“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Galatia 3:28

Pembicaraan tentang Israel sering kali cepat memanas. Ada yang berkata Israel tetap umat pilihan Allah sampai hari ini. Ada yang berkata status itu hanya berlaku dalam Perjanjian Lama. Ada pula yang mengaitkannya dengan politik modern dan konflik Timur Tengah. Tidak sedikit yang akhirnya terseret ke sikap ekstrem—entah menjadi sangat membela tanpa pernah memberi kritik, atau justru jatuh ke dalam sikap antipati yang berbahaya.
Sebagai orang percaya, bagaimana seharusnya kita memandang Israel?
Alkitab tidak pernah menyembunyikan fakta bahwa Israel dipilih Allah dalam sejarah penebusan. Allah memanggil Abraham, membentuk satu bangsa, dan melalui bangsa itu lahir para nabi, hukum Taurat, dan akhirnya Sang Mesias. Pilihan itu bukan karena kehebatan mereka, melainkan karena kasih dan kedaulatan Allah. Israel dipilih untuk menjadi saluran berkat bagi bangsa-bangsa.
Namun Perjanjian Baru membawa kita pada terang yang lebih penuh. Dalam Kristus, garis pemisah etnis tidak lagi menjadi dasar keselamatan. Rasul Paulus menulis dalam Galatians 3:28 bahwa tidak ada lagi orang Yahudi atau Yunani; semua satu di dalam Kristus. Itu bukan berarti identitas budaya lenyap, tetapi status rohani di hadapan Allah tidak lagi ditentukan oleh garis keturunan, melainkan oleh iman kepada Yesus.
Paulus sendiri bergumul panjang dalam Roma pasal 9–11. Ia tidak meremehkan bangsanya. Ia justru menyatakan kesedihan yang mendalam karena banyak dari mereka belum menerima Kristus. Namun ia juga menegaskan bahwa tidak semua yang berasal dari Israel adalah Israel sejati. Dengan kata lain, inti umat Allah bukanlah darah, melainkan iman.
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Sejarah menunjukkan bahwa ketika orang Kristen salah memahami posisi Israel, akibatnya bisa tragis. Kebencian terhadap orang Yahudi (antisemitisme) pernah dibungkus dengan bahasa agama dan menghasilkan luka yang panjang dalam sejarah Eropa, bahkan mencapai puncaknya dalam kekejaman rezim Adolf Hitler. Itu bukan buah Injil, melainkan penyimpangan dari hati Kristus.
Di sisi lain, ada pula yang menganggap bahwa karena Israel pernah dipilih Allah, maka segala tindakan politik modernnya harus selalu dibenarkan tanpa kritik. Ketika teologi dicampur aduk dengan nasionalisme atau kepentingan politik, iman bisa kehilangan pusatnya.
Lalu bagaimana sikap yang sehat?
Pertama, kita harus menolak antisemitisme dan rasisme dalam bentuk apa pun. Kebencian terhadap satu suku bangsa bertentangan dengan Injil. Yesus sendiri lahir sebagai orang Yahudi. Para rasul adalah orang Yahudi. Gereja mula-mula bertumbuh dari komunitas Yahudi.
Menghina bangsa Yahudi sama saja dengan melupakan latar belakang iman kita sendiri.
Kedua, kita harus menolak gagasan bahwa keselamatan bisa diwariskan secara otomatis melalui etnis. Tidak ada bangsa yang memiliki “jaminan rohani” tanpa iman kepada Kristus.
Semua manusia—Yahudi maupun non-Yahudi—berdiri di hadapan Allah dengan kebutuhan yang sama: anugerah melalui salib.
Ketiga, kita perlu menjaga agar iman kita tidak ditentukan oleh konflik geopolitik. Negara modern dan bangsa dalam pengertian politik tidak identik secara sederhana dengan konsep teologis dalam Alkitab.
Kerajaan Allah tidak pernah dibatasi oleh batas wilayah atau sistem pemerintahan manusia.
Pada akhirnya, Alkitab membawa kita kembali kepada Kristus. Di kayu salib, semua kesombongan manusia diruntuhkan. Tidak ada ruang untuk merasa lebih unggul karena suku, ras, atau sejarah rohani. Semua diselamatkan dengan cara yang sama—oleh kasih karunia.
Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Apakah Israel masih umat pilihan?” melainkan, “Apakah saya hidup sebagai bagian dari umat yang dipersatukan di dalam Kristus?”
Apakah pandangan kita tentang Israel membuat kita lebih bisa mengasihi, sesama kita atau justru lebih mudah membenci dan menghakimi?
Galatia 3:28 mengingatkan kita bahwa identitas tertinggi kita bukanlah kebangsaan, melainkan kesatuan di dalam Yesus. Jika Kristus adalah pusat, kita akan terhindar dari kebencian. Jika Kristus adalah pusat, kita juga tidak akan membangun teologi di atas sentimen politik. Kita akan belajar memegang kebenaran dengan kasih.
Kiranya setiap kali kita mendengar diskusi tentang Israel, hati kita tidak digerakkan oleh emosi atau propaganda, melainkan oleh Injil. Kita dipanggil bukan untuk membenci atau mengidolakan satu bangsa, tetapi untuk bersaksi bahwa hanya di dalam Kristus ada keselamatan bagi semua bangsa di dunia.
Doa Penutup
Tuhan yang Mahakasih,
Engkau adalah Allah yang setia sepanjang sejarah. Engkau memilih, memanggil, dan menggenapi janji-Mu di dalam Kristus. Ampuni kami jika hati kami pernah diwarnai prasangka, kebencian, atau kesombongan rohani. Ajarlah kami memandang setiap bangsa dengan kasih yang sama seperti yang Engkau tunjukkan di kayu salib.
Tolong kami agar tidak terseret oleh arus kebencian atau fanatisme yang melupakan Injil. Teguhkan iman kami bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus, dan satukan hati kami dengan semua orang percaya di seluruh dunia sebagai satu tubuh di dalam Dia.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.