Antara Perang dan Damai

“Ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.” Pengkhotbah 3:8

Ketika kita membaca ayat ini, kita mungkin merasa sedikit terganggu. Mengapa Alkitab menyebut bahwa ada “waktu untuk perang”? Bukankah iman seharusnya selalu berbicara tentang damai?

Namun kitab Kitab Pengkhotbah bukanlah kitab yang penuh slogan rohani yang indah. Kitab ini justru sangat jujur melihat kehidupan manusia. Penulisnya mengamati dunia sebagaimana adanya—dunia yang indah tetapi juga rusak, dunia yang penuh sukacita tetapi juga penuh konflik.

Di dalam pasal 3, Pengkhotbah menyebutkan berbagai pasangan pengalaman hidup: lahir dan mati, menanam dan mencabut, menangis dan tertawa. Semua itu menunjukkan bahwa hidup manusia bergerak dalam berbagai musim yang tidak selalu kita kendalikan. Demikian juga dengan perang dan damai.

Sepanjang sejarah manusia, perang selalu muncul. Dari konflik kecil sampai peperangan besar antarbangsa. Bahkan sejak awal sejarah Alkitab, kekerasan sudah muncul ketika Kain membunuh saudaranya Habel dalam Kitab Kejadian 4. Sejak saat itu, dosa di dalam hati manusia terus melahirkan permusuhan, iri hati, dan kekerasan.

Ayat dalam Kitab Pengkhotbah 3:8 bukanlah perintah untuk berperang. Ayat ini adalah pengakuan realistis tentang dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Dalam dunia seperti ini, konflik tidak bisa dihindari sepenuhnya.

Tetapi Alkitab tidak berhenti pada realitas itu.

Para nabi Perjanjian Lama justru melihat ke depan kepada suatu masa ketika perang tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan manusia. Nabi Yesaya menggambarkan suatu masa ketika pedang ditempa menjadi mata bajak dan tombak menjadi pisau pemangkas. Itu adalah gambaran dunia yang dipulihkan oleh Tuhan.

Penggenapan arah itu terlihat dalam ajaran Yesus Kristus. Ia berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai.” Ia bahkan mengajarkan untuk mengasihi musuh. Ini adalah standar yang jauh lebih tinggi daripada sekadar menghindari perang.

Namun Yesus Kristus juga tidak menutup mata terhadap kenyataan dunia. Ia berkata bahwa manusia akan mendengar deru perang dan kabar tentang perang. Artinya, selama dunia masih berada di bawah bayang-bayang dosa, konflik kemungkinan akan terus muncul. Di sinilah orang percaya dipanggil untuk memiliki sikap hati yang berbeda.

Kita tidak boleh memuliakan perang. Kita juga tidak boleh membenci manusia yang berada di pihak lain. Perang mungkin terjadi dalam sejarah, tetapi kebencian tidak boleh menguasai hati kita.

Sebaliknya, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai di mana pun kita berada—di keluarga, di gereja, di masyarakat, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Dunia mungkin tidak selalu bisa menghindari konflik, tetapi hati orang percaya tetap dipanggil untuk mengejar damai.

Ayat dalam Kitab Pengkhotbah mengingatkan kita bahwa sejarah manusia bergerak melalui berbagai musim. Ada masa sulit, ada masa gelap, bahkan ada masa perang. Tetapi semua itu tidak berada di luar pengetahuan Tuhan.

Pada akhirnya, sejarah tidak ditentukan oleh peperangan manusia, melainkan oleh rencana Allah yang jauh lebih besar. Dan rencana itu bergerak menuju pemulihan, menuju damai yang sejati.

Hal terpenting yang dapat kita lakukan di masa perang adalah berdoa untuk kebijaksanaan yang saleh bagi para pemimpin kita, berdoa untuk keselamatan militer kita, berdoa untuk resolusi cepat untuk konflik, dan berdoa untuk korban minimum di antara warga sipil di kedua belah pihak.

Sementara kita masih hidup di dunia ini, kita menantikan hari ketika damai Tuhan akan menjadi kenyataan penuh bagi seluruh ciptaan.

Doa Penutup

Tuhan yang berdaulat atas sejarah,

Engkau melihat dunia yang sering dipenuhi konflik dan pertentangan. Ampuni kami ketika hati kami juga mudah dipenuhi kemarahan dan kebencian.

Ajarlah kami untuk menjadi pembawa damai di mana pun Engkau menempatkan kami. Berikan kami kerendahan hati untuk tidak cepat menghakimi, dan kasih untuk tetap melihat sesama manusia sebagai ciptaan-Mu.

Di tengah dunia yang sering bergolak, tuntunlah kami untuk tetap berharap kepada rencana-Mu yang lebih besar. Kami percaya bahwa pada akhirnya Engkaulah yang akan membawa damai yang sejati bagi dunia ini.

Di dalam nama Yesus Kristus kami berdoa.

Amin.

Tinggalkan komentar