Di era digital, siaran langsung kebaktian dan khotbah daring memberikan kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya. Setelah masa pandemi global, banyak orang terbiasa berbakti dari ruang tamu mereka sendiri.
Ada pula orang yang terluka. Konflik antarjemaat, ketidakcocokan dengan pemimpin rohani, perbedaan pandangan tentang isu sosial atau politik, bahkan pengalaman merasa diabaikan, dapat meninggalkan bekas yang dalam. Luka batin seringkali membuat seseorang memilih menjauh demi melindungi diri.
Sebagian lainnya bukan karena luka, tetapi karena kesibukan. Jadwal kerja, tanggung jawab keluarga, atau kelelahan membuat ibadah Minggu terasa sebagai beban tambahan. Mereka ingin santai di hari libur. Perlahan, prioritas bergeser. Ketidakhadiran yang awalnya sesekali berubah menjadi kebiasaan.
Namun Ibrani 10:25 tidak hanya memberi perintah, melainkan juga alasan. Ayat sebelumnya mengingatkan agar kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan perbuatan baik.
Iman Kristen bukan sekadar keyakinan pribadi; terapi juga perjalanan bersama.
Kita dipanggil untuk berpegang teguh pada pengharapan. Tetapi siapa yang meneguhkan kita saat iman goyah? Siapa yang menegur dengan kasih ketika langkah kita mulai menyimpang? Siapa yang menguatkan saat hati kita lelah? Tuhan memang dapat memakai berbagai cara, tetapi salah satu sarana utama yang Ia tetapkan adalah tubuh Kristus—gereja-Nya.
Kitab Ibrani ditulis dalam konteks tekanan dan penganiayaan. Orang-orang percaya menghadapi risiko sosial dan bahkan fisik. Dalam keadaan seperti itu, godaan untuk menarik diri sangat besar. Namun justru pada saat itulah persekutuan menjadi semakin penting. Penulis surat itu menambahkan, “semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Ada dimensi eskatologis di sini: semakin kita menyadari bahwa karena waktu yang singkat, kita makin membutuhkan satu sama lain.
Gereja memang tidak sempurna. Ia terdiri dari orang-orang berdosa yang sedang diproses. Tetapi ketidaksempurnaan itu bukan alasan untuk menjauh; justru itulah alasan kita hadir—untuk saling membangun dan dibangun. Gereja bukan sekadar tempat menerima, melainkan tempat memberi. Bukan hanya tempat mendengar khotbah, melainkan tempat mempraktikkan kasih.
Mungkin ada di antara kita yang sudah lama tidak hadir dalam persekutuan. Mungkin ada kekecewaan yang belum sembuh, atau keletihan yang belum teratasi. Renungan ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak merenung: apakah kita sedang memelihara iman seorang diri, padahal Tuhan merancangnya untuk bertumbuh dalam kebersamaan?
Hubungan pribadi dengan Kristus adalah fondasi. Tetapi fondasi itu dirancang untuk menopang sebuah bangunan—komunitas orang percaya yang saling menasihati, saling menguatkan, dan saling mengasihi. Dalam persekutuan, kita belajar rendah hati. Dalam persekutuan, kita belajar mengampuni. Dalam persekutuan, kita melihat Injil dipraktikkan, bukan hanya diajarkan.
Menjelang hari Tuhan yang mendekat, dunia mungkin semakin individualistis. Namun panggilan firman tetap sama: jangan menjauhkan diri. Datanglah, bukan karena gereja sempurna, tetapi karena Kristus setia. Hadirlah, bukan hanya untuk menerima berkat, tetapi untuk menjadi berkat.
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang setia,
Terima kasih karena Engkau memanggil kami bukan hanya menjadi pengikut-Mu secara pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari tubuh-Mu. Ampuni kami jika kami pernah mengabaikan persekutuan dan menganggapnya tidak penting. Sembuhkan setiap luka yang membuat kami menjauh.
Beri kami kerendahan hati untuk mengampuni dan keberanian untuk kembali membangun relasi. Ajarlah kami untuk saling menasihati dalam kasih, saling menguatkan dalam iman, dan semakin giat berkumpul menjelang kedatangan-Mu. Jadikan kami gereja yang hidup, yang memuliakan nama-Mu dalam kebersamaan dan kasih.
Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.