“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.” 1 Korintus 6:12

Di zaman ini, makan bukan sekadar kebutuhan, tetapi pengalaman. Orang berburu tempat makan baru, mengikuti ulasan kuliner, bahkan bepergian jauh hanya untuk mencicipi hidangan tertentu. Foto makanan memenuhi media sosial. Undangan makan besar menjadi simbol kebahagiaan, kemakmuran, dan keberhasilan. Tanpa terasa, muncul kesan bahwa tanda hidup yang sukses adalah adanya rangkaian kesempatan untuk makan. Hidup untuk makan.
Namun, fenomena ini bukan hal baru. Di kota Korintus pada abad pertama, orang juga bergumul dengan kebebasan dan kenikmatan. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di sana, mengingatkan bahwa sekalipun sesuatu diperbolehkan, tidak semuanya berguna. Ada hal-hal yang sah, tetapi bisa memperhamba. Prinsip ini sederhana, tetapi tajam: kebebasan sejati bukan berarti mengikuti semua keinginan, melainkan mampu menguasainya.
Kontrol diri adalah bagian dari buah Roh. Ia bukan sekadar kemampuan menahan diri, melainkan sikap hati yang terlatih untuk berkata “cukup.” Dalam hal makan, ini berarti menikmati makanan dengan syukur tanpa kehilangan kendali. Makan berlebihan sering kali bukan soal lapar, tetapi soal emosi—stres, bosan, atau ingin menghibur atau meyakinkan diri. Jika kita tidak waspada, makanan menjadi pelarian. Dan pelarian yang terus-menerus akan menjadi tuan.
Alkitab mengingatkan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Artinya, tubuh bukan milik kita semata; ia dipercayakan kepada kita. Setiap pilihan yang kita buat—termasuk pola makan—adalah bagian dari kepengurusan rohani. Ketika kita sembarangan memperlakukan tubuh, kita sedang lalai dalam tanggung jawab yang Tuhan berikan. Makan untuk hidup berarti menghargai tubuh sebagai alat untuk melayani, bukan sebagai wadah untuk memuaskan diri tanpa batas.
Lebih jauh lagi, ada bahaya yang lebih halus: penyembahan berhala. Paulus pernah menyinggung orang-orang yang “allahnya ialah perut mereka.” Ketika selera menjadi pusat hidup, ketika jadwal, uang, dan perhatian kita didominasi oleh makanan, perut dapat mengambil tempat yang seharusnya hanya milik Tuhan. Berhala tidak selalu berupa patung; ia bisa berupa nafsu yang tidak terkendali.
Namun, kekristenan bukan agama yang memusuhi kenikmatan. Tuhan menciptakan rasa, aroma, dan keindahan makanan. Yesus sendiri makan bersama banyak orang, bahkan dituduh sebagai pelahap dan peminum. Jadi masalahnya bukan pada makan, melainkan pada posisi makan dalam hidup kita. Apakah ia menjadi sarana syukur atau sarana perbudakan?
Keseimbangan adalah kuncinya. Kita dipanggil untuk menikmati tanpa diperhamba, bersyukur tanpa berlebihan, merayakan tanpa kehilangan arah. Makan untuk hidup berarti menjadikan makanan sebagai penopang panggilan kita—agar tubuh kuat bekerja, melayani, mengasihi. Hidup untuk makan sebaliknya menjadikan kenikmatan sebagai tujuan akhir.
Setiap kali kita duduk di meja makan, ada kesempatan kecil untuk melatih hati. Kita bisa berdoa bukan hanya sebelum makan, tetapi juga dalam cara kita makan. Kita bisa memilih porsi yang bijaksana, memperhatikan kesehatan, dan berhenti ketika cukup. Tindakan-tindakan sederhana ini adalah bentuk ibadah yang tersembunyi.
Kiranya kita menjadi orang-orang yang merdeka—bukan diperhamba oleh selera, melainkan dikuasai oleh Roh. Sehingga melalui hal yang sesederhana makan, hidup kita tetap memuliakan Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan yang baik, Engkau memberi kami makanan sebagai berkat dan pemeliharaan. Ampuni kami jika sering kali kami menjadikannya pusat hidup kami. Ajarlah kami menguasai diri dan hidup dalam disiplin yang lahir dari kasih kepada-Mu. Tolong kami menghargai tubuh sebagai bait Roh Kudus dan menggunakannya untuk melayani-Mu dengan setia. Berikan kami hati yang bersyukur dan bijaksana, supaya kami makan untuk hidup, dan hidup untuk memuliakan nama-Mu. Amin.