“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” Mazmur 19:2

Suatu hari seseorang bertanya dengan nada setengah serius, setengah menyelidik, “Mengapa kita perlu memuliakan Tuhan? Apakah karena Ia belum cukup mulia?” Pertanyaan itu terdengar tajam. Seolah-olah pujian manusia dibutuhkan untuk melengkapi kemuliaan-Nya. Jika Tuhan memang Mahamulia, bukankah tanpa pujian kita pun Ia tetap sama?
Pemazmur memberi jawaban yang sunyi namun tegas. Ia menunjuk ke langit. Sebelum ada mimbar, sebelum ada gereja, sebelum ada doa yang terucap, langit sudah menceritakan kemuliaan Allah. Cakrawala tanpa suara sudah memberitakan pekerjaan tangan-Nya. Bintang-bintang tidak berkhotbah, tetapi keindahannya bersaksi. Gunung-gunung tidak bernyanyi dengan kata-kata, tetapi keagungannya memproklamasikan kebesaran Penciptanya.
Artinya jelas: kemuliaan Tuhan tidak bergantung pada kita. Ia tidak menjadi lebih besar ketika kita memuji, dan tidak menjadi lebih kecil ketika kita diam. Ia tidak menunggu manusia untuk menjadi mulia. Ia sudah mulia. Lalu mengapa kita tetap dipanggil untuk memuliakan-Nya?
Karena memuliakan Tuhan bukanlah soal menambah sesuatu pada diri-Nya, melainkan menata sesuatu dalam diri kita. Pujian bukan vitamin bagi Allah, tetapi arah bagi hati manusia. Ketika kita memuliakan Tuhan, kita sedang mengakui realitas yang benar. Kita sedang berkata, “Engkau adalah pusat, bukan aku.”
Dalam dunia yang mendorong kita untuk menjadi pusat segala sesuatu, memuliakan Tuhan adalah tindakan merendahkan diri yang menyembuhkan.
Manusia tidak pernah hidup tanpa memuliakan sesuatu. Jika bukan Tuhan, kita akan memuliakan uang, pencapaian, kecerdasan, reputasi, atau bahkan kesalehan kita sendiri. Kita selalu memberi nilai tertinggi kepada sesuatu. Kita selalu menaruh sesuatu di takhta hati. Pertanyaannya bukan apakah kita akan memuliakan, tetapi siapa atau apa yang kita muliakan.
Di sinilah pentingnya kita datang ke gereja. Bukan karena Tuhan hanya hadir di sana, atau karena Ia kekurangan penyembah di luar gedung itu, melainkan karena hati kita mudah lupa. Dalam kebersamaan umat Tuhan, kita diingatkan kembali siapa pusat hidup ini. Kita menyanyikan pujian bersama bukan untuk memperbesar Allah, tetapi untuk meneguhkan iman kita satu sama lain.
Ibadah bersama menjadi latihan rohani yang menata ulang orientasi hati, agar di tengah kesibukan dan godaan dunia, kita tetap ingat bahwa Tuhanlah yang layak dimuliakan.
Ketika kita memuliakan Tuhan, kita sedang memindahkan takhta itu kembali kepada yang berhak. Dan di situlah kita menemukan kebebasan. Beban untuk menjadi pusat dunia terangkat. Kita tidak lagi harus mempertahankan citra, membuktikan diri, atau mengejar pengakuan tanpa henti. Kita kembali menjadi ciptaan yang bersandar kepada Sang Pencipta.
Memuliakan Tuhan juga adalah bentuk pengenalan. Sama seperti seseorang yang memandang matahari dan berkata, “Betapa terangnya,” ia tidak membuat matahari lebih terang. Ia hanya mengakui apa yang memang ada. Demikian pula ketika kita menyatakan kemuliaan Tuhan, kita sedang menyelaraskan hati dengan kebenaran. Kita belajar melihat hidup dari perspektif kekekalan, bukan sekadar dari sudut kepentingan sesaat.
Ada sukacita tersembunyi dalam tindakan itu. Ketika kita berhenti menempatkan diri sebagai pusat, jiwa kita justru menjadi lebih tenang. Ada kedamaian dalam mengakui bahwa dunia ini tidak bertumpu pada kita. Tuhan tidak membutuhkan pujian kita untuk bertahan, tetapi kita membutuhkan penyembahan untuk tetap sehat secara rohani.
Jadi, memuliakan Tuhan bukanlah beban yang menekan, melainkan undangan yang membebaskan. Bukan karena Ia kekurangan kemuliaan, tetapi karena kita sering kekurangan arah. Pujian bukanlah suplai bagi Allah, melainkan penataan ulang bagi hati manusia. Dan ketika hati tertata, hidup pun menjadi lebih jernih.
Langit terus menceritakan kemuliaan-Nya, siang dan malam tanpa lelah. Pertanyaannya bukan apakah Tuhan sudah cukup mulia. Pertanyaannya adalah: apakah kita mau membuka mata dan ikut menyaksikan apa yang sudah dinyatakan sejak awal?
“Besarlah Tuhan dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga.” Mazmur 145:3
Doa Penutup
Tuhan yang Mahamulia,
Ampuni kami ketika kami mengira Engkau membutuhkan pujian kami, seolah-olah kemuliaan-Mu bergantung pada suara kami. Ajarlah kami memahami bahwa dalam memuliakan-Mu, justru hati kamilah yang ditata kembali. Bebaskan kami dari keinginan untuk menjadi pusat hidup kami sendiri.
Tolong kami setia bersekutu bersama umat-Mu, agar melalui ibadah dan persekutuan, hati kami terus diarahkan kepada-Mu. Bukalah mata kami untuk melihat kemuliaan-Mu dalam ciptaan dan dalam setiap peristiwa hidup. Ajarlah kami memuji bukan karena kewajiban, tetapi karena pengenalan dan kasih. Kiranya hidup kami, dalam perkataan dan perbuatan, menjadi respons yang wajar terhadap kebesaran-Mu yang sudah sempurna.
Di dalam nama Tuhan kami berdoa. Amin.