Apakah Umur Bumi Penghancur Iman?

“Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.” Kejadian 1:3–5

Di zaman modern ini, tidak jarang iman Kristen dianggap bertentangan dengan sains. Salah satu alasan yang sering disebut adalah pandangan Young Earth Creationism (YEC)—keyakinan bahwa bumi diciptakan sekitar enam sampai sepuluh ribu tahun yang lalu dalam enam hari literal.

Banyak orang Kristen memegang pandangan ini karena ingin setia pada Alkitab. Mereka membaca kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian secara sangat literal dan menganggap bahwa itulah cara paling setia memahami firman Tuhan. Namun reaksi dari banyak orang di luar kekristenan sering kali sangat keras. Bagi mereka, YEC dianggap bukti bahwa iman Kristen anti-sains atau tidak rasional. Tidak jarang pandangan ini dipakai sebagai senjata untuk menyerang iman Kristen secara keseluruhan.

Namun tidak semua orang Kristen memahami teks ini dengan cara yang sama. Banyak teolog Injili yang tetap percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah yang berotoritas, tetapi mereka juga melihat bahwa Alkitab tidak selalu dimaksudkan untuk menjelaskan detail ilmiah tentang alam semesta. Alkitab bukan buku sains. Dalam pandangan ini, tujuan utama kisah penciptaan dalam Alkitab bukanlah memberikan laporan sains, melainkan menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu.

Kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian dimulai dengan pernyataan yang sangat sederhana namun agung: Allah berfirman, dan segala sesuatu menjadi ada. Terang muncul bukan karena proses alam yang kebetulan, tetapi karena firman Allah yang berkuasa. Pesan teologisnya sangat jelas: dunia ini bukan hasil kekacauan tanpa tujuan. Dunia ini diciptakan oleh Allah yang berdaulat, dan ciptaan-Nya itu baik.

Sayang, sering kali perdebatan itu berhenti di situ. Orang langsung menyimpulkan bahwa jika pandangan YEC tidak dapat dipertahankan secara ilmiah, maka iman Kristen juga runtuh. Padahal kesimpulan seperti itu sebenarnya terlalu sederhana.

Di dalam kekristenan sendiri ada berbagai pandangan tentang bagaimana memahami hari-hari penciptaan. Banyak teolog yang tetap memegang otoritas Alkitab, tetapi tidak menganggap bahwa kata “hari” harus selalu berarti dua puluh empat jam. Karena itu ada orang Kristen yang percaya bahwa bumi dan alam semesta mungkin sangat tua. Menurut pandangan Old Earth Creationism (OEC) bumi diciptakan jutaan tahun yang lalu.

Adanya perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa umur bumi bukanlah pusat iman Kristen.

Pertanyaan yang jauh lebih mendasar justru jarang dibahas dalam perdebatan itu.

Pertanyaan pertama adalah: Apakah ada yang menciptakan alam semesta?

Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan banyak hal tentang bagaimana alam bekerja. Para ilmuwan dapat meneliti galaksi, mempelajari bintang, dan memahami proses-proses alam yang kompleks. Namun sains tidak dapat menjawab pertanyaan paling dasar: mengapa alam semesta ini ada, sekalipun segala sesuatu di dunia pasti ada pembuatnya,

Alkitab memberikan jawaban yang sederhana namun sangat mendalam. Dunia ini ada karena Allah berfirman. Dengan firman-Nya terang muncul, dan dari sana seluruh tatanan ciptaan mulai terbentuk.

Pertanyaan kedua yang tidak kalah penting adalah: Mengapa alam semesta berjalan dengan begitu teratur?

Planet-planet bergerak dalam orbit yang teratur. Hukum-hukum fisika bekerja dengan konsisten. Dari gerakan galaksi hingga hukum fisika yang paling kecil, seluruh kosmos menunjukkan keteraturan yang luar biasa. Banyak orang menganggap keteraturan ini sebagai sesuatu yang biasa saja. Sebagian percaya bahwa semua itu ada dari mulanya tanpa ada yang menetapkan atau mengatur. Namun jika dipikirkan dengan sungguh-sungguh, keteraturan ini justru merupakan sebuah misteri besar.

  • Mengapa alam semesta memiliki hukum yang stabil?
  • Mengapa kosmos tidak berjalan secara acak tanpa pola?
  • Mengapa hukum-hukum alsm dapat dipahami oleh akal manusia?

Bagi iman Kristen, keteraturan ini bukanlah kebetulan. Keteraturan itu mencerminkan hikmat Sang Pencipta yang memelihara ciptaan-Nya. Alkitab tidak hanya menyatakan bahwa Allah menciptakan seisi alam semesta ex nihilo (dari tidak ada menjadi ada), tetapi juga bahwa Ia memeliharanya setiap saat.

Tanpa pemeliharaan Tuhan, alam semesta tidak akan tetap berdiri. Karena itu bagi orang percaya, mempelajari sains bukanlah ancaman bagi iman. Justru sebaliknya, semakin manusia memahami alam semesta, semakin ia melihat betapa luar biasanya karya Sang Pencipta.

Teologi Kristen klasik sejak lama menegaskan bahwa Allah adalah penyebab pertama (first cause) dari segala sesuatu yang ada. Penjelasan filsafat yang terkenal tentang hal ini dapat ditemukan dalam pemikiran Thomas Aquinas.

Ia menjelaskan bahwa dalam dunia ini ada banyak penyebab sekunder (secondary causes)—yaitu proses dan peristiwa yang saling memengaruhi. Namun semua itu pada akhirnya bergantung pada Penyebab Pertama, yaitu Allah.

Dengan kata lain:

Allah → sumber utama keberadaan segala sesuatu

Proses alam → cara atau sarana melalui mana ciptaan berlangsung

Pandangan ini memungkinkan orang percaya mengakui kedaulatan Allah sekaligus keteraturan alam yang dipelajari oleh sains.

Tujuan utama sains bukanlah untuk mencoba menjawab mengapa alam semesta ada, melainkan bagaimana alam semesta bekerja. Sains meneliti mekanisme, hukum, dan proses yang terjadi dalam ciptaan.

Banyak aliran Kristen termasuk Katolik dan sebagian Protestan, melihat teori Big Bang sesuai dengan iman, dan terkadang menafsirkan momen “Jadilah terang” (Kejadian 1:3) sebagai awal, ekspansi galaksi yang diprakarsai Tuhan.

Menariknya, banyak ilmuwan besar justru adalah orang Kristen yang melihat penelitian ilmiah sebagai cara memahami karya Allah. Salah satu contohnya adalah Johannes Kepler, yang pernah mengatakan bahwa penelitian ilmiah adalah “memikirkan pikiran Allah setelah memikirkan Dia.”

Pada akhirnya, perdebatan tentang umur bumi tidak boleh membuat kita kehilangan fokus pada pertanyaan yang paling penting: dari mana semua ini berasal dan siapa yang menopangnya.

Kisah penciptaan mengingatkan kita bahwa di balik terang pertama yang muncul di dunia ini, ada suara Allah yang berfirman. Karena itu, iman Kristen tidak bergantung pada umur bumi, tetapi pada Oknum yang menciptakannya. Dan suara Oknum itu masih memanggil manusia sampai hari ini untuk mengenal Dia sebagai Pencipta dan Tuhan.

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.”

Doa Penutup

Tuhan Pencipta langit dan bumi, bukalah mata kami untuk melihat kebesaran-Mu dalam seluruh ciptaan. Tolong kami memiliki iman yang rendah hati dan hikmat untuk memahami karya-Mu. Biarlah hidup kami memuliakan Engkau yang menciptakan dan memelihara segala sesuatu. Amin.

Tinggalkan komentar