Doa atau Mantra?

“Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ‘Tuhan, tolonglah aku!’” Matius 14:30

Dalam kehidupan rohani, kita mengenal berbagai bentuk doa. Ada doa yang terstruktur seperti Doa Bapa Kami. Ada doa syafaat yang panjang dan terinci. Ada juga doa yang sangat singkat, bahkan hanya satu kalimat yang diulang. Sebagian tradisi menyebutnya meditasi dengan mantra—sebuah kata doa yang diucapkan berulang untuk menenangkan pikiran dan menolong hati fokus kepada Tuhan.

Suatu hari Petrus berjalan di atas air. Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia berdiri teguh. Tetapi ketika ia merasakan tiupan angin keras, ketakutan merayap masuk. Ia mulai tenggelam. Dalam momen genting itu, ia tidak mengucapkan doa panjang. Ia tidak merangkai kalimat indah. Ia hanya berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Itulah doa yang lahir dari kebutuhan, bukan sekadar mantra.

Namun di sinilah kita perlu bijaksana. Alkitab memperingatkan agar kita tidak berdoa dengan pengulangan kata-kata kosong, seolah-olah banyaknya kata atau ritmenya memberi kuasa pada doa itu sendiri.

Doa Kristen bukan usaha manusia untuk mengaktifkan sesuatu yang ilahi. Doa adalah relasi anak dengan Bapa.

Pengulangan kata tidak selalu salah. Mazmur mengulang pujian. Seruan “kudus” diulang dalam penyembahan surgawi. Bahkan doa yang sama dapat dinaikkan kembali ketika hati sedang terdesak: “Tolong Tuhan, tolonglah aku Tuhan.” Tetapi pengulangan menjadi bermasalah ketika kita mulai mempercayai metodenya lebih daripada Pribadi yang kita tuju.

Jika sebuah kata diulang hanya demi mencapai keadaan tertentu, tanpa kesadaran dan kasih kepada Kristus, maka doa berubah menjadi teknik. Dan teknik mudah menggantikan relasi.

Sebaliknya, jika sebuah doa pendek diucapkan dengan iman dan ketergantungan, seperti seruan Petrus, itu bukanlah mantra. Itu jeritan hati.

Kita perlu menyadari bahwa komunikasi yang sehat dengan Tuhan sangat bergantung pada situasi hati dan keadaan hidup kita. Ketika badai menerpa, doa mungkin hanya satu kalimat: “Tuhan, tolonglah aku.” Ketika hati penuh syukur, doa bisa menjadi pujian panjang.

Ketika pikiran gelisah, mungkin kita membutuhkan keheningan beberapa menit untuk menenangkan diri sebelum berbicara. Ketika kita bingung, kita bisa membuka firman dan menjadikannya doa. Tidak ada satu bentuk doa yang cocok untuk semua keadaan.

Yang penting bukan panjang atau pendeknya doa, bukan diulang atau tidaknya kalimat, tetapi apakah hati kita sungguh tertuju kepada Kristus. Apakah kita sadar sedang berbicara kepada Pribadi yang hidup? Apakah kita datang dengan iman, bukan dengan kepercayaan pada metode?

Dalam situasi tertentu, pengulangan doa singkat dapat menolong fokus. Dalam situasi lain, kita perlu percakapan jujur dan terbuka dengan Tuhan. Dalam pergumulan berat, kita mungkin hanya mampu menghela napas dan berkata, “Ya Tuhan.”

Di taman Getsemani kita juga melihat bagaimana Yesus berdoa. Dalam pergumulan yang sangat berat menjelang salib, Ia datang kepada Bapa dengan kata-kata yang jujur dan penuh penyerahan. Injil mencatat bahwa Ia mengucapkan doa yang sama beberapa kali, namun bukan sebagai pengulangan kosong. Ia menyatakan isi hati-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Di sana kita melihat bahwa doa yang sejati bukanlah teknik untuk menghindari penderitaan, melainkan perjumpaan yang membawa kita pada ketaatan. Pengulangan Yesus lahir dari pergumulan yang mendalam, dan berakhir dalam penyerahan total kepada kehendak Bapa.

Doa yang sejati selalu relasional. Ia hidup, bukan mekanis. Ia sederhana, bukan magis. Ia lahir dari iman, bukan dari teknik.

Seperti Petrus, kita belajar bahwa yang menyelamatkan bukanlah kata-kata kita, tetapi tangan Yesus yang terulur. Doa hanyalah jembatan relasi itu—cara kita berseru kepada-Nya di tengah angin dan ombak kehidupan.

Doa Penutup

Tuhan Yesus,

Ajarlah kami berdoa dengan hati yang tulus.

Jauhkan kami dari kepercayaan pada teknik atau bentuk yang kosong.

Ketika kami gelisah, tenangkan hati kami.

Ketika kami takut, ajar kami berseru seperti Petrus: “Tuhan, tolonglah aku.”

Bentuklah relasi yang hidup antara kami dan Engkau, sehingga dalam setiap situasi kami tahu bagaimana datang kepada-Mu—dengan sederhana, dengan jujur, dengan iman.

Terima kasih karena Engkau selalu mengulurkan tangan-Mu kepada kami.

Amin.

Tinggalkan komentar