Arti Israel di Zaman Sekarang

“Tidak ada satupun dari segala janji baik yang diucapkan TUHAN kepada kaum Israel yang tidak dipenuhi-Nya; semuanya terpenuhi.” Yosua 21:45

Ada kalanya kita membaca Alkitab dengan jarak sejarah yang jauh. Nama-nama tempat dan bangsa terasa seperti cerita masa lampau. Tetapi ketika kita membuka berita dunia modern dan melihat nama Israel muncul hampir setiap hari, kita menyadari bahwa bangsa yang sering kita baca dalam Alkitab itu masih menjadi bagian dari percakapan dunia sampai sekarang.

Bagi sebagian orang Kristen, Israel modern dilihat sebagai pusat dari seluruh rencana Allah. Apa pun yang dilakukan negara itu dianggap benar, karena mereka adalah “bangsa pilihan”. Di sisi lain, ada juga yang bereaksi sebaliknya.

Karena konflik politik dan perang yang tidak kunjung berhenti, ada orang Kristen yang mulai menolak bahkan membenci Israel, seolah-olah bangsa itu tidak lagi memiliki tempat khusus dalam sejarah iman. Namun Alkitab mengajak kita melihat dengan cara yang lebih tenang dan lebih dalam.

Kitab Yosua mencatat sebuah kalimat yang sangat kuat: “Tidak ada satupun dari segala janji baik yang diucapkan TUHAN kepada kaum Israel yang tidak dipenuhi-Nya.” Kalimat ini adalah pengakuan bahwa Allah setia. Ia menepati janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Tanah yang dijanjikan diberikan, bangsa itu terbentuk, dan mereka mengalami pemeliharaan Tuhan dalam sejarah.

Dari bangsa inilah lahir begitu banyak hal yang membentuk iman kita. Melalui Israel, Allah memberikan wahyu-Nya kepada dunia. Hukum Taurat diberikan kepada mereka. Para nabi muncul dari tengah bangsa itu untuk menyatakan kehendak Tuhan. Dan yang paling penting, dari bangsa itulah lahir Mesias yang dijanjikan—Yesus Kristus, Juruselamat dunia.

Karena itu kita tidak bisa mengatakan bahwa Israel hanyalah bangsa biasa dalam Alkitab. Mereka memiliki peranan unik dalam sejarah keselamatan. Rasul Paulus bahkan berkata bahwa kepada merekalah dipercayakan perjanjian-perjanjian, ibadah, dan janji-janji Allah. Namun di sinilah kita perlu berhati-hati.

Alkitab tidak pernah berhenti pada bangsa atau tanah sebagai tujuan akhir.

Semua janji Allah kepada Israel sebenarnya menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar. Tanah perjanjian adalah bayangan dari kerajaan Allah yang lebih luas. Bait Allah menunjuk kepada kehadiran Allah yang sempurna. Dan seluruh hukum Taurat menemukan penggenapannya di dalam Kristus.

Puncak dari semua janji Allah bukanlah negara atau wilayah geografis tertentu, melainkan pribadi Yesus Kristus dan karya keselamatan-Nya bagi semua bangsa.

Di dalam Kristus, batas-batas etnis dan nasional mulai terbuka. Injil tidak lagi hanya bergerak di dalam satu bangsa, tetapi menjangkau seluruh dunia. Orang Yahudi dan bukan Yahudi dipanggil untuk datang kepada Tuhan yang sama.

Karena itu, sikap orang percaya terhadap Israel pada zaman sekarang seharusnya penuh keseimbangan.

Kita tidak boleh mengultuskan Israel modern seolah-olah negara itu selalu benar dalam segala hal. Negara mana pun di dunia tetap terdiri dari manusia berdosa, termasuk Israel. Kebijakan politik, perang, dan keputusan nasional tidak otomatis memiliki otoritas ilahi.

Namun di sisi lain, kita juga tidak boleh membenci atau menolak keunikan Israel dalam sejarah penebusan manusia seperti yang dilakukan oleh mereka yang kurang memahami Alkitab. Melalui bangsa Israel Allah memilih untuk menyatakan diri-Nya dalam sejarah manusia. Mengabaikan peranan itu berarti kita juga melupakan bagaimana Allah bekerja dalam perjalanan keselamatan.

Sikap yang paling bijaksana adalah sikap yang penuh kerendahan hati. Kita mengakui kesetiaan Tuhan kepada Israel dalam sejarah. Kita bersyukur karena melalui bangsa itu Mesias datang ke dunia. Saat ini, kita tidak sepenuhnya tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi pada saat yang sama kita mengarahkan iman kita kepada Kristus, yang adalah pusat dari seluruh rencana Allah.

Pada akhirnya, harapan orang percaya tidak terletak pada kebangkitan satu bangsa, melainkan pada kerajaan Allah yang kekal. Kerajaan itu sedang dibangun oleh Kristus melalui Injil yang menjangkau segala suku, bahasa, dan bangsa.

Di situlah kita semua dipanggil untuk berdiri—bukan sebagai pengagung atau pembenci bangsa tertentu, tetapi sebagai umat yang memandang kepada Tuhan yang setia menepati janji-Nya.

Doa Penutup

Tuhan yang setia, kami bersyukur karena Engkau adalah Allah yang tidak pernah gagal menepati janji-Mu. Apa yang Engkau janjikan kepada umat-Mu dalam sejarah telah Engkau genapi dengan sempurna.

Kami bersyukur karena melalui bangsa Israel Engkau menyatakan firman-Mu, hukum-Mu, dan para nabi-Mu kepada dunia. Lebih dari itu, kami bersyukur karena melalui mereka Engkau menghadirkan Yesus Kristus, Juruselamat kami.

Tolong kami agar memiliki hati yang bijaksana dan rendah hati. Jauhkan kami dari sikap yang mengultuskan manusia atau bangsa mana pun. Tetapi juga jauhkan kami dari kebencian dan penghakiman yang tidak benar.

Ajar kami untuk melihat sejarah dengan mata iman, bahwa Engkau tetap bekerja dalam segala sesuatu menurut rencana-Mu yang besar. Teguhkan hati kami untuk selalu memandang kepada Kristus sebagai pusat pengharapan kami.

Biarlah hidup kami dipakai untuk menyatakan kasih dan keselamatan-Mu kepada semua orang, dari segala bangsa.

Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.

Amin.

Tinggalkan komentar