“Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.” Roma 3:12

Di dunia ini, hampir semua agama dan filsafat hidup mendorong manusia untuk berbuat baik. Kita diajar untuk memiliki kemauan berbuat baik, melatih diri agar konsisten, dan memiliki visi hidup menjadi pribadi yang lebih luhur. Secara manusiawi, ajaran seperti itu terasa masuk akal. Bukankah dunia akan lebih indah jika setiap orang bertekad, berdisiplin, dan berkomitmen untuk berbuat baik?
Namun ketika kita membaca Roma 3:12, kita seakan ditarik ke dalam cermin yang lebih dalam. Rasul Paulus tidak sedang menilai manusia dari ukuran sosial atau moral, melainkan dari ukuran kekudusan Allah. Di hadapan standar manusia, mungkin kita bisa berkata, “Saya tidak seburuk itu” atau “Hidup saya sudah cukup baik.” Tetapi di hadapan Allah yang Mahakudus, bahkan kebaikan terbaik kita pun selalu tercemar oleh motif yang tidak murni, oleh ego yang tersembunyi, oleh keinginan untuk dipuji atau diakui orang lain, sekalipun kita mengaku “ikhlas” untuk berbuat baik. Paling tidak, agar perbuatan baik kita diakui oleh Tuhan!
Ajaran moral menekankan latihan dan kemauan berbuat baik. Kekristenan menyingkapkan sesuatu yang lebih radikal: masalah manusia bukan sekadar kurang latihan, melainkan mempunyai hati yang telah rusak. Kita bukan hanya membutuhkan perbaikan perilaku; kita membutuhkan pembaruan natur secara total.
Sering kali kita berpikir, “Kalau saya lebih disiplin, lebih konsisten, lebih fokus dan ikhlas, saya akan menjadi orang yang benar-benar baik.” Tetapi pengalaman hidup menunjukkan bahwa kemauan dan kemampuan manusia ada batasnya. Konsistensi bisa goyah. Visi bisa kabur ketika godaan datang atau ketika kepentingan diri tersentuh.
Alkitab tidak meniadakan pentingnya perbuatan baik. Justru iman yang sejati akan menghasilkan buah yang nyata. Namun perbuatan baik bukan tangga menuju keselamatan; itu adalah buah dari keselamatan melalui lahir baru.
Kita tidak berbuat baik supaya diterima Allah. Mengapa demikian? Jika kita ingin berbuat baik dengan usaha sendiri, apa pun yang kita hasilkan adalam tidak berharga di hadapan-Nya. Jadi, kita berbuat baik karena sudah diterima oleh Dia di dalam Kristus.
“Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.” Yesaya 64:6
Di sinilah letak penghiburan Injil. Jika keselamatan bergantung pada kemauan dan konsistensi kita, siapakah yang dapat bertahan? Tetapi jika keselamatan bergantung pada anugerah Allah, maka ada pengharapan bagi setiap orang—bahkan bagi mereka yang sadar akan kegagalannya.
Roma 3 tidak berhenti pada vonis bahwa tidak ada yang berbuat baik. Pasal itu bergerak menuju kabar sukacita bahwa kebenaran Allah dinyatakan melalui iman kepada Yesus Kristus. Allah tidak hanya menunjukkan standar-Nya; Ia juga menyediakan jalan keselamatan-Nya.
Sebagai orang percaya, kita tetap dipanggil untuk memiliki kemauan berbuat baik, hidup konsisten, dan memegang visi hidup yang benar. Tetapi semua itu mengalir dari hati yang telah disentuh oleh anugerah. Kita berjuang bukan untuk memperoleh kasih Allah, melainkan karena telah lebih dahulu dikasihi.
Maka setiap kali kita tergoda untuk mengandalkan usaha diri, Roma 3:12 mengingatkan kita untuk merendahkan hati. Dan setiap kali kita merasa gagal, Injil mengingatkan bahwa Allah sanggup memperbarui hati yang paling rapuh sekalipun.
Menjadi baik adalah tujuan yang mulia. Tetapi dilahirkan baru adalah kebutuhan yang mutlak. Dari hati yang diperbarui lahirlah iman yang sejati. Dan hanya melalui iman yang benar itulah perbuatan baik kita sungguh memuliakan Tuhan—bahkan dalam ketaatan itu iman kita sendiri semakin diteguhkan dan bertumbuh.
“Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2:22
Doa Penutup
Tuhan yang Mahakudus,
Kami mengakui bahwa sering kali kami mengandalkan kekuatan dan kemauan kami sendiri untuk menjadi baik. Kami lupa bahwa hati kami memerlukan pembaruan dari-Mu. Ampuni kesombongan kami yang merasa mampu berdiri benar oleh usaha sendiri.
Terima kasih untuk anugerah-Mu di dalam Kristus, yang membenarkan kami bukan karena perbuatan kami, melainkan karena kasih-Mu. Perbaruilah hati kami setiap hari, supaya kemauan kami selaras dengan kehendak-Mu, dan perbuatan kami menjadi buah dari iman yang hidup.
Ajarlah kami hidup dalam kerendahan hati, bersandar pada anugerah-Mu, dan memuliakan nama-Mu melalui hidup yang diubahkan.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.