Apakah Tuhan Punya Tanggung Jawab Moral?

“tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kitab Kejadian 2:17

Sejak dahulu manusia sering bertanya: jika Tuhan mengetahui segala sesuatu, mengapa Ia tidak menghentikan kejahatan sebelum terjadi?

Sebagian orang melihat perang, kekerasan, dan penderitaan di dunia lalu menyimpulkan bahwa Tuhan tidak ada. Ada pula yang berkata bahwa jika Tuhan ada, Ia tampaknya tidak memiliki tanggung jawab moral karena membiarkan begitu banyak kejahatan dan penderitaan terjadi di dunia.

Namun Alkitab justru memulai ceritanya dengan sesuatu yang sangat jelas: Tuhan sudah memberikan hukum moral kepada manusia sejak awal. Ia adalah pencipta moral, yang menuntun manusia dalam membedakan apa yang baik dan apa yang buruk.

Di taman Eden, Tuhan memberi perintah kepada Adam dan Hawa untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Perintah itu sederhana, tetapi sangat mendasar.

Melalui perintah itu Tuhan menunjukkan bahwa kehidupan manusia berada di bawah hukum moral yang berasal dari-Nya. Tuhan adalah sumber dari standar benar dan salah.

Ketika manusia melanggar perintah itu, konsekuensinya pun terjadi. Kematian masuk ke dalam dunia. Relasi manusia dengan Tuhan rusak, dan sejak saat itu dosa mulai bekerja di dalam hati manusia.

Kita melihat akibatnya tidak lama kemudian dalam kisah pembunuhan pertama di dunia. Kain membunuh adiknya, Habel. Iri hati dan kemarahan yang tidak dikendalikan berubah menjadi kekerasan.

Di sinilah banyak orang bertanya: jika Tuhan tahu apa yang akan terjadi, mengapa Ia tidak menghentikan Kain?

Pertanyaan itu sebenarnya mengandung asumsi bahwa Tuhan seharusnya membatalkan hukum-Nya setiap kali manusia melanggarnya. Tetapi jika Tuhan selalu mencegah konsekuensi dari dosa manusia, maka hukum moral yang Ia berikan tidak lagi memiliki arti.

Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai mesin yang otomatis melakukan kebaikan. Ia memberikan kemampuan untuk memilih. Karena itu manusia juga memikul tanggung jawab atas pilihannya.

Kain telah diperingatkan bahwa dosa sedang mengintip di depan pintu dan ia harus menguasainya. Tetapi ia memilih jalan yang lain dan karena itu harus menerima akibatnya. Namun kisah Alkitab tidak berhenti pada hukuman saja.

Setelah Kain melakukan pembunuhan, Tuhan memang menjatuhkan hukuman kepadanya. Ia menjadi pengembara di bumi. Ini menunjukkan bahwa dosa tidak pernah tanpa konsekuensi. Tetapi pada saat yang sama Tuhan juga menunjukkan kemurahan-Nya. Ia memberikan tanda perlindungan kepada Kain supaya orang lain tidak membunuhnya.

Di sini kita melihat dua hal yang berjalan bersama: keadilan dan kasih. Tuhan tidak membatalkan hukum-Nya, tetapi Ia juga tidak berhenti menyatakan belas kasihan.

Sejak awal sejarah manusia, Tuhan telah menunjukkan pola ini. Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Tuhan tidak menghapus konsekuensi dari pelanggaran itu. Tetapi Ia mulai menyingkapkan rencana penebusan-Nya.

Rencana itu akhirnya mencapai puncaknya melalui Yesus Kristus. Di dalam Dia, kasih dan keadilan Allah bertemu secara sempurna. Dosa tidak diabaikan, tetapi dihukum. Namun manusia berdosa tetap diberi kesempatan untuk menerima pengampunan.

Ketika kita melihat dunia yang penuh konflik dan kekerasan, kita mungkin tergoda untuk menyalahkan Tuhan. Tetapi Alkitab mengingatkan kita bahwa akar dari banyak kejahatan berada di dalam hati manusia sendiri—hati yang telah menjauh dari hukum Tuhan.

Namun kabar baiknya adalah bahwa Tuhan tidak meninggalkan dunia ini. Ia tetap bekerja di dalam sejarah, memanggil manusia yang sesat untuk kembali kepada-Nya, dan menawarkan kehidupan yang baru melalui anugerah-Nya.

Karena itu, pertanyaan yang paling penting pagi ini bukanlah mengapa Tuhan tidak menghentikan kejahatan, seperti perang yang saat ini terjadi di Timur Tengah, tetapi apakah sesudah merasakan akibat dosa, seluruh umat manusia mau kembali kepada-Nya dan hidup menurut hukum serta kasih-Nya.

Doa Penutup

Tuhan yang Mahakudus,

Engkau telah memberikan hukum-Mu kepada manusia sejak awal. Engkau menunjukkan kepada kami jalan kehidupan, tetapi sering kali kami memilih jalan kami sendiri.

Ampunilah dosa kami ketika kami melanggar kehendak-Mu dan kemudian menyalahkan keadaan di sekitar kami. Ajarlah kami untuk hidup dengan hati yang taat kepada firman-Mu.

Terima kasih karena Engkau bukan hanya Allah yang adil, tetapi juga Allah yang penuh kasih. Terima kasih untuk anugerah penebusan yang Engkau nyatakan melalui Yesus Kristus.

Tolonglah kami agar setiap hari belajar menguasai dosa yang mengintip di depan pintu hati kami, dan berjalan dalam terang-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.

Amin.

Tinggalkan komentar