“dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan Allah: Pada hari Aku memilih Israel, Aku bersumpah kepada keturunan kaum Yakub dan menyatakan diri kepada mereka di tanah Mesir; Aku bersumpah kepada mereka: Akulah Tuhan Allahmu!” Yehezkiel 20:5

Istilah “bangsa pilihan” sering menjadi bahan ejekan bagi sebagian orang. Ada yang bertanya dengan nada sinis: jika Israel adalah bangsa pilihan Tuhan, mengapa sejarah mereka penuh penderitaan, penganiayaan, perang, dan bahkan tragedi besar?
Pertanyaan seperti ini sebenarnya muncul karena banyak orang salah memahami arti kata “pilihan” dalam Alkitab. Mereka mengira bahwa bangsa pilihan berarti bangsa yang otomatis lebih mulia, lebih diberkati, atau pasti diselamatkan oleh Tuhan. Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan demikian.
Ayat dalam kitab nabi Yehezkiel memberi petunjuk penting tentang makna pilihan itu. Tuhan berkata, “Pada hari Aku memilih Israel… Aku menyatakan diri kepada mereka.” Kalimat ini menunjukkan bahwa pilihan Allah atas Israel berkaitan dengan penyataan diri-Nya dalam sejarah.
Dengan kata lain, Israel dipilih untuk menjadi bangsa yang mengenal Allah dan menerima wahyu-Nya. Melalui bangsa ini, Tuhan menyatakan hukum-Nya, memanggil para nabi, dan memperkenalkan diri-Nya kepada dunia sebagai Allah yang hidup.
Pilihan itu bukan sekadar kehormatan. Ia adalah panggilan dan tanggung jawab.
Sejarah Alkitab justru memperlihatkan bahwa bangsa Israel sering gagal menjalankan panggilan tersebut. Para nabi berkali-kali menegur mereka karena penyembahan berhala, ketidakadilan, dan ketidaksetiaan kepada Tuhan. Teguran keras datang dari nabi-nabi seperti Yesaya dan Yeremia.
Bahkan bangsa itu pernah mengalami kehancuran dan pembuangan sebagai akibat dari ketidaktaatan mereka. Semua ini menunjukkan bahwa menjadi bangsa pilihan tidak berarti kebal dari penghakiman Tuhan.
Lalu untuk apa sebenarnya Israel dipilih?
Dalam iman Kristen, pilihan itu memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar sejarah satu bangsa. Israel dipilih untuk menjadi saluran rencana keselamatan Allah bagi dunia.
Melalui sejarah bangsa ini, janji-janji Tuhan dipelihara dan nubuat-nubuat disampaikan. Dari garis keturunan mereka akhirnya lahir Sang Mesias, yaitu Yesus Kristus.
Rasul Paulus menjelaskan bahwa kepada Israel dipercayakan banyak hal: perjanjian, hukum Taurat, ibadah kepada Allah, dan janji-janji-Nya. Namun ia juga menegaskan bahwa semua itu tidak otomatis membuat seseorang diselamatkan.
Keselamatan tidak pernah ditentukan oleh bangsa atau keturunan.
Dalam Perjanjian Baru, keselamatan dinyatakan terbuka bagi semua orang. Baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi dapat menjadi bagian dari umat Allah melalui iman kepada Kristus. Dengan demikian, tujuan akhir dari sejarah Israel bukanlah meninggikan satu bangsa di atas bangsa lain, melainkan membuka jalan keselamatan bagi seluruh dunia.
Jika kita melihat sejarah dengan jujur, menjadi “bangsa pilihan” justru sering berarti memikul penderitaan yang berat. Orang Yahudi mengalami pengusiran, penindasan, dan tragedi besar seperti Holocaust.
Hal ini menunjukkan bahwa pilihan Allah tidak selalu berarti kemudahan hidup di dunia. Sering kali pilihan itu berarti menjadi bagian dari rencana Tuhan yang lebih besar daripada kepentingan satu generasi.
Karena itu, konsep “bangsa pilihan” dalam Alkitab sebenarnya bukanlah cerita tentang keistimewaan suatu bangsa. Ini adalah cerita tentang bagaimana melalui kasih-Nya Tuhan bekerja melalui sejarah manusia untuk menyatakan diri-Nya dan membawa keselamatan bagi seisi dunia.
Dan pada akhirnya, pusat dari seluruh kisah itu bukan Israel, melainkan Kristus—yang datang bukan hanya untuk satu bangsa, tetapi bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Doa Penutup
Tuhan yang Mahabijaksana,
Engkau adalah Tuhan atas segala bangsa.
Di tangan-Mu sejarah dunia berjalan, dan tidak ada satu pun bangsa yang berada di luar kedaulatan-Mu.
Kami bersyukur karena melalui sejarah Israel Engkau menyatakan diri-Mu kepada manusia dan menghadirkan Juruselamat bagi dunia dalam diri Yesus Kristus. Melalui karya keselamatan-Nya, Engkau membuka jalan bagi semua bangsa untuk mengenal kasih dan kebenaran-Mu.
Namun kami juga menyadari kelemahan hati manusia.
Kadang kami tergoda untuk meninggikan satu bangsa secara berlebihan, seolah-olah mereka lebih layak dari bangsa lain. Di lain waktu, kami juga dapat jatuh ke dalam sikap kebencian, prasangka, atau penghakiman yang tidak benar.
Ampunilah kami, Tuhan.
Ajarlah kami melihat sejarah dengan mata iman.
Tolonglah kami memahami bahwa rencana-Mu selalu lebih besar daripada kepentingan satu bangsa, satu kelompok, atau satu generasi.
Jauhkan hati kami dari pemujaan manusia atau bangsa mana pun.
Tetapi juga jauhkan kami dari kebencian, permusuhan, dan prasangka terhadap siapa pun.
Ajarlah kami menghormati semua manusia sebagai ciptaan-Mu, dan menilai segala sesuatu dengan hikmat, keadilan, dan kasih.
Kiranya hati kami tetap tertuju kepada Kristus saja sebagai pusat iman kami, sebab hanya Dia yang adalah Tuhan dan Juruselamat bagi seluruh dunia.
Bimbinglah kami untuk hidup dalam kerendahan hati, dalam kebenaran, dan dalam kasih kepada semua bangsa, sampai kehendak-Mu digenapi di bumi seperti di surga.
Di dalam nama Tuhan kami berdoa.
Amin.