“Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.” 2 Korintus 11:13

Di mata dunia, keberhasilan sering diukur dari penampilan. Suara yang lantang, retorika yang memukau, pakaian yang rapi, panggung yang megah, serta pengikut yang banyak—semua itu mudah membuat orang terkesan. Tidak berbeda jauh dengan keadaan jemaat Korintus pada abad pertama. Mereka berhadapan dengan orang-orang yang mengaku sebagai rasul, bahkan lebih hebat dari Paulus. Paulus, dengan nada ironi, menyebut mereka “rasul-rasul super.”
Jika dibandingkan, Paulus tampak jauh dari kesan mengesankan. Ia mengakui bahwa ia bukan orator ulung. Ia sering menderita, dipenjara, dianiaya, bahkan pernah harus melarikan diri pada malam hari demi menghindari penangkapan. Secara lahiriah, hidupnya tidak menunjukkan gambaran “pelayan sukses.” Ia memberitakan Injil tanpa meminta bayaran dari jemaat Korintus. Ia tidak memanfaatkan pelayanannya untuk keuntungan pribadi.
Sebaliknya, para “rasul super” tampil penuh percaya diri. Mereka fasih berbicara, berani, dan tampak kuat. Mereka mengambil dukungan finansial dari jemaat dan memperlakukan orang-orang dengan sikap otoriter. Ironisnya, jemaat justru sabar terhadap perlakuan keras itu. Penampilan luar dan kesan keberhasilan membuat banyak orang sulit membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.
Paulus membuka kedok mereka dengan tegas: mereka adalah rasul-rasul palsu yang menyamar sebagai rasul Kristus. Penyamaran itu berhasil karena manusia cenderung menilai dari apa yang terlihat. Hati mudah terpikat oleh yang gemerlap, sementara kesetiaan yang sunyi dan penuh pengorbanan sering terabaikan.
Kisah ini bukan hanya catatan sejarah gereja mula-mula. Zaman ini pun tidak kekurangan figur yang tampak hebat. Gedung gereja yang megah, tata panggung yang profesional, musik yang menggetarkan, dan khotbah yang penuh motivasi bisa memberi kesan rohani yang kuat. Namun semua itu bukanlah jaminan kebenaran.
Pertanyaannya bukanlah seberapa mengesankan pelayan Tuhan itu terlihat, melainkan apakah ajarannya setia kepada Injil. Apakah Kristus ditinggikan, ataukah pribadi dan pengalaman sang pembicara yang lebih ditonjolkan? Apakah jemaat dibangun dalam kerendahan hati dan pertobatan, atau justru digiring pada ketergantungan dan kekaguman berlebihan kepada manusia dan kesuksesan duniawi?
Paulus rela terlihat lemah agar Kristus yang kuat. Ia tidak mencari pujian, melainkan kesetiaan. Ia tidak memoles citra, tetapi memikul salib. Dalam logika dunia, itu tampak seperti kegagalan. Namun dalam pandangan Allah, kesetiaan dalam penderitaan jauh lebih berharga daripada popularitas tanpa kebenaran.
Renungan ini mengajak kita untuk lebih berhati-hati. Jangan cepat terpesona oleh penampilan hebat atau kesuksesan gereja. Ujilah setiap ajaran dengan firman Tuhan. Perhatikan buahnya: apakah menghasilkan pertumbuhan dalam kasih, kekudusan, dan ketaatan? Ataukah hanya membangkitkan emosi sesaat?
Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa para pelayan-Nya akan selalu tampak mengagumkan di mata dunia. Bahkan Sang Juruselamat sendiri datang tanpa kemegahan lahiriah. Salib bukanlah simbol kemewahan, melainkan pengorbanan. Karena itu, marilah kita belajar melihat melampaui apa yang tampak, dan memohon hikmat untuk membedakan yang sejati dari yang palsu.
Doa Penutup
Ya Tuhan yang Mahakudus,
Ampuni kami jika hati kami mudah terpikat oleh apa yang gemerlap dan mengesankan. Sering kali kami menilai dari luar, bukan dari kebenaran firman-Mu. Berikan kami kepekaan rohani untuk menguji setiap ajaran dan setiap pelayanan dengan terang Injil Kristus.
Tolong kami untuk tidak mengagumi manusia secara berlebihan, tetapi mengarahkan hati hanya kepada-Mu. Bentuklah kami menjadi umat yang mengasihi kebenaran, rendah hati, dan setia, sekalipun jalan itu tidak terlihat megah di mata dunia. Peliharalah gereja-Mu dari ajaran palsu dan bangkitkan pelayan-pelayan yang setia, yang lebih rindu memuliakan Kristus daripada meninggikan diri sendiri.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.