Tidak Semua Berguna

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. 1 Korintus‬ ‭10‬:‭23‬‬

Suatu hari seseorang bertanya dengan tulus, “Apakah orang Kristen patut menonton festival budaya yang di dalamnya ada unsur ritual dan kepercayaan kepada roh?” Pertanyaan itu bukan lahir dari rasa ingin tahu biasa, tetapi dari hati yang ingin setia. Bukan karena takut kepada roh-roh, melainkan karena takut melanggar perintah Tuhan untuk menjauhi berhala.

Kita hidup di dunia yang majemuk. Ada banyak perayaan budaya, termasuk festival seperti Cap Go Meh Singkawang, yang menampilkan kekayaan tradisi, seni, dan juga unsur spiritual yang bukan berasal dari iman Kristen. Di satu sisi, itu adalah fenomena budaya yang menarik. Di sisi lain, ada ritual yang jelas berakar pada kepercayaan tertentu.

Di Sydney, setiap tahun ada parade kaum LGBTIQ+ yang dinamakan Mardi Gras. Ribuan penonton datang dari berbagai tempat, termasuk turis dari luar negeri. Mereka merayakan kebebasan identitas golongan mereka dengan parade dansa dansi dengan pakaian minim. Tetapi banyak juga keluarga yang menonton bersama anak-anak mereka. Di satu sisi, parade ini merayakan kebebasan dan hak asasi manusia. Di pihak lain, tontonan ini dipandang sebagai hal yang melampaui standar moral sebagian orang.

Lalu bagaimana sikap orang percaya?

Sering kali kita terjebak pada dua ekstrem. Yang pertama adalah ketakutan: seolah-olah dengan menonton saja kita sudah membuka pintu bagi kuasa gelap. Yang kedua adalah kecerobohan: merasa semua boleh karena kita hidup dalam anugerah. Padahal Alkitab memberi jalan yang lebih dewasa.

Paulus tidak berkata bahwa semua yang “boleh” otomatis baik untuk jiwa kita. Ia menambahkan ukuran yang lebih tinggi: berguna dan membangun.

Ukuran orang percaya bukan sekadar benar atau salah, tetapi apakah sesuatu itu memperkuat kasih kita kepada Kristus.

Menonton bukanlah penyembahan. Mengamati bukanlah partisipasi. Namun hati kita tetap bisa terpengaruh oleh apa yang kita nikmati dan kagumi. Jika sebuah tontonan menimbulkan kekaguman rohani terhadap kuasa selain Tuhan, atau mengaburkan keunikan Kristus sebagai satu-satunya Tuhan, maka itu tidak lagi netral bagi jiwa.

Di sisi lain, tidak semua yang mengandung unsur budaya non-Kristen otomatis menjadi dosa untuk dilihat.

Yang menentukan bukan hanya objeknya, tetapi sikap hati dan dampaknya.

Paulus dalam 1 Korintus 10 bahkan rela membatasi kebebasannya demi saudara yang imannya lebih lemah. Artinya, kasih lebih tinggi dari sekadar hak pribadi.

Ada orang yang semakin dewasa rohani menjadi semakin sederhana dalam pilihan hidupnya. Ada juga yang tidak semakin sederhana, tetapi semakin selektif. Selektif berarti menimbang dengan sadar: apakah ini layak untuk mata dan hati. Dosa bisa datang dari mata dan kemudian turun ke hati. Karena itu kita harus sangat berhati-hati. Apakah ini membantu saya memuliakan Tuhan? Apakah ini akan membangun orang lain atau justru membingungkan mereka?

“Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.” Matius‬ ‭18‬:‭9‬‬

Tidak semua yang netral perlu dikonsumsi. Tidak semua yang tersedia perlu dinikmati.

Waktu dan perhatian kita adalah bagian dari ibadah kita. Apa yang sering kita lihat dan nikmati perlahan membentuk selera dan arah hati.

Menjauhi sesuatu bukan selalu tanda ketakutan. Kadang itu tanda prioritas. Kadang itu penting untuk mengarahkan anak cucu kita ke arah yang lebih penting. Bukan karena kita menganggap roh-roh itu hebat, tetapi karena kita tahu Kristus jauh lebih mulia sehingga kita tidak mau mengisi hati dengan hal yang tidak menolong kita mengasihi-Nya lebih dalam.

Akhirnya, hidup yang memuliakan Tuhan bukan hidup yang steril dari dunia, tetapi hidup yang tahu mana yang bernilai kekal dan mana yang hanya lewat sesaat. Bukan hidup dalam kecemasan, tetapi hidup dalam kebijaksanaan. Karena memang benar: tidak semua berguna. Dan hati yang rindu memuliakan Tuhan akan belajar berkata dengan tenang, “Saya memilih yang membangun.”

Doa Penutup

Tuhan yang kudus dan penuh kasih, ajarilah kami hidup dengan bijaksana di tengah dunia yang beragam ini.

Berikan kami hati yang peka, bukan hati yang takut, dan kebebasan yang dewasa, bukan kebebasan yang ceroboh.

Tolong kami menilai segala sesuatu dengan terang firman-Mu.

Jika sesuatu tidak berguna bagi jiwa kami, berikan keberanian untuk meninggalkannya.

Jika sesuatu berpotensi menjadi batu sandungan, berikan kasih untuk mengutamakan sesama.

Jagalah hati kami supaya tetap tertuju kepada Kristus, sehingga dalam apa pun yang kami lakukan — melihat, mendengar, atau memilih —nama-Mu yang dimuliakan.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Tinggalkan komentar