“Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah!’ Busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik.” Mazmur 53:2

Di zaman modern ini, kebebasan sering dianggap sebagai nilai tertinggi. Banyak orang merasa bahwa manusia baru benar-benar bebas jika tidak ada otoritas yang lebih tinggi yang mengatur hidupnya. Bagi mereka, gagasan tentang Allah terasa seperti pembatas. Jika Allah tidak ada, maka manusia merasa bebas menentukan sendiri apa yang benar dan salah. Dan semua berjalan hanya menurut hukum menabur dan menuai.
Namun Mazmur 53 memberikan perspektif yang sangat berbeda. Pemazmur berkata bahwa orang yang berkata dalam hatinya, “Tidak ada Allah,” adalah orang bebal. Menariknya, kata ini tidak terutama menunjuk pada kurangnya kecerdasan. Alkitab tidak sedang mengatakan bahwa orang tersebut tidak pandai. Sebaliknya, kebebalan ini bersifat moral dan rohani.
Dengan kata lain, masalahnya bukan pada kemampuan berpikir, tetapi pada sikap hati.
Mazmur itu secara khusus mengatakan bahwa orang bebal berkata “dalam hatinya.” Artinya, ini bukan sekadar pernyataan intelektual. Ini adalah keputusan batin. Seseorang bisa saja memiliki berbagai argumen filosofis tentang keberadaan Allah, tetapi pemazmur menyoroti sesuatu yang lebih dalam: keinginan manusia untuk hidup tanpa pertanggungjawaban kepada Penciptanya, tapi kepada dirinya sendiri.
Di sinilah letak perbedaan antara bebas dan bebal.
Manusia memang diciptakan dengan kebebasan tertentu. Allah memberi kita akal budi, kehendak, dan kemampuan memilih. Tetapi kebebasan itu tidak pernah dimaksudkan sebagai kebebasan tanpa arah.
Kebebasan sejati selalu berjalan bersama kebenaran Ilahi.
Jika seseorang menolak Allah demi kebebasan mutlak, ia sebenarnya sedang menukar kebebasan dengan sesuatu yang jauh lebih buruk. Tanpa Allah, standar moral menjadi kabur. Apa yang benar dan salah akhirnya ditentukan oleh kepentingan pribadi, kekuasaan, atau selera zaman.
Mazmur 53 menggambarkan akibatnya dengan kata-kata yang sangat keras: manusia menjadi korup, melakukan hal-hal yang menjijikkan, dan tidak ada yang berbuat baik. Tetapi, mereka tidak sadar bahwa mereka adalah manusia berdosa karena tidak percaya adanya Tuhan yang mahasuci.
Ini bukan sekadar kritik terhadap kelompok tertentu. Mazmur ini sebenarnya membuka kenyataan yang lebih luas tentang kondisi manusia. Ketika manusia memutuskan untuk hidup tanpa Allah, kerusakan moral tidak bisa dihindari atau disadari.
Sejarah manusia penuh dengan contoh. Ideologi yang menyingkirkan Allah sering kali menjanjikan kebebasan besar bagi manusia. Namun pada akhirnya, yang muncul justru penindasan, kekerasan, dan hilangnya nilai kehidupan manusia.
Mengapa demikian?
Karena ketika Allah disingkirkan, manusia dengan mudah menempatkan dirinya sendiri sebagai pusat segala sesuatu. Dan ketika manusia menjadi pusat, ego, kekuasaan, dan keinginan pribadi perlahan-lahan mengambil alih. Itu bisa terjadi dalam keluarga, negara dan juga gereja.
Namun kabar baik dari Alkitab adalah bahwa Allah tidak meninggalkan manusia dalam kebebalan itu. Sepanjang sejarah keselamatan, Allah terus memanggil setiap manusia untuk kembali kepada-Nya. Ia membuka mata hati manusia untuk melihat bahwa hidup yang benar bukanlah hidup tanpa Allah, tetapi hidup bersama Dia.
Justru di dalam pengenalan akan Allah, manusia menemukan kebebasan yang sejati.
Kebebasan sejati bukanlah kemampuan untuk melakukan apa yang diingini asal tidak mengganggu orang lain.
Pikiran manusia tidak bisa menjamin bahwa mereka bisa memilih apa yang baik.
Kebebasan sejati adalah kemampuan untuk hidup sesuai dengan kebenaran Tuhan dan tujuan kita diciptakan. Ini memerlukan hubungan yang dekat dengan Tuhan.
Seperti ikan yang bebas di dalam air, manusia paling bebas ketika ia hidup dalam hubungan dengan Penciptanya. Tanpa Allah, kebebasan berubah menjadi kebebalan. Tetapi bersama Allah, kebebasan berubah menjadi kehidupan yang penuh makna.
Mazmur 53 mengingatkan kita untuk memeriksa hati kita sendiri. Apakah kita hidup seolah-olah Allah tidak ada? Ataukah kita hidup dengan kesadaran bahwa setiap langkah kita berada di hadapan-Nya?
Hikmat rohani dimulai bukan dari kecerdasan manusia, tetapi dari hati yang mau mengakui Tuhan. Di situlah kebebasan yang sejati ditemukan.
Doa Penutup
Tuhan yang Mahakudus, kami mengakui bahwa sering kali hati kami ingin hidup tanpa batasan, tanpa pertanggungjawaban kepada-Mu. Kami mudah tergoda untuk mengandalkan pikiran kami sendiri dan melupakan bahwa Engkaulah Pencipta dan Hakim atas hidup kami.
Ampuni kami jika dalam sikap, keputusan, atau cara hidup kami, kami seakan-akan berkata dalam hati bahwa Engkau tidak ada. Bukalah mata hati kami supaya kami melihat bahwa kebebasan sejati hanya ada di dalam Engkau.
Ajarlah kami untuk hidup dengan takut akan Tuhan, bukan sebagai beban, tetapi sebagai jalan menuju kehidupan yang benar dan penuh makna.
Bentuklah hati kami agar kami tidak menjadi bebal, tetapi menjadi bijaksana di hadapan-Mu.
Di dalam nama Tuhan kami berdoa. Amin.